Waras-atul Anbiya

Mukadimah Kenduri Cinta Desember 2018

Sesuatu yang sehat itu sesuai porsinya. Nasi, kopi, rokok, gula dan lain-lain jika porsinya tepat, maka dampaknya adalah sehat. Porsi juga bukan hanya soal takaran, tapi juga tempat dan momentum (ketepatan waktu)-nya.

Sekarang yang terjadi, kita makan, minum, beli baju, bahkan hingga menerima informasi hanya berdasarkan apa yang kita sukai, bukan apa yang kita butuhkan. Sehingga presisinya bukan mana yang baik, tapi mana yang enak. Apa saja yang kita cari hanya berdasarkan pertimbangan apa yang kita sukai, bukan berasarkan apa yang baik bagi kita.

Dalam hal penataan lahan dan pengelolaan sumber daya alam juga misalnya, proses alih fungsi lahan menjadi tidak sehat ketika tidak mempertimbangkan keseimbangan tatanan hidup. Tidak mengherankan jika resapan air hujan tidak maksimal akibat penebangan hutan di hulu, dan dibangunnya bangunan liar  sepanjang pinggiran aliran sungai. Tanpa mempertimbangkan aspek keseimbangan alam, sungai seenaknya dijadikan tempat pembuangan limbah. Padahal, semestinya sungai berfungsi menjadi sumber air bersih bagi masyarakat. Maka layaklah bila satu di antara parameter kesehatan masyarakat suatu wilayah dapat dilihat bagaimana masyarakat memperlakukan sungai-sungai yang mengalir di tengah wilayah mereka.

Air mengalir dari mata air hulu pegunungan, melalui sungai-sungai, melewati desa hingga kota menuju hilir, bermuara hingga lautan. Sepanjang aliran sungai semestinya merupakan ekosistem yang sehat. Menjadi tempat hidup yang nyaman bagi berbagai makhluk hidup. Sekawanan rusa melepas dahaga di bantaran. Di sekitar kaki-kaki mereka berseliweran berbagai jenis ikan dengan warna-warni yang cemerlang. Jernih air hingga menampakkan dasar sungai, menggoda anak-anak manusia yang tinggal di sekitarnya untuk berenang, bermain melawan arus air. Serombongan orang sedang berbanjar di tepian sungai. Berkumur, membasuh muka, tangan, kepala, telinga dan kaki. Bersuci dengan air sungai, untuk kemudian beribadah, bersujud berjamaah di Masjid yang berada di tepi sungai. Mungkinkah itu sungai Ciliwung yang membelah Ibukota Jakarta?

Warasatul Anbiya, dalam terjemahan yang dipahami masyarakat kita adalah pewaris para Nabi, dan yang dipahami selama ini mereka adalah Ulama. Namun, dapat dipahami juga bahwa diciptakannya setiap manusia ditujukan sebagai Khalifah sudah diwarisi kelengkapan berupa badan, akal, jiwa, nyawa, nafsu, syahwat dan sebagainya secara sempurna. Semua itu mengalami proses pengalamannya masing-masing di tengah kehidupan masyarakat untuk menunjukan akhlak-nya. Apakah akan menjadi penerima warisan akhlaknya nabi atau justru bakal jatuh terjerembab menjadi seperti hewan yang paling hina? Ulaika ka-l-an’am bal hum adhollu.

Menggunakan teori evolusi 6 tahap (hari), setiap orang akan mengalami prosesnya masing-masing melalui tahap ke-5 menjalani hari-hari sebagai manusia Abdullah. Lebih tepatnya lagi adalah pola hidup, budaya, tradisi, lelaku sehari-hari untuk taat dan mengikuti ketetapan-ketetapan Syariat dan Sunatullah. Kalau melihat dari leluhur Jawa, pola kesehatan ini terwujud dengan berusaha mendengarkan dan bertindak sesuai kata hati, hati yang selalu tenang, damai dan tenteram. Tentu dengan menjalani kehidupan abdullah di tengah masyarakat manusia yang masih berada pada tahap evolusi empat minus, menjadi pengalaman personal untuk berusaha belajar kreatif dan lincah di tengah kehidupan masyarakat yang tidak kompatibel dengan kehidupan diri yang sedang dialami. Merasa tidak nyaman dengan lingkungan masyarakatnya.

Masyarakat saat ini sedang sakit. Pendidikan generasi seolah hanya dibebankan pada institusi sekolah, tetapi para pendidiknya dibayar murah. Sebaliknya media massa menyajikan suguhan yang tidak mendidik. Hiburannya bukan untuk menggembirakan masyarakat, justru menghipnotis penonton untuk larut dalam fantasi-fantasi. Informasi yang disuguhkan bukan berdasarkan kebutuhan untuk menyampaikan informasi yang baik dan sehat. Rumusan bad news is a good news semakin nyata adanya. Kebudayaan tidak mengakar pada masyarakat, tapi sekadar menjadikan masyarakat sebagai konsumen pemuja sensasi-sensasi selebriti.

Demi rating, media terus mempertontonkan polarisasi orientasi politik dalam demokrasi, ini semakin melumpuhkan nasionalisme. Kebhinnekaan yang semestinya menjadi wadah perbedaan dalam demokrasi, justru dijadikan atribut untuk melainkan lawan yang berbeda. Agama tidak menjadi ruh demokrasi, malah diperalat untuk sekedar mendapatkan simpati. Tuhan dimonopoli. Suara tuhan suara rakyat, politisi melamar menjadi nabi-nabi demokrasi. Partai politik nyatanya tidak mampu memberikan teladan yang sehat untuk memberikan pendidikan politik. Dari satu contoh kasus, money politic misalnya, masyarakat pada akhirnya sudah imun dengan perilaku buruk berdemokrasi di Indonesia, pembagian amplop menjelang pemilu dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja dan sudah menjadi semacam permakluman bersama.

Dalam buku Surat Kepada Kanjeng Nabi, Cak Nun menulis tulisan yang berjudul “Imunitas Kultural”, dalam tulisan itu masyarakat yang setiap hari mencium bau tinja, lama-lama terbiasa dengan aroma tinja. Pada akhirnya, kekebalan itu juga bukan merupakan tanda kesehatan, karena manusia menjadi tidak peka terhadap segala sesuatu yang masuk ke dalam dirinya karena imun. Hari ini, kita begitu sering memaklumi berbagai peristiwa yang sebenarnya tidak tepat. Namun kita semakin terbiasa memaklumi. Mungkinkah hari ini kita sudah imun dengan segala kerusakan-kerusakan yang ada di depan mata? Sehingga dengan mudah mengesampingkan substansi dari kemurnian nilai-nilai kehidupan yang seharusnya ada.

Waras-atul Anbiya, kita disuruh untuk mengikuti pola kesehatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bukan sekadar sehat ukuran medis tapi juga akhlak Rasulullah. Bukan sekadar higenisnya makanan dan minumannya, tapi juga berhenti makan sebelum kenyang dan makan sebelum lapar. Pola hidup Rasulullah Saw bukan hanya berdampak pada sehatnya badan, namun juga pada jernihnya akal dalam berpikir, sehingga segala laku hidup, keputusan hidup, kebijakan yang diambil oleh Rasulullah Saw tidak pernah merugikan orang lain, bahkan terhadap orang yang tidak simpati kepada Islam sekalipun beliau mengusahakan bagaimana caranya agar semua orang dirangkul dan juga diayomi.

Waras-atul Anbiya, menjadi judul Kenduri Cinta edisi akhir tahun ini, 21 Desember 2018. Seperti biasa, silahkan hadir berbahagia dan bergembira, kita Sinau Bareng, semoga tidak diliput oleh media.

Buku Cak Nun