Urep Gawe Opo Lek Nggak Onok Cinta

Liputan Singkat Sinau Bareng FPOTB, Malang 27 September 2018

“Saya bukan orang Malang, tapi karena masyarakat Malang, saya sekarang menetap dan menjadi orang Malang. KTP saya sekarang, KTP Malang.” Kurang lebih begitulah pengakuan Bapak dari Perhutani malam ini. Sesuai tema malam ini, Cinta sebagai Panglima, Bapak Perhutani mengungkapkan kesaksiannya akan cinta kasih masyarakat Malang yang membuat beliau tetap bertahan dan lebih memilih menetap di Malang.

Turut bicara pula malam ini bapak Pendeta dari salah satu Gereja di Malang. Beliau mengungkapkan rasa syukurnya akan pemandangan malam ini yang semua bisa berkumpul tanpa sekat. “Kalau bukan cinta, tidak mungkin bisa seperti ini.”

Mengingat gaya cinta Nusantara yang khas, tidak sedikit yang mencoba mengobrak-abrik atmosfer cinta yang ada di Nusantara ini. Atas kondisi ini, Bapak Pendeta pun meminta Mbah Nun untuk memberikan sedikit tanggapannya akan situasi ini. Apa dan bagaimana sebaiknya yang perlu kita lakukan menyikapi hal ini.

Jika biasanya Sinau Bareng diadakan di lapangan, malam ini Sinau Bareng digelar di sepanjang jalan. Mulai dari para pemuda, orang-orang tua, anak-anak, dan balita semua membaur di sepanjang jalan. Sekilas, para pemudanya pun juga tampak dari berbagai kalangan. Ada wajah-wajah para mahasiswa, para pekerja, sampai anak punk pun hadir juga untuk ikut Sinau Bareng di sini.

Pemandangan ini seolah menggambarkan jamaah Maiyah Malang yang penuh warna. Ada banyak karakter yang mewarnai jamaah Maiayah Malang. Mulai dari para pemuda sampai yang dituakan, semua mempunyai keunikan tersendiri. Bahkan jamaah dari setiap daerah yang ada di Malang pun punya karakter-karakter tersendiri. Dengan semangat berbagi dan memancarkan cinta, semua berjalan berbarengan tanpa ada rasa saling meniadakan. Yang jelas, yang saya tahu, dari segala perbedaan yang ada, semua saling berlomba untuk melayani dan berbagi.

Dan yang pasti, Sinau Bareng malam ini diselenggarakan oleh FPOTB, apa itu, Forum Pemuda Ora Terhormat Blas, yang tak lain adalah wadah para pemuda Kecematan Dau Kabupaten Malang.

Ya, Sinau Bareng malam ini teranglah menghadirkan cinta tersendiri bagi masyarakat sekitar. Antusias warga sekitar sudah bisa dirasakan sejak 600 meter sebelum tiba di lokasi. Masih jauh dari lokasi panggung, tapi beberapa warga sudah ada yang menyediakan tempat parkiran dan menjaga kendaraan para jamaah sampai sinau bareng selesai digelar. Di sepanjang jalan yang menjadi lokasi Sinau Bareng pun banyak warga yang menjajakan barang dagangannya. Warga menyambut Sinau Bareng ini dengan wajah sumringah. Sembari sinau bareng, mereka juga mencoba melayani jamaah dengan berbagai jajanan, makanan, dan berbagai dagangannya yang diharapkan mampu menjadi lantaran datangnya berkah dari Tuhan.

Seperti sering disinggung Mbah Nun, kalau sudah cinta, sekat pun akan melebur dan tak lagi ada. “Aib” tak lagi ada, karena yang tersisa tinggallah mesra. Seperti malam ini, gerombolan pemuda itu mendadak meledak tawa bahagianya. Saat ada suara “tiiitttt…” yang entah dari mana sumbernya. Tanpa perlu disebarluaskan, setiap kita yang mendengar pun akan paham suara apa itu sebenarnya.

Coba bayangkan kalau tidak ada cinta di sini. Bisa saja bukan kemesraan dan guyub rukun yang terjadi. Tanpa cinta, suara yang mengundang gelak tawa tadi, bisa jadi justru akan mengundang perselisihan dan ketidakenakan hati. Benar kiranya apa yang disampaikan Mbah Nun, “Urep gawe opo lek nggk onok cinta.” Hidup buat apa kalau tidak ada cinta. Hampa. Meminjam bahasa para pujangga, “Tanpa cinta, hidup bagaikan taman tak berbunga”.

Buku Cak Nun