Ya Sudah, Jangan Keluar dari Lapas

Liputan Sinau Bareng CNKK dan Warga Lapas Kelas I Madiun, 29 November 2018

Saya agak mengerutkan dahi ketika mendengar kabar Lapas kelas I Madiun ingin mengundang Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Lembaga Pemasyarakatan di Madiun ini memiliki kapasitas 536 orang, tetapi saat ini sedang dihuni 1.103 orang tahanan dan napi. Artinya saat ini sedang over kapasitas dari daya tampung normalnya, dan mereka berencana mengadakan acara Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw yang notabene mengundang sekitar 100 orang undangan di luar penghuni Lapas. Apakah tidak beresiko, pikir saya.

Tiba di hari Kamis, 29 November 2018, hari yang akan menjawab pertanyaan di benak saya beberapa pekan ini. Pukul 06.30 WIB, memasuki gerbang Lapas, ada rasa merinding membayangkan kondisi di dalamnya. Pintu masuk yang besar nan kokoh, hanya dibuka setinggi dahi orang dewasa, perlu membungkuk ketika memasukinya. Sebelum diperkenankan masuk, serangkaian pemeriksaan dilaksanakan petugas sebagai prosedur keamanan. Memastikan bahwa baik penghuni maupun pengunjung semuanya aman.

Kekhawatiran saya sedikit sirna ketika pemandangan pertama yang saya lihat saat memasuki wilayah sel adalah para napi dengan ramah menyapa tamu. Ada beberapa yang bahu-membahu membagikan sarapan untuk semua penghuni sel, sebagian besar kerja sama mempersiapkan segala sesuatu di area Sinau Bareng. Terasa seperti berada di sebuah desa yang sedang nduwe gawe. Begitu juga dengan petugas Lapas, mereka turut membaur dengan para napi, repot dengan tupoksi masing-masing dalam mempersiapkan acara ini. Tidak ada jarak antara mereka, hanya seragam saja yang membedakan, namun aktivitas mereka saling melengkapi.

Tak jarang, di tengah hectic-nya persiapan acara, mereka saling bersenda gurau, meng-gojlok rekannya. Saya ikut tersenyum, bahagia merasakan situasi ini. Saya jadi ingat, sehari sebelum ini, beberapa rekan dari Maiyah Madiun yang sudah di lokasi bercerita, rata-rata napi di sini masa hukumannya lebih dari 5 tahun, ada yang 16 tahun, bahkan ada yang seumur hidup. Beberapa waktu lalu, ada penghuni baru datang, masa hukumannya hanya 3 bulan. Sontak ia menjadi bully-an rekan-rekannya: “Golek hukuman kok nanggung men, wes metu angel golek kerjo, iseh kudu ra nduwe isin njaluk mangan mertuo, durung maneh diilok-ilokno kancamu, mbok mending neng kene suwe pisan, limolas tahun mangan gratis, ra perlu angel-angel daptar kerjo” – “Mencari hukuman kok nanggung, setelah keluar sudah pasti susah dapat kerja, menanggung malu karena makan numpang mertua, belum lagi diledekin teman-teman, masih mending disini (penjara lapas) lama, lima belas tahun makan gratis tanpa perlu susah mencari pekerjaan”. Saya terbahak-bahak mendengarnya, mungkin seperti itu ekspresi mereka saat guyonan dengan sesama napi. Sungguh seperti tak ada beban.

Ada bangunan yang menarik perhatian saya, aroma obat kimia tercium menyengat. Ternyata ini adalah rumah sakit khusus para napi. Mereka yang sakit di rawat di sini. Di kursi ruang tunggu rumah sakit, ada dua orang pria duduk sedang berbincang, satu bertato dan satu lagi tampak pucat wajahnya. Sepertinya satu dari mereka tertekan dengan kondisinya, pandangannya kosong, sesekali menggerutu sendiri. Samar-samar saya mendengar pria berwajah pucat memberikan wejangan, menenangkan temannya dengan, “Sabar ya, semua pasti terlewati”. Pemandangan terbalik dari yang saya lihat sebelumnya.

Mbah Nun datang lebih dahulu dari rombongan KiaiKanjeng. Disambut Kepala Lapas, Mbah Nun dipersilakan masuk ruang transit yang sebelumnya sudah dipenuhi jajaran Forpimda kota dan kabupaten Madiun. Beberapa menit setelahnya bus yang membawa rombongan KiaiKanjeng tiba di Lapas. Satu per satu personel melewati pintu metal detektor menuju ke panggung yang letaknya di lapangan upacara, tepat di tengah-tengah luasnya bangunan lapas, sehingga meski dari dalam sel atau ruangan sekalipun, masih bisa menyimak jalannya acara.

Sementara KiaiKanjeng mempersiapkan peralatan, para warga Lapas dan undangan dihibur dengan suguhan menarik dari kelompok musik gamelan binaan Lapas, di mana semua anggotanya adalah narapidana. Kebetulan salah satu napi tersebut adalah guru seni musik. Mereka belajar membunyikan gamelan mulai dari nol puthul, sejak tidak paham nada menjadi faseih memukul kepingan gamelan hingga keluar irama yang easy listening. Sebuah proses yang membutuhkan kesabaran, istiqomah sinau menurut saya, dan insyaAllah mereka lulus di periode ini.

Didampingi Kalapas dan Forpimda, Mbah Nun berjalan menuju panggung, diiringi sholawat dari kelompok hadrah yang beranggotakan para napi pula. Suasana siang itu cukup panas meski awan mendung kelabu. Setelah menyapa, dan memberi pengantar tentang peringatan Maulid Nabi, Mbah Nun mengajak semua yang hadir untuk menemukan cara hidup bergembira dengan pertanyaan “Apik ndi urip ndek njero Lapas utowo ndek njobo Lapas?” – “Baik mana hidup di dalam Lapas atau di luar Lapas?” dilanjut “Kalau diambil kebaikannya, banyak mana baiknya antara di Lapas dan di luar Lapas?” serentak hadirin menjawab “Di lapas…”. Mbah Nun merespons dengan kelakarnya, “ Yowes, ojok metu! Hehe (Ya sudah jangan keluar!)”. Wajah sumringah diikuti gelak tawa menjadi pemandangan yang menggembirakan. Satu poin berhasil tercapai, menemukan gembira dengan cara bersyukur!

Selain persembahan musik yang menggembirakan hati, KiaiKanjeng melalui arahan Mbah Nun juga memberikan sedikit workshop untuk para napi. Kali ini tentang istiqomah dalam memimpin diri sendiri. Saat ini, di luar sana sedang banyak yang gelut, saling mempengaruhi untuk kepentingan individu dan suatu golongan. Mbah Nun dan KiaiKanjeng mengajak kita semua untuk tidak mudah tersulut meski dalam keadaan darurat sekalipun. Hidup tidak tergantung pada pemimpin, tidak ada petugas, tidak ada polisi, harus tetap melaksanakan yang menjadi wajibnya. Meski di Lapas tidak ada petugas yang mengawasi, meski di Lapas kepepet kondisi tidak enak, tetap pimpin diri untuk istiqomah berbuat baik selama berapapun masa tahanan Anda, tidak perlu terpengaruh dengan napi lain yang masa tahanannya lebih sedikit. Begitu penyampaian Mbah Nun.

Saya lantas melihat sesuatu yang membuat mata saya mbrambangi, napi laki-laki bertato dengan pandangan kosong dan menggerutu sendiri tadi tersenyum, ada kelegaan terpancar di wajahnya. Sekiranya, Allah memberikan hidayah-Nya lewat Mbah Nun kepada pria tersebut. Semoga setelah acara ini, Ia juga segenap warga Lapas, terus istiqomah menemukan cara untuk bergembira menjalani hidup, juga istiqomah dalam memimpin diri sendiri. Terjawab sudah keresahan saya, ternyata semua berjalan baik dan lancar, suasana akrab dan kekeluargaan begitu melekat di dalam bangunan luas bertembok tinggi ini.

Lainnya