Yang Milenial Yang Mencari Cinta

Udara Bandung malam Sabtu 3 November 2018 masih dicekam dingin sisa hujan sore hari. Tetapi Gedung Abjan Solaeman UIN Sunan Gunung Djati dihangatkan kemesraan Maiyah yang membincangkan “Semesta Raya Cinta”. Cak Nun dan Buya Nursamad Kamba hadir dalam rangka memenuhi undangan para mahasiswa CSSMORA UIN SGD. Malam ini mereka merayakan malam puncak harlah ke-5 himpunan tersebut. Gedung berkapasitas 500 itu orang itu tak mampu menampung hadirin, mahasiswa maupun masyarakat umum, yang jumlahnya berlipat-lipat dan meluber ke pelataran luar.

Entah mengapa para mahasiswa memilih tema cinta untuk memuncaki momentum tahunan tersebut. Barangkali itu mencerminkan gejolak usia muda mereka yang penuh kerisauan mengenai jodoh dan masa depan. Tapi bisa juga itu adalah letupan kerinduan mereka yang tiap hari menatap agama lewat kacamata metodologi ilmiah yang berjarak. Malam ini, mereka menemukan kemesraan beragama.

Buya Nursamad membuka perbincangan tentang cinta malam ini dengan mengingatkan semangat asli Islam. Islam pada masa awal tidak membentuk insan yang baik melalui teori-teori cendekiawan. Muslim generasi pertama cukup mengamalkan metode sederhana: meneladani Muhammad Saw untuk menemukan kesempurnaan diri mereka. Buya menemukan semangat yang sama pada puisi Mbah Nun dari era 80-an, “Muhammadkan Hamba.” Dan proses me-Muhammad-kan diri ini tak bisa dicapai lewat pengetahuan, tetapi kedekatan rasa. Kemesraan. Dengan kata lain, cinta.

Mbah Nun mengelaborasi lontaran Buya dengan “menggoda” para calon intelektual itu, bahwa banyak hal dalam hidup yang lebih mampu dibicarakan dalam bahasa cinta, bukan ilmu pengetahuan. Surga, misalnya, yang tak mungkin kita ketahui di dunia. Lebih tepat kita dekati dengan kerinduan, bukan klaim kita sebagai golongan yang benar dan berhak masuk surga. Mbah Nun juga mengingatkan bahwa identitas paling dominan Allah adalah Ar Rahman dan Ar Rahim. Dengan becermin pada nama-nama Allah yang dimahkotai kedua asma cinta itu, Mbah Nun mengajak hadirin yang kebanyakan generasi milenial untuk memahami cinta. Cinta bukan fakultas yang terpisah, tapi semestinya menjadi spirit yang menaungi seluruh hidup, termasuk ilmu pengetahuan.