Daur-II • 310

Wirid Salah Tajwid

Seger berhenti membuka lembaran-lembaran catatannya, karena ada yang menakjubkan di Telaga Maiyah itu. Ternyata rupa dan wujud mereka para makhluk yang melingkar mengelilingi tepian telaga itu, sangat menarik dan aneh. Ada pula seorang yang berbicara kepada lingkaran itu sambil berjalan-jalan ke sana kemari di atas kaca.

Berjalan-jalan di atas kaca itulah yang membuat Para Pakde dan Junit serta lainnya menyimpulkan bahwa itu bukan air. Mana mungkin berjalan-jalan di atas air.

Seger teringat kisah yang turun-temurun dikisahkan oleh Mbah Markesot tentang seorang Kiai yang mengantarkan rombongan Santri-santri naik kapal untuk berangkat naik haji. Pak Kiai mengantarkan santri-santrinya sampai masuk kapal. Di sebuah pojok Pak Kiai menjumpai seorang Ibu atau Mbok-mbok yang duduk menjahit kain sambil rengeng-rengeng membunyikan semacam wirid atau shalawat.

Tentu saja Pak Kiai adalah pakarnya soal wirid, dzikir dan apapun yang gitu-gitu. Sehingga beliau menghampiri Ibu itu untuk mengingatkan bahwa wiridan Ibu itu banyak salah tajwid dan makhraj-nya. Si Ibu terdiam. Meneruskan menjahit. Pak Kiai berlalu. Sampai kemudian beliau turun dari kapal. Akhirnya kapal berangkat. Bergerak beberapa ratus meter. Pak Kiai melambai-lambaikan tangannya kepada para Santri sambil berdoa.

Tiba-tiba dari atas kapal ada orang yang melompat turun ke laut. Ia berlari menuju pantai, mengarah ke tempat Pak Kiai berdiri. Ternyata si Ibu yang tadi diingatkan kesalahan wiridnya. Sambil berlari di atas air, si Ibu berteriak kepada Pak Kiai: “Pak Kiai! Mohon saya diajari bagaimana wiridan yang benar! Tadi kan belum Kiai ajari…”

Pak Kiai pingsan. Entah bagaimana penjelasannya. Mungkin ia merasa shock dan malu yang memukul jiwanya, karena Ibu-Ibu yang dikritik wiridannya tadi ternyata mengejarnya dengan berlari di atas air. Emangnya kenapa? “Hari di mana Kami perjalankan gunung-gunung, dan kamu melihat bumi ini datar, dan kami kumpulkan seluruh manusia, dan tidak kami tinggalkan seorang pun dari mereka[1] (Al-Kahfi: 47). Gunung saja dibikin jalan-jalan, apalagi Ibu-Ibu yang manusia.

Pak Kiai ditolong oleh Santri-santri yang mengawalnya. Tapi ketika para santri itu melihat ke laut, si Ibu itu sudah tidak ada. Mereka mencarinya di berbagai kerumunan manusia di pelabuhan, juga tidak ketemu.

Toling malah seperti bermimpi melihat makhluk-makhluk aneh dan pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Tapi siapakah mereka yang duduk melingkari telaga kaca itu? Pasti bukan manusia. Tetapi mungkin maqam mereka seperti Ibu-Ibu yang berlari di atas air itu. Kalau manusia tidaklah seperti itu. Besar badannya bermacam-macam. Wujud mereka beraneka ragam, tidak ada standarisasi seperti wujud manusia. Ada yang kepalanya memanjang. Ada yang telinga lancip dan lebar hampir sampai ke tanah. Ada yang kedua matanya hampir memenuhi wajahnya.

Ada yang kedua tangannya bersedekap tapi dilingkarkan berlapis-lapis di badannya. Ada yang kecil sekali. Ada yang besar sekali. Ada yang jasadnya berunsur seperti manusia. Ada yang lain sama sekali. Dan jika mereka semua berada di tengah-tengah masyarakat manusia, pasti akan menjadi bahan ejekan anak-anak kecil. Atau membuat orang sekampung lari tunggang langgang. Atau pasukan tentara akan mengepung mereka dan Densus 88 segera meringkus mereka.

Tapi ditahan di mana? Kayaknya mereka bisa menembus dinding di dunia manusia. Mereka bisa berlalu-lalang di antara ada tiada dalam pandangan jasad rendah manusia.

Mojokerto, 22 Februari 2018