Ya Allah Ini Pasti Engkau yang Menggerakkan

Liputan Sinau Bareng CNKK di Desa Ngelang, Magetan, 29 November 2018

Usai dari Lapas, malam harinya saya masih diberi kesempatan Allah untuk mengikuti perjalanan Mbah Nun dan KiaiKanjeng ke desa Ngelang, Magetan. Menjelang senja, Madiun dan sekitarnya diguyur hujan deras, termasuk di lokasi Sinau Bareng. Meski tidak sederas kota Madiun, desa Ngelang menjadi semriwing hawanya saat diguyur hujan. Informasi yang saya peroleh, desa ini kerap dilanda banjir ketika hujan. Semoga saja hujan yang turun kali ini membawa berkah dan manfaat untuk desa Ngelang khususnya.

KiaiKanjeng sudah tiba terlebih dahulu ketika rombongan Mbah Nun berangkat dari Madiun. Medan jalan dari Madiun menuju lokasi cukup menantang adrenalin, selain kurangnya penerangan juga didukung oleh rusaknya badan jalan. Banyak lubang-lubang besar dan terisi air di kala hujan datang. Mudah-mudahan segera mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Hujan sudah reda menjelang tiba di lokasi, tampak beberapa panitia sudah menjemput di pelataran masuk desa. Rombongan Mbah Nun diantarkan menuju kediaman Pak Carik untuk transit dan makan malam bersama.

Jalan yang dilalui Mbah Nun dari rumah Pak Carik menuju panggung lumayan becek. Mas Alay berinisiatif menyiapkan sandal yang nyaman untuk Mbah Nun, agar tidak menyusahkan atau terpeleset ketika melewati tanah lapang yang digenangi air. Ada yang unik dari sandal yang disiapkan untuk Mbah Nun, “Sandale Cak Nun” begitu tulisan yang tertera di sandal jepit putih merk swallow itu. Saya sempat meminta kawan photograper untuk memotretnya, lucu! hehehe. Informasinya, malam saat acara di Ponorogo, panitia memberikannya untuk Mbah Nun.

Disambut sholawat yang dibawakan KiaiKanjeng, Mbah Nun dan rombongan Muspika serta sesepuh desa naik ke panggung, jamaah pun mulai merapat mendekat. Tidak sedikit ibu-ibu membawa serta anak-anaknya turut hadir menyimak paparan Sinau Bareng, meski mungkin mereka belum paham dan memilih untuk bermain-main di area sekitar.

Acara sudah dimulai, obrolan berlangsung gayeng. Saya teringat, ketua panitia acara di Lapas ingin punya kaos atau merchandise resmi dari caknun.com, saya beranjak, berniat menuju Pojok Ilmu. Lamat-lamat sambil berjalan saya dengar lantunan langgam Jawa dari panggung, rupanya Mbah Nun meminta Mbak Aprilia –salah satu warga desa Ngelang- untuk menyanyikan lagu yang sering atau khas didendangkan di desa Ngelang. Suaranya merdu dan cengkoknya sempurna, membuat Mbak Lia tertahan cukup lama di panggung. Personel KiaiKanjeng juga tampak sumringah dengan hadirnya Mbak Lia ditengah-tengah mereka.

Saya sudah kembali di belakang panggung, membawa sebungkus tahu solet anget untuk dikudap bersama rekan-rekan yang duduk di belakang panggung. Tiba-tiba lampu dan sound system mati, sontak kami semua kaget. Pak Erfan, Mas Pentil, Mas Yudhis, juga Rendra sigap dan langsung mencari sumber masalah. Sementara, Pak Jijit, Mas Doni dan Mas Yoyok KiaiKanjeng, mencoba terus berkomunikasi dan mengajak jamaah dolanan meski tanpa microphone. Tidak mudah membuat suara mereka didengar hingga jarak ratusan meter di depan panggung, namun saya lihat mereka juga Mbah Nun sangat menguasai audiens. Jamaah tertib dan tetap gayeng penuh keakraban mengikuti setiap arahan mereka bertiga. Susah digambarkan dengan kata-kata kondisi saat itu, syahdu, atau entah apa kata di atasnya, Saya belum menemukan.

Kondisi ini berlangsung cukup lama. Ternyata masalah ada pada genset yang njebluk kalau istilah saya. Listrik yang tersedia tidak cukup kuat menghidupkan kembali lampu dan sound system. Cara satu-satunya adalah mencari pengganti genset. Untuk mengakali sound, satu microphone dihubungkan dengan toa sementara.

Konsentrasi saya beralih ke genset, semampunya mencoba menelepon beberapa kenalan vendor genset untuk kami sewa sebagai pengganti yang njebluk. Sudah 8 vendor saya telfon, tapi tidak ada satu pun yang sanggup untuk mengantar genset alasan mendadak dan tidak ada personelnya. Saya memaklumi, karena saat itu sudah jam 10 malam lebih, juga jarak yang agak jauh, sudah pasti butuh waktu sekitar satu jam-an lagi untuk sampai, belum instalasi yang juga memakan waktu. Untunglah panitia menyiapkan genset cadangan meski kapasitasnya belum memadai. Setidaknya panggung sudah kembali terang meski lapangan masih gelap dan hanya mengandalkan toa untuk pengeras suaranya.

Cobaan itu semakin bertambah ketika gerimis mulai turun. Mbah Nun mencoba menawarkan kepada Kepala Desa dan Jamaah, mereka tetap meminta lanjut. Dengan penerangan dan suara yang seadanya, Mbah Nun memulai tanya jawab, beberapa jamaah naik ke panggung untuk mencari jawaban atas pertanyaan mereka. Hujan tiba-tiba berubah deras disertai angin, ada beberapa jamaah yang meninggalkan lokasi, tetapi 90 persen tetap tidak beranjak dari tempatnya. Mereka menggunakan alas duduk sebagai pelindung kepala. Beberapa naik ke panggung mencari iyup-iyupan, diutamakan ibu-ibu dan anak-anak. Mas Yudhis, Rendra langsung inisiatif membantu, mereka ikhlas basah-basahan.

Ada aura magis memang disetiap Maiyahan, tapi kali ini saya mengalaminya langsung. Dalam benak saya, “ini ndak mungkin digerakkan dari nalar manusianya, naluri manusia normalnya menghindari yang tidak enak atau tidak nyaman, termasuk salah satunya hujan lebat campur angin, pilih menghindar pastinya”. Tapi, sejauh pandangan mata saya, mereka tetap teguh tidak beranjak, rona bahagia malah yang tampak, tidak ada kegelisahan sama sekali.

Mata saya berkaca-kaca, kesekian kalinya dibuat terharu oleh kejutan-kejutan yang datang di Maiyahan. “ Ya Allah, ini pasti Engkau yang menggerakkan mereka”. Akan Saya eling-eling selamanya karunia Allah ini.

Kondisi tanah yang gembur membuat panggung mudah ambles ketika tanah basah dan nyembong. Kemiringan panggung sudah mencapai 9 derajat saat diukur oleh Yoga–photographer andalan Saya. Saya sampaikan pada Mas Alay, ini harus segera selesai Mas, jika tidak panggungnya ndak kuat dan rotoh. Mas Alay mencoba mbisiki Mbah Nun, dan Mbah Nun masih ingin menyelesaikan menjawab semua pertanyaan jamaah, suatu keputusan yang sering kali di luar nalar yang diambil Mbah Nun.

Satu hal yang mengena yang disampaikan Mbah Nun di puncak acara bersih desa Ngelang ini. “Mugo-mugo, dengan proses alam yang seperti ini, dengan persembahan tresnomu kabeh, deso Ngelang dadi resik tenan, Gusti Allah langsung sing mensucikan”. Malam itu, desa Ngelang memang banjir, banjir cinta dari Allah.

Buku dan Merchandise