Yang Qath’i Hanya Allah, Selainnya Cuma Pendapat Kok

Reportase Sinau Bareng CNKK di Desa Tlogo, Prambanan, 7 Juni 2018

Lingkar Kembul Sabdo Jagat yang juga merupakan penggagas acara sempat bercerita dinamika dalam komunitas kecil mereka. Dari lingkar kecil, bubar, tumbuh lagi kemudian hilang lagi kemudian melebur dari beberapa komunitas terakhir menjadi Kembul Sabdo Jagat ini. Mereka menyampaikan keinginan untuk juga jadi lingkar Maiyah.

Mbah Nun menegaskan bahwa Maiyah bukan ormas. Bukan mazhab juga bukan aliran apapun. Dinamika semacam itu wajar, karena kita sedang bereksperimen di tengah zaman yang susah dirumuskan keruwetan kesadarannya. Tidak dirasa perlu untuk berkiblat pada Kadipiro. Walau saya pribadi menyebut Kadipiro sebagai Kedatuan atau Kraton sendiri, namun dia bukanlah tonggak pancang kekuasaan formal.

Tidak ada kekuasaan baku di Maiyah. Kita melakukan apa kebaikan yang kita bisa di wilayah masing-masing. Lahir karena memang dibutuhkan kelahirannya, bukan diada-adakan karena ingin ada. Semangat nandur Lingkar Kembul Sabdo Jagat perlu kita apresiasi.

Saya pribadi kagum, karena belum pernah bisa melakukan penanduran semacam itu. Saya masih susah untuk lumrah hidup bermasyarakat di desa. Selalu saja ada yang terasa salah. Istri saya sangat tahu hal ini. Eh, istri saya sudah tertidur pulas di sebelah saya. Sementara lantunan intro “Bangbang Wetan” mengalun. “Agar matahari baru kembali terbit”, kata Mbah Nun mengantarkan nada pembuka. Istri saya bangun dan berbisik, “Ini lagu kesukaannya Mas”. Itu dhonn istri saya kepada saya, tapi kok rasanya banyak betulnya.

Bangbang wus rahino… Bangbang wus rahino… Srengengene muncul…  Muncul… Sunar sumamburat…

Ada harapan. Harapan yang selalu terbit setiap lagu ini dilantunkan. Dan semangat bangkit ketika mantra “Lingsir wengi tan kendat, beboyo memolo tan kinoyo ngopo… Bangbang wetan semburato“. Seperti angin mendesau lirih dan alam menyambut terbitnya harapan. Hangat matahari pagi. Bangbang atau bambang dalam Bahasa Bugis itu sesuatu yang panas membara, dan sesuatu membara dalam dada saya tiap kali mendengar lagu ini.

9 wali muda belia pun pada akhirnya diberi kesempatan mempresentasekan penggalian mereka. Kelompok pertama menemukan bahwa lima kata yang paling sering didengar di media sosial: kafir, hoax, cebong, israel, komunis.

Mbah Nun merangkum semuanya ini dengan penegasan bahwa semuanya itu terjadi juga karena manusia tidak bisa membedakan mana dhonn dan mana qath’i. Maka juga akan berkaitan dengan martabat, jati diri manusia di depan informasi yang didapatnya. Rupanya, jati diri kemudian menjadi konsen kelompok kedua.

Kelompok dua, menemukan lima kata yang penting untuk masa depan bangsa: jati diri, keadilan, rukun, rasa aman, makmur.

Mbah Nun mengapresiasi, betapa pada generasi muda ini kemakmuran justru berada pada urutan terakhir. Memang menurut kelompok ini, kata-kata temuan mereka sudah diurutkan berdasar klasifikasi urgensinya. Perhatikanlah, jati diri di urutan pertama dan kemakmuran, justru ada di belakang. Berkebalikan dari kesadaran NKRI belakangan ini yang tampaknya tidak keberatan kehilangan jati diri asal bisa makmur. Hal ini bagi Mbah Nun disebut sebagai bentuk lahirnya kesadaran baru di negeri ini.

Kelompok tiga menggali lima kata yang sedang dirasa rusak atau mewakili kerusakan zaman now, yakni: mental, moral, toleransi, idealisme, gotong royong.

Pada kelompok yang mencari kerusakan ini, perwakilan kelompok malah sering menunjuk kepada dirinya. Ketika berkata moral, dia berkata “moral saya” dan begitupun lainnya.

Kelompok-kelompok yang baru bertemu pada malam ini, rasanya seperti saling berjodoh, tumbu ketemu tutup. Segalanya punya konsentrasi penuh pada wilayahnya. Mereka yang pas pada maqam wilayahnya itu. Maka sejak mula saya sebut mereka wali.

Mbah Nun, sangat tampak berbahagia dan menyampaikan, “Bagaimana saya tidak optimis melihat para generasi baru, bila yang selalu saya temui adalah generasi seperti ini?”

Generasi baru tumbuh, lahir. Terbit. Ilir-ilir pun mengalun, ijo royo-royo kelembutan jowo dengan heroisme syuhada badar.