Yang Qath’i Hanya Allah, Selainnya Cuma Pendapat Kok

Reportase Sinau Bareng CNKK di Desa Tlogo, Prambanan, 7 Juni 2018

Berturut-turut menyapa dan memesrai Batam, Kepri pada tanggal 5 Juni, lantas ke Serang, Banten pada malam tanggal 6 Juni dan tanggal 7 Juni 2018 ini, rombongan Cak Nun dan KiaiKanjeng sudah berada di lapangan Kridobuwono, Ds Tlogo, Prambanan, Klaten. Siapa selain Mbah Nun dan KiaiKanjeng yang punya stamina seperti ini di zaman sekarang? Kiai, agamawan atau grup musik mana? Dulu saya sempat kagum dengan stamina panggung Guns n Roses, tapi kalau dipikir lagi band legendaris itu juga tidak ada apa-apanya dibandingkan manusia KiaiKanjeng. Dari mana stabilitas stamima seperti ini? Masih misteri bagi saya.

Klaten Bersinar, atau oleh mahasiswa Yogya sering disingkat plesetan dengan kata “klabers”, biar kayak clubbers yang maksudnya cah gaul dugeman itu mungkin. Klabers, malam ini benarlah Klaten bersinar dengan pancaran kemesraan, cinta dan ilmu dari Mbah Nun dan KiaiKanjeng, yang juga tidak menampakkan sedikitpun kelelahan pada diri mereka. Mungkin lelah juga sebenarnya, tapi itu tidak menurunkan kualitas pelayanan musikal yang disajikan. Saya hatur salut untuk hal ini pada manusia-manusia KiaiKanjeng dan Mbah Nun. Benar-benar rock n roll sejati!

Saya datang bersama istri ke lokasi acara. Lapangan Kridobuwono seperti pasar malam dengan aneka ragam jajanan dan beberapa wahana permainan anak-anak.

Rumah-rumahan balon di sisi lapangan, dari sudut pandang kami hanya kelihatan pucuknya yang berupa bentuk kepala tokoh maskot game nintendo, Super Mario. Generasi nintendo awal atau Spica pasti tahu perjuangan menamatkan game ini. Berkesan karena waktu itu belum ada teknologi “save point”. Sehingga kalau berhenti karena capek atau mati listrik, harus diulang dari stage awal kembali. Tokoh pahlawan game ini dibuat sebagai anti-tesis dari berbagai tokoh superhero. Dia pria paruh baya, kumisan, gemuk, imigran dari negeri Amerika Latin. Dan kerjanya sebagai tukang pipa bersama saudaranya Luigi.

Saya senyum-senyum sendiri saja melihat kepala Mario manggut-manggut digoyang angin malam. Seolah ikut meresapi kemesraan demi kemesraan malam ini di Klaten yang sedang bersinaran cahaya cinta.

Saya dan istri duduk di barisan paling belakang, lebih banyak menikmati acara dari layar. Gelar alas duduk yang dibuat oleh penjualnya dengan menyambung-nyambung plastik bekas. Sambil makan kebab berdua. Nah, calory defisit yang sedang saya kejar untuk menurunkan berat badan gagal lagi terpenuhi. Diet harus menanti.

Dari panggung, manusia-manusia luar biasa KiaiKanjeng melantunkan shalawat-shalawat. Sapaan cinta pada jamaah yang hadir. Lapangan penuh oleh para manusia yang mencari kesejatian. Pukul 9 lewat, Mbah Nun naik ke panggung. Jamaah menyambut dengan melantunkan shalawat, walau tidak terlihat tapi terasa ada gelombang kangen manusia-manusia pribumi Ds Tlogo ini pada Mbah Nun. Padahal, Klaten kan jejer Sleman alias jerman. Tidak begitu jauh dari Yogyakarta. Tidak jauh dari lokasi acara ini, terdapat candi Prambanan. Kalau candi Prambanan mungkin memang masuk wilayah Yogyakarta. Tapi kalau Borobudur sana, nah itu sering lucu karena suka ada di brosur iklan pariwisata Yogyakarta. Padahal punya Magelang.

Saya melantur soal percandian ini, sebab ada saatnya di panggung malam itu Mbah Nun sempat mengujar, “Candi itu gurumu, belajarlah darinya”. Kemudian Mbah Nun menyarankan agar selalu ada orang-orang dari berbagai disiplin yang konsen menggali keilmuan dari candi-candi yang ada di sekitar kita.

Berturut-turut menyapa dan memesrai Batam, Kepri pada tanggal 5 Juni, lantas ke Serang, Banten pada malam tanggal 6 Juni dan tanggal 7 Juni 2018 ini, rombongan Cak Nun dan KiaiKanjeng sudah berada di lapangan Kridobuwono, Ds Tlogo, Prambanan, Klaten. Siapa selain Mbah Nun dan KiaiKanjeng yang punya…