Yang Qath’i Hanya Allah, Selainnya Cuma Pendapat Kok

Reportase Sinau Bareng CNKK di Desa Tlogo, Prambanan, 7 Juni 2018

Sinau Bareng, tajuk acara ini. Sinau Bareng selalu adalah kata-kata kalimat yang serius, bukan basa-basi kemasan belaka. Ketika berada di panggung Mbah Nun langsung meminta, “9 orang pemuda sing gelem mikir serius”, untuk maju kepanggung. Tidak butuh waktu lama, 9 orang berkumpul. Dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing kelompok membahas satu bahasan yakni:

  1. Lima kata yang paling sering terdengar belakangan ini, terutama di social media.
  2. Lima kata yang merupakan sumber persoalan.
  3. Lima kata yang merupakan harapan.

Dan sementara sembilan waliyullah belia tersebut merumuskan dan membahas persoalan dengan sangat serius, Mbah Nun mengajak jamaah untuk menegaskan kedirian dengan melantunkan nomor Indonesia Raya dan Syukur.

Bibir saya ini, tidak bisa betul melantunkan kedua lagu tersebut. Indonesia Raya, tidak bisa saya nyanyikan karena enggan. Saya selalu keras meyakinkan diri bahwa saya itu orangnya kurang nasionalis. Lagu “Syukur” tidak bisa saya nyanyikan karena baru bait pertama saja pasti dan selalu air mata saya menetes. Kan sebel.

Pernah kan pembaca yang budiman sedikit bertanya. Kenapa orang yang konsep dirinya tidak begitu nasionalis seperti saya (dan mungkin beberapa generasi muda lain)  betah ke acara-acara Maiyahan, Sinau Bareng ata Ngaji Bareng? Kalau sekadar kami berubah dari kubu anti-nasionalis jadi nasionalis, ah apa menariknya?

Kasus pindah-pindah kubu, tanpa hijrah kesadaran mah banyak kita temukan di tiap kubu yang bertikai. Orang HTI membanggakan anggotanya yang mantan NU, begitupun sebaliknya. Padahal transfer pemain antar pesepak bola saja, kita tahu selalu lebih berdasar pada kemapanan dan kenyamanan saja. Makanya saya lebih suka catur.–Ini melantur lagi deh, apa hubungannya coba?

Sebenarnya persoalannya bukan pada nasionalismenya, tapi bagaimana pemahaman terhadap nasionalisme itu. Di luar, nasionalisme jargonistik “NKRI Harga Mati” benar-benar pada taraf yang sangat menjemukan dan membosankan. Seolah produk kesadaran puluhan tahun lalu masih selalu direproduksi. Kami anak muda masa harus ikut jadi tua? Kan belum waktunya.

Ini bedanya dengan di Sinau Bareng, di Maiyahan. Jelas nasionalis dengan kebanggaan terhadap jati diri. Bermartabat dan cukup bermartabat untuk berkata bahwa NKRI juga hanyalah dhonni bukan qath’i. Ada sahut-sahutan dialog antar Mbah Nun dengan Kiai Muzammil malam itu. Mbah Nun megklarifikasi apa-apa saja yang dhonni.

Mbah Nun: NU?
Kiai Muzammil: Dhonni
Mbah Nun: Muhammadiyah?
Kiai Muzammil : Dhonni
Mbah Nun: HTI?
Kiai Muzammil: Dhonni!
Mbah Nun: Mazhab-mazhab?
Kiai Muzammil: Dhonni!
Mbah Nun: NKRI?
Kiai Muzammil: Dhonni!
Mbah Nun: Maiyah?
Kiai Muzammil: (terdiam agak lama) Dhonni!

Mbah Nun menambahkan, bahwa segala hal di dunia ini adalah dhzonn, adalah persangkaan-persangkaan. Maiyah sendiri juga tidak boleh di-qath’i-kan karena prinsipnya yang qath’i hanya Allah. Banyak keributan yang terjadi belakangan karena orang-orang meng-qath’i-kan sesuatu yang dhonni.

Segala yang dhonni jangan di-qath’i-kan. Dan sekali lagi, yang qath’i hanya Gusti Allah, selebihnya santai saja.

Buku Cak Nun