Yang Berjalan Sunyi Menuju Tlogomulyo

Liputan Sinau Bareng CNKK di Desa Tlogomulyo, Temanggung, 18 September 2018

Kalau yang dicari adalah harta, maka menujulah kepada yang kaya raya. Bila yang dituju adalah pengetahuan kognitif, referensi ilmu dan kitab-kitab ragam warna, maka manusia menuju pada otoritas keilmuan. Bila ingin dapat lahan tanah, mendekatnya pada para juragan. Bila ingin kebagian rasa berkuasa, dekati penguasa. Bila ingin mendapat pengakuan dalam komunitas, ormas atau kumpulan ideologi, menujulah pada pembelaan-pembelaan militan. Alasan bisa dicari biar seperti mulia.

Sudah sejak ketika proses evolusi yang lampau, para primata pun tahu bahwa kalau mereka tak mampu mengalahkan alpha male dalam kelompoknya, mereka akan menjadi yang dekat-dekat dengan sang alpha. Intinya, dekati dan menuju pada sang alpha yang punya akses untuk mempermudah pada cipratan sumber daya. Sumber daya kemudian bertransformasi. Dari sekedar sumber air, jadi lahan perburuan, lahan tambang, penguasa tafsir, pelahap kekuasaan politik dan seterusnya.

Sumber daya apa yang dituju oleh manusia-manusia yang berjalan ke Sinau Bareng ini? Kekayaan? Keilmuan? Kekuasaan? Kemelakatan ormas? Atau apa? Bahkan pengetahuan pun bukan sesuatu yang utama betul di sini. Jadi, mereka menuju ke apa? Ke mana? Ke siapa?

Tidak mungkinkah, manusia kangen pada sumber daya paling awal seperti dulu? Sumber air kejernihan? Telaga?

Manusia-manusia, jalan kaki, bermotor, menyewa mobil angkot dari desa sebelah, mobil pribadi dan berbagai upaya mengular menuju Tlogomulyo, di mana Sinau Bareng sedang digelar. Sekali lagi, mereka mengharap sumber daya apa? Atau, Tlogomulyo memang sedang menuju pada kemuliaan-kemuliaan? Adakah pemegang otoritas dalam kemuliaan?

Jalan kecil di wilayah berbukit, menanjak. Manusia memenuhinya semuanya berjalan, berbeda ragam. Semua punya pencariannya sendiri-sendiri. Ada telaga, di luar pemahaman kitab-kitab, di luar kriteria kaya-miskin, di luar kaidah-kaidah dan segala relasi kuasa yang dibuat-buat oleh manusia.

“Khotmil Qur`an” melantun dengan dentang-denting dan liukan nada KiaiKanjeng setelah Mbah Nun menyapa para warga yang berkumpul dan tumpah ruah di Dusun Tlogo, Desa Tlogomulyo. Dataran tinggi berangin dingin, udara lembab di wilayah Temanggung. Tanaman tembakau tidak asing di sini. Rumah-rumah membuka, sajian teh dan kue kering, tuan rumah selalu menyapa, “Pinarak mas”. Sohibul dusun nampaknya sangat berbahagia pada gelar Sinau Bareng di dusun mereka, pancar kebahagiaan khas tuan rumah yang menyambut tamu dari kerajaan desa lain. Jalanan disemarakkan pula dengan warna-warni pedagang-pedagang jajanan, odong-odong dan ragam hal lainnya. Ekonomi akan berputar dengan kreatifitasnya sendiri, ketika manusia gembira.

“Aku pesen pada anak cucuku di Tlogomulyo jangan takut lapar, jangan takut apapun asal hatimu terus manembah pada Allah,” pesan Mbah Nun.

Di luar mungkin banyak sekali pertikaian, politik nasional tidak membahagiakan bahkan penuh perseturuan cebong vs kampret, ormas-ormas hanya menawarkan ilmu namun minim kemesraan. Ideologi perlawanan malah membikin struktur kuasa sendiri, negara minta dipuja sedang pemerintah menganggap dirinya negara. Tak ada yang menyapa dan bertanya, apa yang sungguh-sungguh dibutuhkan oleh para manusia di dusun-dusun?

Jangan-jangan sederhana, mereka butuh keamanan, srawungan, terjaganya martabat, dan kerinduan untuk merdeka jadi diri sendiri. Dan bila ada titik di mana mereka bisa mencapai itu semua, jarak berapapun, semenanjak dan seterjal apapun akan mereka tempuh. Malam ini, tanggal 18 September 2018M mereka menuju Sinau Bareng di Tlogomulyo. Telaga kemuliaan dan kesejatian.

Buku Cak Nun