Weureu

Mukadimah Lingkar Daulat Malaya Agustus 2018

Weureu adalah sebutan dalam bahasa Sunda yang artinya keracunan makanan. Dewasa ini kata “weureu” mengalami pelenturan makna. Lazim kita dengar kata “weureu” terlontar dalam perbincangan penuh canda. Dan orang yang disebut “weureu” menimpali dengan tawa bahkan mungkin sedikit bangga. 

Sebagai candaan, penggunaan istilah “weureu” sering efektif mencairkan suasana. Semacam indikator keakraban dan kemesraan dalam lingkup lingkar perbincangan. Lama kelamaan anasir penyakit dalam kata “weureu” makin bias. Menjadi bisu dalam ketebalan kata. Sehingga yang terserap hanya sebatas remah-remah tawa.

Weureu sebagai sebutan tentu tak jadi masalah. Namun weureu sebagai proses, ini yang bikin berabe. Perut mual, kepala pusing, mulut muntah-muntah, tentu bikin cape. Sering kali terjadi kasus kematian akibat keracunan. Belum lagi “weureu” dalam pikiran, perasaan dan tindakan, lengkaplah penderitaan manusia yang mengalami “weureu”.

Lantas bagaimana yang disebut “weureu” dalam pikiran, perasaan dan tindakan?

Idiom “adil sejak dalam pikiran” pernah digaungkan, namun eksistensinya mungkin telah dilibas oleh “weureu sejak dalam pikiran”. Mari kita telaah bersama, namun jangan terlalu dipercaya karena mungkin juga penulis sedang dalam keadaan “weureu”. Dari sisi ekonomi, kita sedang dilanda keracunan dalam bidang kepemilikan. Serasa milik padahal bukan. Itulah esensi dari sistem kepemilikan saat ini. Kendaraan, rumah sampai dengan isinya (elektronik, furniture dll) benarkah milik kita? Atau masih milik pemberi kredit?

Dan kita “weureu” sehingga mulut muntah-muntah berkoar kemana-mana bahwa semua barang yang kita kredit senyata-nyatanya adalah milik kita? Lantas tindakan kita pun weureu tatkala pas jatuh tempo cicilan belum terbayar?

Kata “beli” sudah geser makna, jadi pura-pura beli alias cicil. Itu contoh sedikit dari “weureu” dibidang ekonomi. Apa penyebabnya? Kita sudah “weureu” sejak dipikiran, karena secara tanpa sadar pikiran kita telah mensugesti “kalau tak nyicil tak akan punya apa-apa”.

“Weureu” di bidang politik, ah sudah terlalu banyak contohnya. Apalagi mendekati tahun pilpres. Demi capres idaman bisa sampai lupa saudara, lupa tetangga, lupa diri juga.

Dibidang kehidupan sehari hari, Baginda Rasul telah memberikan Sabda Laku yang paling pas dalam mengendalikan penggunaan hasrat makan minum,berpakaian bahkan dalam hal sedekah. Beliau memagari dengan nilai ‘jangan berlebihan, melampaui batas’. Sejalan dengan Kalam Allah, innallaha Laa Yuhibbul Musrifiin, Allah tidak menyukai-mencintai orang orang yang melampaui batas!

Jika kita serius menjalankan transaksi dikehidupan ini adalah transaksi cinta dengan Allah lewat jalan tauladan cinta Rasulullah, maka sejauh mana kita menyelami kedirian ini, seberapa lama kita terus berkompetisi dalam kebaikan kebaikan serta merangkai keindahan?

Biasakan anda mengalami lapar dan makanlah hanya untuk kesehatan anda. Lapar itu baik asal jangan sampai kelaparan”. Wejangan, pepatah dan hikmah yang dialirkan dari Simbah ini sebagai bahan yang pas untuk kita olah sebagai transformasi dari ummul ilmi dan madinatul ilmi, dikondisi zaman yang mana prilaku weureu dengan waro sangat sangat tipis dibedakan dan bahkan sukar disimulasikan dalam kesadaran kita.

Bahkan menemukan dan menentukan hak kepemilikan kita yang hakiki, kita sering terombang ambing, seakan akan itu hak dan kesejahteraan. Banyak lagi beragam lagi fenomena dan kedalaman makna lainnya.

Jika kita rindu, Mari kita temukan bersama bersama kesejatian rindu itu dalam nuansa kegembiraan Cinta Bersama.