Urip Sesemutan

Mukadimah Bangbang Wetan Juli 2018

Dalam 3-4 tahun terakhir, acara maiyahan yang sejatinya adalah pengabdian Cak Nun dan KiaiKanjeng kepada nilai-nilai kemanusiaan sebagai “syahadah” atas tujuan penciptaan, semakin banyak dihadiri oleh masyarakat. Menariknya, masyarakat yang menghadiri ini adalah dengan spektrum sosio-antropologis yang sangat lebar dan cair. Baik dari sisi demografis, agama, kondisi ekonomi, pandangan social politik dan variabel sosio-antropologis lainnya. Lebih menarik lagi, kesemuanya hadir tanpa harus “menjadi orang lain”, melainkan tetap dengan dirinya sendiri. Yang menjadi kesepakatan umum dan konsensus bersama yang mengikat adalah semuanya harus saling mengikatkan diri pada perjanjian kemanusiaan untuk saling menghormati dan mengamankan satu sama lain.

Bukti empiris terbaru adalah acara maiyahan di kampus PENS (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya) beberapa hari yang lalu. Maiyahan di PENS tersebut bukan yang pertama, melainkan sudah rutin diadakan oleh civitas akademika PENS pada Dies Natalisnya. Dari tahun ke tahun penyelenggaraannya, semakin banyak jamaah yang menghadirinya.

Dan hal tersebut juga dengan mudah ditemui pada maiyahan di tempat lainnya. Bisa dikatakan, jamaah yang menghadiri maiyahan MENYEMUT.

Acara maiyahan adalah serupa gula yang mengundang kedatangan semut-semut pendamba kesejatian. Semut-semut yang sebenarnya dalam thariqah sunyi mengenali kesejatian dirinya. Semut-semut yang meskipun secara wadag terlihat berjalan sebagai individu, namun ketika diteropong dengan sudut pandang yang lebih jembar dan pendekatan yang lebih makro, sebenarnya bergerak dalam sebuah orkestrasi besar pada sebuah frekuensi tunggal pada spektrum paseduluran.

Memperbincangkan dan mentadabburi ayat kauniyah berupa semut ini, tidak bisa mengelak pada kekaguman akan kekompakan dan orkestrasi jam’iyyahnya. Mas Sabrang pada Mocopat Syafaat dan acara di Sidoarjo menyebut salah satu perilaku semut yang setiap bertemu dengan sesamanya adalah “salaman”, ini sebagai sebuah bentuk “silaturrahmi” semut. Di dalamnya, semut mengecek satu sama lain peran dan tugas dalam koloninya.

Jika dalam pola dan interaksi tertentu, diketahui ada peran dan fungsi yang masih belum atau kurang, maka secara “nature”, seekor semut (entah memiliki ekor atau tidak) akan mengisi peran dan fungsi tersebut. “Itulah yang dimaksud dengen emergence”, demikian Mas Sabrang menegaskan. Dan berdasarkan pangrasa dan observasi beliau, masyarakat Maiyah mulai menunjukkan “indikasi” emergence ini.

Emergence semut-semut maiyah ini mungkin adalah sebuah keniscayaan bagi Maiyah sebagai system social yang berjalan sebagai organisme, bukan organisasi. Ia mengadopsi dan menyerap perilaku alam sebagai sebuah Sistem Organis, bukan Sistem Mekanis. Maiyah adalah meleburkan diri pada tarian alam, tak punya pilihan selain sunatullah.

Mungkin demikianlah salah satu hikmah kenapa Allah dengan sangat terbuka menjadikan semut sebagai salah satu binatang yang diabadikan kisahnya di dialam al-Quran, yang kemudian dijadikan nama surat, selain lebah dan sapi. Jika lebah dikenal dengan nilai kemanfataannya, maka semut dikenal dengan kecerdasan kolektif dan komunalnya. Pertanyaannya adalah: bagaimana jamaah Maiyah terus mengasahnya?