Tuturut Munding

Mukadimah MaSuISaNi September 2018

Istilah Tuturut Munding ini awalnya muncul dari daerah Sunda dan sudah menjadi bagian dari bahasa keseharian di daerah Jawa Barat. Tuturut Munding mempunyai makna suka ikut-ikutan meniru tingkah laku orang lain, plagiat atau bisa disebut tidak punya pendirian tetap.

Meniru merupakan perilaku manusiawi, karena meniru adalah proses dari suatu pembelajaran dan ini sangat penting terutama ketika pada masa saat usia belia sampai masa kanak-kanak dulu. Kita mungkin tidak akan bisa melafalkan mama, papa bahkan kata AiLafYu kalau di waktu itu tidak meniru dari orang tua kita, guru-guru atau orang lain. Mungkin juga tidak akan bisa menulis dan membaca kalau tidak meniru ajakan orang tua atau guru-guru dahulu.

Harus diakui, tanpa meniru kita tidak bisa apa-apa.
Meniru tidak selamanya benar. Seringkali apa yang ditiru tidak mencontohkan hal yang pantas untuk ditiru dan ini mulainya Sindrom Tuturut Munding di kalangan kita saat ini.

Di masyarakat secara umum banyak sekali yang mengikuti trend Tuturut Munding dalam kehidupan kesehariannya. Bahkan menjadi trend gaya hidup apalagi yang sudah menggunakan teknologi seluler dalam kehidupan sehari-harinya. Contoh-contoh perbuatan asusila para remaja zaman now kebanyakan karena berkaca pada tuturut munding pada perilaku amoral yang dipertontonkan para selebritas.

Misal bentrokan antar pelajar atau perilaku para pelajar di beberapa sekolah atau daerah yang sering bolos pada jam-jam pelajaran sekolah. Seakan Tuturut Munding atau berguru pada para anggota dewan yang sering absen dalam rapat paripurna atau lainnya. Dan ini yang pada akhirnya menjadi pokok permasalahan dalam kehidupan keseharian mereka.

Bagaimana tidak, konotasi buruk dari istilah tuturut munding sudah mendarah daging pada masyarakat dan anak–anak zaman now.

Jika mereka tidak tuturut munding atau “menyontek”, automatis cap paten sebagai orang yang ketinggalan zaman dan teknologi akan disandang yang berujung pada bullying.

Hingga pada akhirnya mereka lebih baik kehilangan sesuatu momen terpenting dalam keluarga ataupun diri sendiri demi mendapatkan informasi dan berita media sosial sehingga tak pernah lepas dari gadget mereka.

Kejamnya informasi tanpa batas dan filter pada setiap berita memanfaatkan generasi tuturut munding yang sekarang menjadi trend di kalangan anak muda millenial.

Informasi menyesatkan hingga berunsur hoaks, politik dan sara seakan–akan menjadi konsumsi yang sangat dibutuhkan oleh orang–orang yang ingin punya kepentingan saat ini.

Bukan hanya itu. Aplikasi dewasa saat ini menuai popularitas dengan segmen anak muda berbasis video tanpa peraturan dan etika yang berazas pada kebebasan tanpa mempedulikan norma. Sehingga kita harus ekstra mengawasi lingkup kita tanpa harus membatasi, karena tuturut munding-nya zaman saat ini.

Bukan salah pada makna kata tuturut munding yang mewabah bak virus di kalangan remaja dan tua, tetapi cara menyikapi yang harus kita telaah lebih dalam, karena sisi baik dari tuturut munding ada benarnya.

Merubah mindset dari keabu–abuan menjadi putih itulah yang saat ini kita lakukan.

Meski berat dan sulit, hal ini menjadi tanggung jawab kita demi masa depan anak-cucu nanti tanpa meninggalkan teknologi dan perkembangan zaman era millenial saat ini.

Melingkar dan memaiyahkan diri sebagai modal awal di mana kita mampu membawa diri di kehidupan bermasyarakat. Berani menyampaikan pendapat, mampu berkarya dan ikut serta dalam kontestasi cerdas dalam menyikapi segala bidang permasalahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam kesempatan Maiyah kali ini kami ingin mengajak generasi millenial penerus bangsa tuturut munding dalam hal positif terutama generasi yang terbelenggu suaranya oleh ketakutan, kegelisahan dan keresahan pada jiwanya. Di mana mereka merasa butiran debu yang tidak berguna.

Menanamkan jiwa kepemimpinan, solidaritas, positif thinking dan wirausaha mandiri tanpa melupakan garis dari sang penciptanya. Membuat generasi aksi dan inovasi bukan ambisi tanpa solusi. Maka dari pada itu kita memulainya dari titik ekor permasalahan saat ini.

Kunci keberhasilan tuturut munding positif ada pada beberapa faktor, di antaranya:

TEKAD DAN YAKIN

Tekat kuat tanpa disertai ambisi, membangun diri menjadi lebih baik dalam kehidupan, yakin pada Sang Pencipta bahwa dia ada sebagai penuntun ke jalan kebenaran di setiap apa yang kita kerjakan.

JUJUR

Menanamkan kejujuran dalam setiap berpendapat, berani mengakui kesalahan dan berusaha memperbaiki diri. Tidak turut serta dalam kebohongan, kecurangan karena pada saat kita merasa aman di situlah kita di ambang kesusahan yang akan memasukkan kita pada lubang hitam tak berujung.

ULET

Selalu mencari inovasi, ilmu sejalan dan hal baru dalam berkarya.

MANAJEMEN

Mengendalikan diri dalam segala hal termasuk emosi, finansial hingga waktu di mana kita hidup di dunia ada dua peristiwa hidup dan mati.

Demikian yang akan kami bawakan pada kesempatan Maiyahan kali ini sebagai multi sarana Sinau Bareng bersama generasi millenial yang menganut prinsip tuturut munding. Sehingga dalam setiap pertemuan-pertemuan yang akan datang millenial dapat saling bertukar pikir ilmu dan pendapat.

Dan itu menjadi tujuan kami dalam lingkar Maiyah MaSuISaNi ke depannya. Meghapus konotasi negatif tuturut munding: Urip mung benalu. Urip koyo kebo. Dll. Karena pada dasarnya kita terlahir dalam keadaan tuturut munding dan menjadi paradigma kita di setiap kehidupan sehari-hari. Tanpa tuturut munding kita tidak akan pernah mengerti bahasa yang diucapkan orang tua kita. Pada saat kecil memulai tuturut munding bahasa mereka bermasyarakat hingga tingkah laku.

Dengan ini sebagai orang tua dan bakal calon orang tua sangat berperan aktif karena setiap apa yang kita lakukan menjadi panutan bagi mereka.

Kami harapkan dengan penjelasan tentang makna tuturut munding kali ini bisa membangkitkan dan membuka wawasan untuk saling bertukar pikiran, pendapat dan gagasan dalam segi positif yang membangun untuk semua jamaah Maiyah “MaSuISaNi” Bali. Sehingga dapat membantu notulen dalam penulisan dan jawaban atas keresahan kita saat ini.

Catatan terakhir, Munding atau Kebo seharusnya diangon bukan dituruti dan sudah selayaknya kita menjadi penggembala bukan yang digembalai.

Buku Cak Nun