Ya Alloh Ya Lobby

Mukadimah SabaMaiya Februari 2018

Gerimis yang mulai turun berlahan mulai menciptakan irama tersendiri sebagai musik alam ketika berharmoni dengan suara atap seng warung Lek Marno yang sejak pagi hanya beberapa orang yang mampir. Ditambah gerimis yang berubah menjadi hujan deras bak suara vokalis grup band rock metal membuat suasana hati Lek Marno gelisah melihat beberapa hasil karya gorengannya yang tak mulai hangat. Sambil melihat keluar menengadah ke langit dengan hujan yang lebat seolah menggambarkan tangis pribadinya, setelah beberapa hari tidak ada pemasukan berarti pada musim hujan yang tak menentu.

Di saat yang bersamaan ada sosok yang muncul di depan pintu warung.

“Nunut ngiyup nggih pak…”.

“Njih, monggo pinarak…”.

Berubah menjadi semanak karena yang datang dianggap sebagai calon customer dengan perasaan harap-harap cemas. Setelah melepas jas hujan, helm dan penutup muka dan meletakkannya di depan warung.

“Sampeyan to Lek, sing gadah warung?”, tanya pak Nawi yang ternyata teman Lek Marno semasa berkelana.

“Njih pak, lha sekang ngendi si pak? Dene oyos-oyosan mawon?”, jawab Lek Marno yang semakin menipis harapannya untuk mendapatkan income untuk warungnya setelah mengetahui yang datang adalah teman seperjalanan di perantauan.

Sambil membenahi tempat duduknya Pak Nawi menangapi, “Habis dari kecamatan untuk melihat hasil seleksi Panwascam.”

“Lha hasile pripun?”, tanya Lek Marno seolah ingin tahu.

“Mpun, buatkan teh panas manis…”. Dengan cekatan gelas cantel diisi dua sendok penuh gula.

“Sing kenthel Lek…”, pinta Pak Nawi.

“Siap!”, jawab Lek Marno singkat.

“Gini Lek, hasilnya tidak sesuai. Saya gagal alias tidak masuk nominasi”, Jelas Pak Nawi sambil mengambil tempe kemul di hadapannya.

“Lho bisa-bisane pak? Mbokan sampeyan masalah ngawas-mengawasi sampun dangu?”, sambut Lek Marno seolah mendapat nasib sefrekuensi hari ini.

“Dongane sing salah Lek!”

“Bisa-bisane?”, buru Lek Marno yang belum paham.

“Saya berdoa Ya Alloh Ya Robbi saja Lek, harusnya melihat kondisi dan situasi saat ini juga butuh Ya Aloh Ya Lobby!”, jelas Pak Nawi sambil tersenyum melihat kondisi dan posisinya.

Dalam benak Lek Marno pun mengiyakan ucapan Pak Nawi tentang realita kondisi saat ini. Pikirannya mengembara dalam memahami maksud Pak Nawi tentang ungkapan Ya Alloh Ya Lobby. Ia pun mengambilnya sebagai gambaran hubungan vertikal dan horizontal yang sudah semestinya dibangun. “Dluribat ‘alaihim adz-dzilatu aina maa tsuqifuu illa bihablin minallahi wa hablin min an nas”. Mereka diliputi kehinaan di mana saja kecuali jika mereka berpegang pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia. Sebagai petunjuk garis hubungan vertikal horizontal yang tidak terelakkan, sehingga terbangun garis siku yang kokoh.

Ketika garis tersebut lemah salah satunya maka mucullah istilah “Njomplang”, sehingga banyak kasus yang tak terhitung baik dari mereka yang dalam hidupnya berdoa Ya Alloh ditambahi Ya Robbi melupakan lobby (lobi) sesama, sehingga muncul pemain tunggal dalam pementasan. Lobi yang dilakukan hanya sebatas “dum-duman” untuk dukung-dukungan. Karena pengikut madzhab ini secara pribadi rata-rata sosok agamawan yang menampilkan “Ya Alloh Ya Robbi” tak perlu susah lobi, jamaah akan berdatangan.

Sementara penganut “Ya Lobi…Ya Alloh” mereka membangun jaringan relasi sebanyak mungkin dengan bergabung di berbagai komunitas, entah lintas partai, ormas, hingga paguyuban bakul jangkrik, serta mendokumentasikannya dalam foto linimasa di sosial media. Lalu mempublikasikannya lewat sosial media entah facebook, whatsapp, twitter, hingga semua aplikasi dimiliki untuk “Ya Lobi”. Sementara “Ya Alloh”-nya dititipkan lewat lobinya dengan selfi bersama mereka yang berserban dan beracara keagamaan.

Manusia zaman now lebih memilih njomplang sebagai titik aman. Atau malah menjadi keharusan untuk pencapaian dirinya, entah berperan sebagai “koalisi” atau “oposisi” karena kepentingan mendukung atau melawan kemapanan yang mengesampingkan peran-peran utama kemanusiaan. Di mana sifat manusia punya kecenderungan terjebak pada istilah “kemapanan”, melupakan karakter dasar “perubahan” dalam dirinya serta dunia dengan perdabannya.

Dimensi kehidupan manusia pada dasarnya butuh keseimbangan dalam prosesnya, tapi untuk menuju keseimbangan juga dibutuhkan proses memahami beban, takaran, dan hal-hal lain yang melingkupinya. Karena dalam perjalanan pasti ada hambatan, rintangan yang berujung “njomplang” sebagai keniscayaan. Maka manusia itu sendiri pula yang harus menjadi penyeimbang sebagai tugas bawaan. Dalam diam Lek Marno berpikir keras ungkapan Pak Nawi tadi.

“Lek, kok malah meneng?” tegur Pak Nawi.

“Itu ada pembeli banyak…”, sambil menoleh ke depan ada beberapa sepeda motor dengan plat nomor luar kota yang berhenti dan parkir di depan warung.

“Lagi ngelobi sama Alloh”, jawab Lek Marno sekenanya dihiasi senyum sumringah karena akan dapat tambahan rezeki untuk kulakan. (Abi Jaahir)