Yang Terpanggil dan Yang Terprovokasi

Reportase Majelis Maiyah Gambang Syafaat, 25 Juli 2018

Kilatan cahaya flash kamera bersahut-sahutan kala Mas Sabrang dengan diiringi Wakijo lan Sedulur mendendangkan Ruang Rindu. Pemandangan handphone-handphone terangkat terhampar di Aula Masjid Baiturahman, Semarang. Malam semakin larut tapi suasana bertambah seru. Di pamflet acara tidak tertulis kalau Mas Sabrang bakal menyanyi. Bahkan Mas Sabrang sendiri tidak menyangka malam itu kebagian jatah menyanyi.

Kejadian berlangsung secara tiba-tiba. Mas Sabrang sedang ngobrol intim dengan Habib Anis. Tiba-tiba Wakijo yang kebagian memainkan satu nomor lagu untuk menjeda suasana agar tidak terlalu serius, meminta secara mendadak kepada personilnya untuk memainkan lagu Ruang Rindu. Dan, peristiwa yang terjadi Mas Sabrang langsung tampak kaget ketika suara Wakijo berucap “di daun yang ikut mengalir lembut….”

Tepuk tangan langsung membahana. Mas Sabrang yang memang tidak terjadwal sebagai penyanyi di malam itu tidak bisa menolak permintaan jamaah yang dari raut mukanya seperti memintanya menyanyi. Maka malam itu satu lagu dari Letto, Ruang Rindu, dinyanyikan oleh Mas Sabrang dan Wakijo lan Sedulur.

Malam itu (25/07/2018) pelataran aula masjid banyak dipadati anak muda. Jumlah jamaah perempuan tidak sebanyak seperti biasanya. Bisa jadi kedatangan Mas Sabrang di Gambang Syafaat saat ini menjadi alasan mereka ikut Maiyahan. Tentu itu boleh-boleh saja. Dan, tidak ada orang yang menyalahkan. Ada banyak alasan orang mengikuti Maiyah. Ada banyak cara orang tersentuh Maiyah. Salah satunya adalah lewat kekaguman anak-anak muda pada lagu-lagu Letto.

Mungkin kedatangan banyak anak muda di malam itu untuk menunggu Mas Sabrang bernyanyi. Dugaan ini ada benarnya meski tidak bisa dipukul rata. Sebab, ketika Ruang Rindu selesai dinyanyikan pemandangan agak ganjil terjadi. Berdoyong-doyong anak-anak muda berangkat dari tempat duduknya untuk menuju tempat parkir. Satu per satu jamaah pamit pulang meski acara masih berjalan. Barangkali mereka sudah puas melihat Mas Sabrang menyanyi dan merasa tidak perlu lagi menyimak penjabaran dari pengisi lain.

Mereka yang pulang duluan itu bisa dikatakan datang berkat provokasi. Salah satu strategi agar sebuah acara didatangi banyak orang adalah pamflet atau poster dibuat dengan tampilan yang provokatif. Di Gambang Syafaat, provokasi itu berupa satu nama Sabrang Mawa Damar Panuluh. Pencatuman nama ini memang tidak dimaksudkan untuk memprovokasi meski yang datang merasa terprovokasi.

Nah, pemandangan orang-orang yang terprovokasi tampak jelas di pertemuan Gambang Syafaat bulan ini. Kejadian itu pun mengingatkan kita pada tema malam ini: ”Keterpanggilan.” Orang yang terpanggil berbeda dengan yang terprovokasi. Mereka yang terpanggil, datang tanpa diminta dan tidak merasa rugi jika yang didapatkan tidak sesuai yang dibayangkan. Sedangkan mereka yang terprovokasi datang karena ada pamrih untuk menuntaskan keinginannya. Entah sekadar bertemu seorang idola atau yang lainnya.

Hampir setiap bulan Gambang Syafaat menyelenggarakan acara selalu ada pertanyaan dari jamaah. ”Mbah Nun hadir gak?” atau ”Mas Sabrang hadir gak”. Pertanyaan itu tidak bisa redam. Meski berulang kali sudah dikatakan bahwa kedatangan Mbah Nun dan Mas Sabrang bisa sewaktu-waktu terjadi dan tidak bisa dipastikan.

Tema Gambang Syafaat kali ini dipersembahkan secara khusus kepada jamaah yang pada malam itu tetap berdiam di tempat duduknya setelah Mas Sabrang bernyanyi dan selalu hadir di Gambang Syafaat tanpa peduli ada dan tiada Mbah Nun membersamai langsung jamaah. Mereka datang memenuhi panggilan ber-Maiyah.

Maiyah mengajarkan pertemuan Sinau Bareng dilakukan atas dasar panggilan hati, tidak atas dasar kehadiran sosok figur tertentu. Itu sudah terlihat dari pamflet yang tidak pernah menuliskan nama pengisi dan keterangan ”terbuka untuk umum”. Maiyah boleh didatangi siapa saja. Mereka yang bisa secara rutin melingkar di Maiyah setiap bulan adalah orang yang terpanggil tanpa suara-suara keras. Ini bentuk penghargaan kepada jamaah-jamaah yang telah mengalami seperti judul pertemuan kali ini: ”Evolusi Kepekaan.”

Ada sedikit perbedaan di bulan ini. Kalau pada bulan-bulan yang lalu kita sering menganggap tema sebagai judul. Pada bulan ini, tema dan judul berbeda. Temanya ”Keterpanggilan”, judulnya ”Evolusi Kepekaan.” Ini menyambung apa yang terjadi di Gambang Syafaat barusan. Bahwa kita bisa setiap pertemuan di Maiyah selalu ada jamaah yang baru memulai evolusi dan ada yang sudah mencapai puncak evolusi. Mereka yang datang ke Maiyah karena provokasi bisa diartikan baru memulai proses evolusi kepekaan. Sebab, mereka datang berkat terprovokasi kehadiran figur-figur yang mereka anggap terkenal. Seandainya kalau tiada figur tertentu mereka tidak datang. Berbeda dengan mereka yang terpanggil. Mereka datang karena rindu dengan suasana penuh tebar cinta kepada sesama manusia dan nabi Muhammad Saw adalah jamaah yang sudah mencapai puncak evolusi.

Ibarat ketika kita sedang mengendari motor, kata Mas Sabrang, sebagus apa pun motor yang kita kendarai dan secepat apa pun motor kita. Kita akan berhenti ketika melihat lampu merah. Di situ ada empat evolusi kepekaan. Ada empat yang menyebabkan Anda harus berhenti. Pertama, karena keputusannmu untuk berhenti. Kedua, pengalamannmu yang pernah berjumpa lampu merah. Ketiga, kendaraanmu. Keempat, lampu merah itu sendiri.

”Di Jawa, empat tahapan itu memiliki nama yang berbeda. Pertama, akal atau yang dinamakan budi. Ini menentukan keputusan. Kedua, personalitas atau angkara. Ini tahapan kita memercayai sesuatu atau tidak. Ketiga, manas. Inggatan yang menempel di badan. Seperti bentuk hidungmu itu mengingatkan pada siapa leluhurmu dulu. Dan yang keempat cita. Sesuatu yang di luar dirimu. Atau peraturan yang di luar dirimu. Ini seperti lampu merah,” ungkap Sabrang.

Mengapa kita bisa berhenti di lampu merah, padahal kita bisa ngegas, bisa menjalankan kendaraan sendiri. Tapi mengapa harus berhenti. Karena kita tahu di situ ada peraturan di lampu merah. Dan, cita adalah kesadaran akan adanya peraturan Allah yang berjalan. Konsep cita terwujud dalam lampu merah. Dan Mbah Nun, menurut Mas Sabrang, sekarang berada di posisi cita. Itu yang menyebabkan Mbah Nun bisa berpikir jernih. Karena yang beliau lihat adalah peraturan yang berjalan.

Mas Sabrang menjelaskan tahapan-tahapan evolusi kepekaan dengan istilah-istilah yang baru pertama kali didengar oleh jamaah. Beliau menjelaskan evolusi dengan kosmologi Jawa. Dalam arti sederhana, Jawa telah memiliki penyebutan untuk setiap proses kita menjadi lebih baik. Setiap proses itu memiliki nama dan makna sendiri. Kita tinggal mengaitkannya saja.

Sadar durasi bicara tidak panjang. Mas Sabrang fokus berbicara pada empat evolusi kepekaan itu. Habib Anis yang juga hadir langsung menyambung penjabaran Mas Sabrang. Ada yang berbeda dari penjabaran Habib Anis. Bahkan secara terang-terangan Habib Anis berkata, ”Saya tidak setuju dengan istilah evolusi.” Ketidaksetujuan Habib Anis tidak menimbulkan suasana kebersamaan menjadi tidak harmonis. Sebab, di Gambang Syafaat ketidaksetujuan antar pendapat membuktikan sinau bareng sedang berjalan.

Habib Anis melanjutkan, ”Yang tepat itu taubat, bukan evolusi. Taubat itu kembali pada trek semula.” Habib Anis mengatakan beliau tidak setuju dengan istilah evolusi karena kita mendefinisikannya jalan dari buruk menuju baik. ”Kapan kita menjadi buruk ke baik? Justru kita menjadi baik ke buruk. Dari Ahsani Taqwim ke Asfala Safilin.”

”Agama memberi ruang bertumbuh termus-menerus.” Maka dari itu pesan Habib Anis, ”Yang kita pegang, jangan percaya siapapun dan apa pun kecuali Allah.”

Penjabaran dari Habib Anis bisa kita jadikan kesimpulan. Tidak ada evolusi hari ini. Yang ada adalah taubat dan menyadari kepayahan diri sendiri. Gambang Syafaat edisi Juli berakhir dengan keguyuban jamaah-jamaah yang terpanggil dan yang terprovokasi.