AdnPreneur

Mukadimah Sulthon Penanggungan April 2019

Di abad 21 ini kebanyakan makhluk di bumi lupa bahwa seluruh kehidupan ini adalah milik Allah. Kehidupan di muka bumi sedang berlangsung pada level yang paling materialistik, artifisial dan animasial. Spotlight di panggung dunia, menyoroti output dan outcome dari puncak-puncak invensi dan inovasi teknologi pada politik dan kebudayaan.

Semua manusia sepakat, bahwa target mereka dalam setiap usaha yang mereka lakukan adalah meraih kesuksesan, mendapat untung dan terhindar dari kerugiaan.

Namun ionisnya, kebanyakan manusia hanya menerapkan hal ini dalam usaha dan urusan yang bersifat duniawi belaka.

Manusia telah diberikan bekal dari Allah berupa akal, penglihatan, pendengaran, hati dan panca indera. Semua itu dapat berkembang menjadi potensi-potensi pengetahuan, keterampilan dan sikap.

Kesemuanya diberikan oleh Allah agar manusia bisa berkarya untuk mencari bekal kehidupan.

Dunia memang sangat berarti bagi manusia, karena merupakan ladang menuju akhirat, yaitu tempat menanam, serta tempat investasi. Banyak orang yang tergoda, bahkan lalai, mabuk dengannya, sampai meninggalkan kewajiban-kewajiban yang harus ia kerjakan.

Begitu juga pejabat yang tersihir oleh gemerlap dunia sampai ia lupa tanggung jawabnya terhadap atasan maupun bawahannya. Ulama pun ada yang terlena akan kemegahan dunia sampai berani menjual identitas dirinya sebagai penuntun umat, itulah dunia selalu merayu siapapun yang silau dengannya.

Al-Qur`an memberi peringatan bahwa akhirat itu sangat penting, begitu juga urusan dunia tak kalah pentingnya, tinggal kita mampu menyesuaikan serta mengkombinasikan agar urusan dunia dan akhirat berjalan bersamaan.

Maka beruntunglah orang yang selalu ingat tujuan hidupnya, ia selalu waspada dan mengarahkan dunianya untuk akhirat, sehingga kesempatan hidup di dunia ini dipergunakan secara maksimal.

Dalam Al-Qur`an disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Ash-Shaff: 10-12).

Hakikat kehidupan manusia adalah berusaha untuk pulang ke tempat asalnya, yaitu surga. Allah menjadikan amalan-amalan (shalih) tersebut kedudukannya seperti ‘perniagaan’, karena orang-orang yang melakukannya akan meraih keuntungan (besar) sebagaimana mereka meraih keuntungan dalam perniagaan (duniawi), keuntungan (besar) itu adalah masuknya mereka ke dalam surga dan selamat dari (siksa) neraka.

Bayi berusaha berhijrah dari rahim ibunya untuk berjihad di dunia. Ketika kelak ia berusaha dengan menggunakan akalnya, ia adalah pengusaha. Dalam dunia sekarang, seorang pengusaha disebut sebagai Entrepreneur.

Kata “entrepreneur” berasal dari bahasa Perancis, “entre” berarti antara dan “prendre” berarti mengambil.

Dengan kata lain dapat dikatakan Entrepreneur adalah Orang yang berani mengambil risiko dan memulai sesuatu yang baru. Entrepreneur adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk melihat dan mengevaluasi peluang bisnis, memperoleh sumber daya yang diperlukan untuk mengambil keunggulan darinya dan berinisiatif mengambil tindakan yang tepat untuk menjamin sukses.

Pada hakikatnya, setiap diri adalah Pengusaha Kebahagiaan Surga, dengan dunia sebagai tempat workshop, outbond, pelatihan dan uji coba. Setiap individu adalah seorang yang berusaha atau berniaga dengan Allah untuk sukses meraih janji Allah, yaitu surga ‘Adn. Dalam tafsir Thabari disebutkan bahwa surga ‘Adn adalah negeri Allah yang Dia istimewakan untuk “Dirinya” dan untuk makhluk-Nya yang Dia kehendaki. Diambil dari kalimat orang arab; ‘Adana Fulan bi Ardhin Kadza’ artinya menempatkan si fulan di daerah tersebut dan menyuruhnya tinggal di sana.

Dalam dunia entrepreneur terdapat istilah ‘Edupreneur’. Edupreneur berasal dari dua kata yaitu education yang bermakna pendidikan dan entrepreneur bermakna pengusaha atau wirausahawan. Edupreneur adalah wiraswasta di bidang pendidikan; seseorang yang mengatur dan menjalankan bisnis atau bisnis (memperbaiki atau memajukan pendidikan), mengambil risiko lebih besar dari biasanya untuk melakukannya.

Maka, seorang Pengusaha Kebahagiaan Surga dapat disebut juga dengan istilah ‘AdnPreneur’.

Bagaimana kriteria seseorang yang bisa disebut sebagai AdnPreneur?

Apa saja ciri-ciri seorang AdnPreneur?

Apa yang harus dilakukan untuk menjadi AdnPreneur?

Untuk itu, mari kita melingkar bersama Jamaah Maiyah Sulthon Penanggungan Pasuruan untuk mengupas lebih dalam lagi tentang AdnPreneur pada hari Sabtu tanggal 27 April 2019 jam 20:00 WIB di Bakso KAMEHA, Purwosari Pasuruan.

Buku Cak Nun