Daur-II • 316

Ujung Jalan Sunyi

Pakde Tarmihim memotong suasana, “Tolong sekarang kita berkonsentrasi mencari apa benar perasaan kita bahwa Mbah Markesot kalian ada di sini. Dan kalau ternyata ada, masing-masing kita harus siap menyatakan atau menanyakan sesuatu kepada beliau”.

“Kalian anak-anak muda mestinya masih punya waktu cukup banyak”, Pakde Sundusin menambahi, “tetapi kami orang-orang tua rasanya sudah terlalu sempit waktunya untuk terus-menerus tidak tahu”

Pakde Brakodin menegaskan: “Selama ini hampir tidak ada sisi, sudut, bagian atau keseluruhan keadaan yang belum dijelaskan oleh Mbah Sot. Di samping kita akan minta pertanda tentang apa yang seterusnya kita lakukan di tengah Jalan Sunyi ini, kita perlu mengejar sebanyak mungkin pemahaman dan pengertian”

“Saya yang paling mentah di antara kita bertujuh”, sahut Toling, “benar-benar butuh pengetahuan untuk saya yakini: apakah Manusia, Dunia dan Negeri yang gagal paham terhadap kita, ataukah kita yang sebenarnya gagal paham kepada mereka”

“Saya juga minta ketegasan dengan eksplisit pesan Mbah Sot yang menganjurkan kita, terutama kaum muda, untuk berhijrah ke Negeri Maiyah”, berurutan mereka mengajukan maksud dan usulan, “Memang Maiyah itu apa hasilnya? Apa perannya untuk perbaikan keadaan dan perubahan zaman?”

“Coba cari kata ‘hasil’ di Al-Qur`an, terutama tentang tuntutan Allah atas hasil perjuangan manusia. Ada nggak? Paling-paling yang ada kata ‘akibat’, dan bagaimana kalau ternyata kita tergolong di kategori ini: ‘Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu’” [1] (Al-An’am: 11).

“Sependengaran saya Mbah Sot pernah bilang: Apa yang bisa diandalkan dari ummat manusia di zaman ini. Kebanyakan mereka beramai-ramai terperosok menuhankan yang sama sekali tidak memenuhi syarat untuk disebut Tuhan. Perpolitikan dunia dan peradaban ilmu mereka tidak memiliki resistensi terhadap gelombang Iblis. Jangankan membedakan mana Iblis mana Malaikat”

“Saya juga akan menanyakan banyak detail tentang apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan Asyiki Qur`an Maiyah Suburkan

“Saya mendengar bahwa masyarakat Maiyah sangat menahan diri untuk tidak menjadikan Maiyah sebagai Madzhab, Golongan, Aliran, Institusi, serta padatan-padatan lain, karena titik berat prosesnya adalah “liutammima makarimal akhlaq”. Apa pandangan dan penjelasan Mbah Sot tentang itu”

“Setelah kami semua disandera di Jalan Sunyi, di Ruangan Asing, sehingga semakin lama semakin kehilangan persambungan dengan lingkungan hidup normalnya manusia—lantas ke mana? Lantas apa? Lantas disorong untuk berbuat apa lagi? Ke mana tujuannya? Di manakah ujung Jalan Sunyi ini nanti? Apa hasilnya? Apa yang kami peroleh di ujung jalan itu? Mbah Markesot melatihkan keseimbangan dan kesehatan hidup, sehingga kami pun menjadi mengerti betapa tidak seimbangnya kehidupan ummat manusia sekarang ini. Tetapi apakah Jalan Sunyi ini jawabannya? Di mana dan apa ujung Jalan Sunyi ini?”

Sampai di sini Pakde Tarmihim terdengar suara tertawanya: “Apakah Jalan Sunyi ada ujungnya? Apakah perjuangan ada akhirnya?”. Kemudian, “Nanti begitu kita dipindahkan oleh Baginda Izroil ke alam berikutnya”, Pakda Brakodin menyambung, “salah satu yang kita sesali adalah pernah menghentikan perjuangan tatkala bertugas di dunia…”.

Yogya, 28 Februari 2018