34 Tahun Pasca Horizonte-Festivals di Berlin Barat

Sebulan lalu tak sengaja saya mencoba mengulik nama Mbah Nun dalam Cakrawala Google Berbahasa Jerman. Tak dinyana sebuah media press terkenal di Jerman tertanggal 28 Juni 1985 pernah memuatnya. Saya sendiri berdecak kagum dalam hati akan bagusnya arsip mereka. Media koran versi cetak dan digital itu bernama Zeit. Karl Heinz Ludwig, sang penulis memberinya judul Fern-Ost in Berlin-West: Mauern und Brücken atau yang kurang lebih artinya Timur Jauh (Negara-negara Asia – pen) di Berlin Barat: Tembok dan Jembatan. Kala itu memang kota Berlin dan juga negara Jerman masih terbagi menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur yang dibatasi dengan gagah berdirinya Tembok Berlin. Baru kemudian pada 3 Oktober 1990 mereka bersatu menjadi Bundesrepublik Deutschland (Republik Federasi Jerman).

Cak Nun pernah mengunjungi kota ini pada tahun 1985.
Cak Nun pernah mengunjungi kota ini pada tahun 1985.

Karl menulis dalam kalimat pemantiknya, Potret literatur-literatur di China, Jepang, Korea dan sebuah kejutan-dari Indonesia. Dengan penjelasan tambahan bahwa mereka (Indonesia) menawarkan sebenar-benarnya kejutan yang selama ini tak pernah dinyana oleh orang Jerman. Sepertinya penulis cukup terkejut ada literatur Indonesia yang sudah masyhur di dunia Internasional dan mengikuti perhelatan besar Festival itu. Bertempat di Berliner Staatsbibliothek tertanggal 17 hingga 23 Juni 1985 acara besar itu berlangsung.

So bleiben als wohl wichtigster Beitrag des Berliner Symposions zur Erweiterung unseres literarischen Horizonts in Richtung Fernost die Veranstaltungen zur Literatur Indonesiens: Sie boten die eigentliche Überraschung.  W. F. Rendra, Emha Ainun Nadjib und Putu Wijaya, von denen bislang nichts auf deutsch vorliegt, trugen, anknüpfend an die uralten Traditionen der Geschichtenerzähler und des Volkstheaters ihrer Heimat, ihre modernen Gedichte und Erzählungen vor. Ihre Texte machten auf erschreckende Weise deutlich, daß Indonesien kein Land ist, in dem sich die Menschenrechte besonderer Achtung erfreuen. Pramoedya Ananta Toer beispielsweise, der bedeutendste zeitgenössische Autor Indonesiens, aus dessen Roman “Bumi Manusia – Garten der Menschheit” (Express Edition, 1984) Günter Grass in Berlin vorlas, verbrachte 15 Jahre auf der berüchtigten Gefangeneninsel Buru, ohne daß ihm ein Prozeß gemacht worden wäre. Dennoch: Auf der Berliner Mauer beim Martin-Gropius-Bau steht:No wall can stand forever”.

Jejak Langkah Mbah Nun, W.S. Rendra, Putu Wijaya dan Pramoedya Ananta Toer dengan Buku, Puisi Modern, Teater Rakyat, dan Cerita Budayanya menyuarakan kepada dunia barat saat itu bahwa Indonesia masih dalam kondisi yang tak baik, terutama di bawah kungkungan rezim.

Waktu telah sekian purnama berputar, presiden demi presiden silih waktu juga telah berganti. Namun keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia masih menjadi mimpi agung di Negeri Penggalan surga, Negeri Khatulistiwa Indonesia. Pergerakan pada setiap masa terus hadir mewarnai Tanah Air. Dari sebentuk esai, tulisan, drama pertunjukan, orasi, demonstrasi, bahkan reformasi. Namun semua itu belum bisa menjawab amanat UUD RI 1945 atas fungsi dan guna adanya sebuah Negara.

Termasuk kita mungkin masih kebingungan membedakan mana Pemerintah dan mana Negara. Juga Bangsa Indonesia bukanlah negara yang lahir tahun 1945, namun jauh sebelum itu perjuangan beratus-ratus tahun telah terjadi untuk bisa berdaulat sebagai diri, komunitas ataupun di ranah yang lebih luas lagi.

Panjang Umur Persahabatan

Salah satu episode kehidupan yang harus dilakoni Mbah Nun muda yang saat itu masih berusia 32 tahun ialah “menggelandang” di Jerman dan Belanda tersebab tiada dana untuk kembali ke tanah air, dan juga mendapatkan beasiswa untuk mengajar di sana. Di antara waktu itu Mbah Nun juga sering menginap di rumah Pak Pipit Rochijat Kartawidjaja mulai pertengahan tahun 1984 di Berlin.

Sebelumnya pertemuan dua sahabat ini pun ternyata berlangsung di Belanda secara tidak sengaja di rumah Bang Adnan Buyung Nasution. Bang Buyung kala itu sedang menulis disertasi dan menyewa rumah di Utrecht dan kebetulan sedang mengundang rombongan dari Indonesia yang diantaranya ada Mbah Nun di dalamnya. Hubungan semakin erat kala Pak Pipit yang saat itu merupakan aktivis Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Berlin Barat dan Mbah Nun tertarik dengan kegiatan teman-teman PPI disana. Rumah Pak Pipit sendiri saat itu sering dijadikan markas oleh mahasiswa Indonesia selain karena ukuran ruangan yang besar, mesin fotokopi juga tersedia untuk dipakai bersama.

Keprihatinan akan kondisi Indonesia saat itu dan harapan mendalam akan Indonesia yang lebih baik menjadi napas juang bersama dua sahabat ini bahkan hingga hari ini. Pak Pipit sempat pula mengungkapkan ketika beliau mengikuti diskusi-diskusi Maiyah selalu mengingatkannya akan kegiatan-kegiatan PPI di jaman dulu.

Meski sempat terputus kontak pada musim panas 2016, Alhamdulillah saya bisa bertemu Pak Pipit dan menyampaikan salam dari Mbah Nun. Sejak saat itu hubungan tersambung kembali. Dan yang lebih menggembirakan, Mas Aditya yang saat itu masih studi Master di Hannover, bersama teman-teman PPI dan perkumpulan alumni Gontor di Eropa mendatangkan Mbah Nun dan Mbak Via bulan Desember 2016 untuk Maiyahan di beberapa kota di negara Eropa seperti Belanda, Belgia dan Jerman.

Maka kesempatan emas ini pun tak boleh dilewatkan begitu saja untuk menghimpun balung pisah sedulur-sedulur Maiyah di Eropa, yang kemudian menyusul bergabung sedulur dari Inggris, Austria dan Turki.

Herzlich Willkommen MAFAZA

Tiga tahun sudah grup whatsapp bawah tanah Maiyah Eropa berhimpun. Sekian kali pula Cak Nun bertandang ke tanah Eropa baik sendiri maupun bersama KiaiKanjeng. Mungkin memang waktunya sudah tiba, Mas Karim yang sedang meriset tema Maiyah di salah satu kampus di Amsterdam, Belanda pada bulan Juni 2019 mengusulkan untuk meminta nama untuk kumpulan dulur-dulur Maiyah Eropa kepada Mbah Nun. Karena kebetulan bertepatan dengan jadwal liburan dan mudik saya maka terdapuklah saya untuk memintakan nama. Dan tentu tak disiakanlah momen sebulan selama berada di Indonesia untuk meminta nama kepada Mbah Nun, sebuah nama yang akan mengukirkan berbagai cerita di Tanah Eropa ini nantinya.

Sebelumnya dulur-dulur grup sudah mengusulkan nama seperti Mas Karim dengan Berlina Rotterdama yang mengandung filsafat (dari asal maing-masing kata) meniti atau menempuh perjalanan dengan Limousin (Berlin: a four-wheeled carriage) menuju muara sungai (Rotterdam) kesejatian, surgawi, dll (surga: mengalir di bawahnya sungai-sungai). Secara historis, dua kota ini juga sangat penting dalam perjalanan dan penggelandangan Mbah Nun di Eropa (Festival Penyair Internasional di Rotterdam (1984), Festival Horizonte II, di Berlin Barat, Jerman Barat (1985). Penambahan –a di belakang setiap kata hanya untuk keperluan estetika, tetapi juga bisa dimaknai memfeminimkan (mangku, ngaluske, Barat diruwat) karakter maskulin kedua kata tersebut.

Indonesisch-moslemische Gemeinde in Frankfurt & Umgebung e.V.
Indonesisch-moslemische Gemeinde in Frankfurt & Umgebung e.V.

Ada pula Mas Aditya dengan Surjan jagat, Surjan adalah pakaian. Yang membawamu memiliki martabat. Pun Surjan juga diambil dari kata “sirojan munira” sebuah pelita gintang gemintang. Sedang jagat adalah semesta. Ia tak mesti bumi tapi apapun yang melingkupi dan berinteraksi denganmu adalah semesta. Semesta bisa ada di luar mu, atau engkau temukan dalam jiwamu sendiri. Maka Maiyah eropa sejatinya seorang pejalan (yang mengelilingi jagat) dan mempunyai niat untuk urunan kepada sekitar. Jika jagat nya mulai kehilangan malu, ia angkat martabatnya, jika jagatnya diliputi gelap, pelita yang ia bawa mampu sekedar berbagi cahaya.

Serta Mas Yopi dengan Maiyah Circulus Luminis. Nama “Maiyah Circulus Luminis” merefleksikan beberapa aspek yang erat kaitannya dengan Maiyah dan dunia Eropa, atau dunia Barat pada umumnya. Bahasa Latin yang digunakan sebagai “bungkus” dari nama untuk simpul Maiyah di Eropa merupakan akar dari banyak bahasa di Barat yang kemudian diserap ke dalam bahasa-bahasa tersebut, dengan perubahan-perubahan bentuk sesuai kekhasan bahasa di masing-masing bangsa, namun tidak kehilangan makna dan tetap bisa ditemukan garis merahnya. Ini menggambarkan bagaimana jamaah Maiyah bisa menjelma menjadi entitas yang menyatu dengan bangsa di mana dia berada, tanpa kehilangan identitas dan ruh. Jamaah Maiyah mengerti hal-hal apa saja yang perlu untuk diakulturasikan dan hal-hal apa saja yang merupakan prinsip yang tidak bisa dikompromikan.

“Circulus Luminis” yang berarti “Lingkaran Cahaya” menggambarkan fenomena alam “Halo”. “Halo” terjadi sebagai akibat dari cahaya matahari atau bulan yang direfleksikan oleh kristal es di udara sehingga pada bentuk kristal tertentu, efek yang ditimbulkan adalah cincin bercahaya yang mengitari satu sumber cahaya. Ini menggambarkan bagaimana cahaya Allah akan menyentuh makhluk-makhluk pilihan-Nya yang senantiasa melingkar dekat dengan Allah, dan menjadikan makhluk tersebut juga bercahaya dalam formasi yang memusat pada Allah sebagai sumber cahaya.

Formasi melingkar tentu adalah ciri khas dari Maiyah, dan insyaAllah jamaah Maiyah termasuk makhluk pilihan-Nya yang meneruskan cahaya-Nya kepada entitas-entitas yang ada di sekitarnya, menjadi “sumber” cahaya bagi kegelapan di sekitarnya. Fenomena “Halo” sudah disebutkan dalam catatan sejarah sejak jaman Aristoteles. Tidak bisa dipungkiri bahwa bangsa Eropa/Barat sejak lama adalah bangsa yang erat hubungannya dengan dunia ilmu pengetahuan atau “science”. Tentu ini adalah nilai yang sejalan dengan ruh Islam bahwa manusia diperintahkan oleh Allah untuk “membaca” alam semesta, dan semestinya menjadi ciri khas umat Islam dari golongan atau bangsa manapun.

Karena salah satu ciri khas Maiyah adalah keseimbangan peran akal dan hati, maka keberadaan jamaah Maiyah di dunia barat selayaknya dibarengi dengan semangat untuk menggali kekayaan alam semesta sebagai mana bangsa Eropa/Barat, namun tidak sebatas “for the sake of science itself”, melainkan untuk memenuhi fitrah manusia yang dengan pengetahuannya bisa mengenali, siapa sutradara dari seluruh adegan di alam semesta dan lebih jauh lagi menimbulkan rasa kagum, takut serta penghambaan kepada zat yang memformulasikan fenomena-fenomena tersebut.

17 Juli 2019, sehari setelah tiba di Magelang dan setelah lebih dari satu tahun tidak mengendarai sepeda motor apalagi di malam hari, perlahan motor saya pun mulai terparkirkan di halaman TKIT Alhamdulillah, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Malam dimana jiwa-jiwa yang rindu berkumpul hingga menjelang subuh dalam momen Mocopat Syafaat. Teras tempat jujugan pertama sejak 2015 lalu diperjalankan Maiyahan disana. Tak lama berselang, Mbah Nun sudah hadir di transit, tidak sampai 10 menit, apa yang menjadi niat paseduluran teman-teman di Maiyah Eropa sudah tersampaikan kepada beliau.

Tepat pukul 09:09 pagi pada tanggal 2 Agustus 2019 saat saya sedang berada di atas bus menuju Wonosobo pesan Whatsapp muncul dari Mas Gandhie yang berisi sebuah nama yang sudah diberikan oleh Mbah Nun, dialah MAFAZA. 34 tahun pasca Mbah Nun menyemarakkan Horizonte Festivals lahirlah bayi mungil Simpul Maiyah di Benua Biru, Bumi Tuhan di tanah Eropa. Penggalan nama ini terinspirasi dari Al-Qur´an surah pertama pada juz 30 yakni An-Naba (Berita Besar) ayat 31. Niscaya orang-orang yang bertakwa memperoleh kemenangan.

Herzlich willkommen MAFAZA, semoga berkah untuk generasi hari ini ataupun beberapa generasi yang akan dilahirkan di masa depan. Selamat berhimpun, selamat memancar dalam rangka menjaga keseimbangan.

19 Oktober 2019
Albstadt, Jerman

Buku Cak Nun Majalah Sabana