Wedang Uwuh (60)

Yang Termahal dalam Kehidupan

Kedaulatan Rakyat, 9 Januari 2018

Kalau mau tahu persis apa makna syair “Sluku-sluku Bathok”, jalannya hanya satu: mewawancarai langsung Kanjeng Sunan Kalijogo. Itu pun benar tidaknya Kanjeng Kalijogo yang menciptakannya, hanyalah kesepakatan banyak penafsir. Sebagaimana “Ilir-ilir”, bisa saja karya Sunan Bonang atau malah Sunan Ampel sendiri. Atau bisa jadi bukan siapapun di antara para Auliya Sembilan.

Kita harus melakukan time tunneling, menerobos waktu hingga ke masa silam. Mungkin saja ada yang bisa melakukannya dengan metode batin tertentu, tetapi tetap saja tidak ada metodologi untuk memverifikasinya. Maka perlakuan yang terbaik bukanlah mencari kebenaran historis dari tuntutan-tuntunan itu. Sama sekali tidak ada manfaatnya untuk memperdebatkan kebenaran sejarahnya. Yang pasti kita perlukan adalah menggali maknanya, menemukan hikmahnya, memetik maknanya untuk kehidupan nyata kita sekarang ini dan anak cucu masa depan.

Semua versi penafsiran kita hormati. Kita apresiasi. Kita syukuri. Kita ambil kegunaan nilainya. Tak ada sedikit pun manfaat melacak, dengan metodologi ilmu sejarah apapun, berapa usia Gadjah Mada, berapa panjang rambut Prabu Brawijaya V, warna kulit Nabi Hud, terompah Nabi Idris terbuat dari kayu apa, atau Nabi Nuh yang dikabarkan berumur lebih dari 3000 tahun: tatkala beliau berusia 100 tahun masih kanak-kanak ataukah sudah mulai remaja.

“Jadi, Mbah”, kata Pèncèng, “saya tidak menolak pemaknaan ‘yen urip goleko duwit artinya mumpung masih hidup banyak-banyaklah mencari uang. Hidup adalah kesempatan satu-satunya untuk berjuang mencari nafkah bagi keluarga, kemudian untuk bersedekah memperbanyak kebaikan. Sebab ‘wong mati ora obah, yen obah medeni bocah. Dan saya tidak akan mendramatisasikan bahwa ‘yen urip goleko duwit’ adalah anjuran dan legitimasi untuk kapitalisme. Apalagi pakai liberal segala”

Simbah, Gendhon dan Beruk dengan sabar mendengarkan.

“Akan tetapi memang saya lebih cenderung untuk memahami bukan itu maknanya”, kata Pèncèng lagi.

“Interpretasimu bagaimana?”, tanya Simbah.

“Duwit itu dari kata dlou’ih”, Pèncèng menjelaskan, “dlou’ artinya cahaya. Dlou’ihi artinya cahaya-Nya, cahaya Allah, yang lingkupnya termasuk rezeki materiil juga. Goleko mungkin dari kata gholli atau gholli-u. Yang termahal. Sesuatu yang paling berharga dalam kehidupan adalah cahaya Tuhan: goleko duwit

“Jadi kamu belajar Bahasa Arab juga to Cèng?”, Gendhon penasaran.

“Ah ya nggak juga. Cuma nyari-nyari, terus konfirmasi ke beberapa orang yang mengenal Bahasa Arab”, jawab Pèncèng, “kan ada lirik yang terkenal tentang Baginda Nabi Muhammad, yang nama beliau memegang rekor terbanyak disebut dalam syair-syair lagu, juga terbanyak dipakai sebagai nama manusia: ‘Anta syamsun Anta badrun, Anta nurun fauqo nuri. Anta iksirun wa ghalli, Anta misbahus-shuduri. Engkaulah matahari, engkaulah rembulan. Engkaulah cahaya di atas cahaya, engkau emas permata yang tiada terkira mahal harganya, engkaulah pelita hati semua manusia…”

Gendhon melirik Beruk. “Anak ini kelihatannya nggentho, tapi belajarnya serius juga”, bisiknya.

Simbah sendiri membatin: dalam uraiannya yang Simbah melarang untuk diumumkan, si Gendhon kemarin panjang lebar menganalisis Indonesia dengan memperbandingkan “Freedom of Speech”, “At-Tsaqafah Al-Madaniyah”, UUD-45 dan Pancasila. Pandangan Gendhon terlalu tajam dan menusuk. Terlalu terang-terangan, seperti menembakkan sinar rontgen ke dalam dada NKRI. Sementara para warga Negara ini sama sekali belum siap untuk apa adanya melihat kebenaran dan kesalahannya sendiri. Belum fair secara pengetahuan, belum objektif secara ilmu, belum sumeleh secara mental, dan belum satria-perwira secara kebudayaan dan spiritualitas.

“Pèncèng ini malah secara cukup radikal bisa mengubah mental berpikirnya menjadi lebih bersahaja”, Simbah berkata dalam hati, “ia bisa melakukan switch ke fokus nilai yang lebih murni, universal, sederhana tapi jernih. Ternyata larangan dan tindakan saya menyembunyikan hasil pemikiran mereka yang kemarin, membuahkan kemungkinan baru yang tidak kalah indahnya”

Simbah ingin mendengar apa yang nanti diajukan oleh Gendhon dan Beruk. Apa bisa se-menep Pèncèng. Sebab Beruk di uraiannya yang kemarin juga gawat. Ia melakukan muhasabah ‘aqliyah, semacam knocking down logika ‘NKRI Harga Mati’, menyebut-nyebut ‘Nasakom’, bahkan menyebut pemeran-pemeran aneh seperti Zallinbur, Kanzab, Tsabur, Ruhaa, Haffaf, Lagus, Walhan, Abyad, Biter, Jalbanur… mana mungkin dipahami oleh generasi Kids Zaman Now. Hapalnya kan oman-amin dan aman-imin melulu.

Kalau mau tahu persis apa makna syair “Sluku-sluku Bathok”, jalannya hanya satu: mewawancarai langsung Kanjeng Sunan Kalijogo. Itu pun benar tidaknya…