“Warung Islam” dan Karakter Metapolitics Maiyah

Catatan Simposium "Decoding the Labyrinth of Conflict", Fisip Unair Surabaya, 29 November 2018 (bagian 3/3)

Usai diskusi dengan peserta simposium yang sebagian baru paham corak aktivisme Maiyah dan perkembangan Sinau Bareng Jamaah Maiyah di berbagai tempat setelah mengikuti acara simposium ini, di sesi siang dilanjutkan dengan pemaparan Cak Fuad tentang Urgensi Kontekstualitas Agama dalam Menciptakan Harmoni Sosial.

Uraian beliau sederhana namun menukik pada basis pemahaman tentang makna kontekstualitas agama yang intinya adalah implementasi nilai-nilai agama dengan memperhatikan aspek budaya yang dimiliki oleh setiap kelompok masyarakat. Jika dalam kodrat budaya manusia ada proses belajar, maka turunnya Al-Qur`an sesuai dengan kodrat itu. Yaitu secara berangsur-angsur agar ada proses belajar hikmah untuk mengakomodasi budaya masyarakat Arab pada masa itu. Bahkan dalam penetapan hukum, misalnya khamar (minuman keras), prosesnya diawali dengan penyebutan fakta bahwa ia memiliki manfaat sekaligus mudaratnya, tetapi juga dijelaskan bahwa mudaratnya lebih banyak daripada manfaatnya. Kemudian proses pelarangan mulai diterapkan secara terbatas ketika sedang shalat. Dan terakhir dilakukan pelarangan mutlak setelah melalui proses belajar.

Isi kandungan Al-Qur`an dan Hadits merupakan bahan mentah. Maka ia perlu diolah atau “dimasak”. Ulama, ustadz, dan da’i merupakan koki yang memasak hingga tersaji dan siap “dikonsumsi” umat. Dengan analogi itu, maka dalam memasaknya ada faktor selera dari tukang masak sehingga beragam warung menyajikan hasil ramuan yang berbeda-beda. Untuk itu umat diharapkan tidak terjebak pada sikap dan perilaku yang hanya menyantap masakan para ustadz tanpa perlu melihat bagaimana proses terjadinya masakan itu.

Maiyah yang memiliki akar etimoligis dari bahasa Arab yang artinya kebersamaan, dengan berangkat dari analogi Cak Fuad tersebut hanyalah salah satu “warung Islam”. Warung Maiyah dicirikan dengan adanya proses belajar yang mengutamakan kebersamaan dalam proses memasak isi kandungan Alquran dan hadits (bersama-sama mendekat kepada Allah, menjernihkan pikiran, dan mencari serta menemukan kebenaran Allah) sehingga melahirkan kesetiakawanan yang saya sebut sebagai imagined solidarities (meminjam istilah Asef Bayat) yang merupakan pilar utama Harmoni Sosial.

Setidaknya ada 7 prinsip Islam yang terus dikembangkan dalam Maiyah untuk menciptakan harmoni Sosial, yaitu bahwa: Manusia itu satu umat, Agama Allah itu satu, Hak-hak dasar manusia (harta, jiwa, dan kehormatan) harus dihormati, Antara agama dan budaya itu harmoni Tuhan-manusia, Antara ibadah dan muamalah itu tidak bisa dipisahkan, Ummatan wasathan menjadi acuan bersikap, dan Menyikapi perbedaan sebagai sunatullah dan rahmat.

Pak Gitadi Tegas Supramudyo, pakar kebijakan publik dan pengajar di Departemen Ilmu Administrasi Negara Fisip Unair menggarisbawahi bahwa dalam banyak kasus, proses pengambilan kebijakan publik di negeri ini memang sarat kepentingan dan sarat ketidaktahuan, sehingga perlu ada sebuah model gerakan baru yang mampu memutus dua mata rantai tersebut. Maiyah yang memiliki karakter dialog otentik dan partnership yang kuat dan ciri-ciri gerakan sosial baru yang realistis, otonom, dan berbasis bukti bisa menjadi sumber data bagi kebijakan yang lebih deliberatif dan sesuai dengan agenda setting problem sosial yang ada di Indonesia. Meskipun demikian, untuk memastikan bahwa perspektif baru gerakan sosial inovatif yang diusung oleh Jamaah Maiyah dapat diaplikasikan, perlu adanya penguatan kelembagaan dan networking dengan stakeholders utama yang selama ini menjadi penentu kebijakan publik.

Sedangkan dari perspektif perubahan sosial, Mas Proyogi R. Saputra melihat Maiyah dalam Pusaran Disrupsi Gerakan Sosial Keagamaan sebagai sebuah nilai universal yang koordinatnya tidak berada pada satu titik dan belum ditemukan rumusan bakunya. Layaknya Go-Jek di era disrupsi bisnis yang belum banar-benar bisa secara tepat dirumuskan apakah sebagai sebuah pusahaan transportasi, perusahaan logistik atau kurir, perusahaan financial fechnology (Go-Pay), perusahaan ticketing (Go-Tix), atau bahkan penyedia jasa panti pijat (Go-Massage) dan salon kecantikan (Go-Glam). Semuanya tidak jelas, namun yang pasti ia meniru prinsip “shodaqoh” dalam hal menyediakan sesuatu yang dibutuhkan orang.

Berangkat dari buku Indonesia bagian dari Desa Saya yang ditulis Cak Nun tahun 1983, mas Yogi menyebut Maiyah sebagai Imagined Village atau dalam bahasa Cak Nun disebut dengan Jannatul Maiyah yang memiliki visi utama pada maiyatullah dengan pemuaian nilai spiritual dan pemikiran keislaman (mendekonstruksi tafsir teks-teks agama untuk “menggali Islamnya Rasulullah”), dan pemikiran keindonesiaan (dengan idiom “bersedekah kepada Indonesia”).

Joko Susanto, dari departemen Hubungan Internasional FISIP Unair, mencoba mengelaborasi dua jenis pendekatan resolusi konflik secara global, yaitu preventive diplomacy yang cenderung berbeda antara dunia Barat (mengutamakan sanksi) dengan dunia Timur (mementingkan negosiasi).

Menurutnya, dalam dunia ilmu politik, mengutip Jacques Ranciére (1995), sejak zaman klasik di era Plato (Archipolitics), politik sudah menjadi sumber pelembagaan konflik yang dilihat sebagai sesuatu yang ideal (memilih wakil Tuhan di muka bumi) yang manifestasinya masih ada saat ini. Yaitu melalui kelompok yang mengusung politik khilafah dan mengharamkan demokrasi. Sehingga satu-satunya wakil Tuhan yang layak memimpin peradaban adalah kelompoknya.

Kelompok kedua adalah gelombang politik yang diprakarsai oleh Aristoteles (Parapolitics) yang lebih menekankan kontrak sosial dan nilai-nilai awal demokrasi. Kelompok terakhir adalah era Karl Marx, Michel Faucault dan seterusnya yang menganut Metapolitics atau politik apa adanya dengan memberi ruang yang luas pada forum-forum alternatif di luar sistem kekuasaan negara.

Maiyah memiliki karakteristik politik yang terakhir, bahkan mengandung kedua aspek sebelumnya, dan dilengkapi dengan nilai-nilai spiritual dan metode pendekatan yang sangat estetis yang sudah lama tidak muncul ke permukaan sejak munculnya Orde Baru.

Dari sekian materi yang dipaparkan dan kemudian didiskusikan dengan peserta, simposium ini sebenarnya hanya latihan awal yang mencoba membawa diskursus dan manajemen forum ala Maiyah yang sering digelar bersama Cak Nun dan KiaKanjeng melalui Sinau Bareng. Yang saat ini sudah bermetamorfosis menjadi lebih dari 60 simpul ke arena kampus yang fakultatif dan konon memiliki tradisi penelitian dan objektivitas yang tinggi.

Terbukti, di forum akademis, Maiyah bisa lebih banyak berbicara dan dibicarakan dalam berbagai spektrum. Namun sebaliknya, di forum Maiyah, akademisi sering menemukan kedangkalan logika, ketidakharmonisan analisis, dan kebuntuan sudut pandangnya karena dasar ilmunya fakultatif, bukan universal atau universitas yang mendekati manusia seutuhnya.

Saya tidak sanggup menyimpulkan, hanya bisa membayangkan. Suatu saat, jika acara simposium semacam ini sudah bisa dilakukan di semua kampus dan kantor-kantor pemerintah, ormas, LSM, dan parpol menggunakan manajemen Maiyah yang lebih utuh, yaitu dengan spirit shodaqoh tanpa tergantung adanya rencana anggaran biaya (RAB), kepanitiaan minimalis namun fungsional, dilakukan di malam hari ketika suasana pikiran dan hati mayoritas orang sedang rileks, dengan aneka rupa alternatif musik atau perangkat estetika lain yang disesuaikan dengan tema diskusi, diselingi humor-humor reflektif yang mencoba menertawakan diri sendiri, dan disirami dengan butir-butir kalimat spiritual yang dirangkai dengan sastrawi, barangkali the labyrinth of conflict yang ruwet akan secara otomatis terlihat jalan keluarnya seperti model sebab-akibat sebagaimana diuraikan Mas Hokky sebelumnya.

Kapankah hal itu bisa terwujud?

Entahlah, karena jika mengandalkan negara dan aparaturnya sebagai inisiator, mulai dari proses pemilihan pucuk pemimpinnya, manajemen administrasi birokratisnya, bahkan mazhab kenegaraannya dan sistem pendidikan maupun kurikulumnya yang terus mencirikan, mengekor, bahkan memberi karpet merah kepada prinsip kapitalisme global yang ruh hidupnya adalah persaingan.

Jika mengandalkan kampus-kampus, bahkan Unair yang menjadi tuan rumah simposium beberapa hari yang lalu, khususnya Fakultas Ilmu Soisal dan Ilmu Politik, semuanya sudah memiliki program pasca sarjana dengan daya dukung SDM dan infrastruktur yang lengkap kecuali jurusan antropologi yang hanya memilki program S1 di mana etnografi menjadi ciri khas pendekatannya.

Mengandalkan ormas dan organisasi keagamaan? Justru mereka yang sejak era reformasi adalah aktor dengan laju pertumbuhan yang mengikuti deret hitung namun saling mengklaim kebenaran tunggal mereka masing-masing yang tidak jarang menjadi sumber konflik baru di mana negara sering tidak mampu meredamnya.

Mengandalkan Tuhan? Mungkin ini memang satu-satunya jalan yang harus ditempuh dengan dasar native’s point of view-nya BELIAU, karena lama sekali DIA ditinggalkan oleh orang-orang modern-demokratis-kapitalis, dan belum lama dirintis kembali oleh Jamaah Maiyah.

Buku Cak Nun