Tumpeng Madangan

Mukadimah Jamparing Asih November 2018

Kiranya seperti itulah judul yang kami ambil untuk Majelisan Maiyah Jamparing Asih kali ini.

Lantas apa itu TumpengMadangan?

Singkat kata, kami terinspirasi judul tersebut ketika Simbah Maulana Muhammad Ainun Nadjib menengok gubuk kami, selaku anak-cucunya yang tinggal dan berusaha menyebarkan benih-benih cinta kasih (maiyah) di Tanah Sunda. Kehadiran Mbah Nun tentunya menambah semangat kami untuk terus berproses menjadi manusia yang senantiasa menjaga kemurnian dirinya.

Tatkala menjelaskan ilmu pengetahuan melalui proses yang sangat dialektik, beliau menyingung banyak hal. Namun ada hal yang cukup menarik bagi kami selaku anak-cucunya. Sembari kami menyuguhkan Nasi Tumpeng yang kami hidangkan pada beliau dan seluruh teman-teman yang hadir dina raraga [dalam rangka] mensyukuri Milad ke-3 Jamparing Asih, Mbah Nun kemudian teringat akan suatu hal tentang Nasi Tumpeng. Ringkasnya beliau sedikit memaparkan serpihan sejarah bagaimana dahulu Kanjeng Sunan Kalijaga memodifikasi bentuk tumpeng agar sesuai dengan pola bermasyarakat dan alam pikir masyarakat Jawa pada masa itu.

Kemudian judul maiyahan kali ini juga terinspirasi dari perkataan Prabu Agung Resi Cakrabuana atau masyarakat Sunda pada umumnya lebih mengenalnya sebagai Prabu Tadjimalela. Seorang Raja, Resi dari daerah Sumedanglarang yang pernah berkata: “Insun medal Insun madangan” yang berarti “Saya dilahirkan, saya menerangi”. Kami pun mengambil kata “madangan” yang berarti menerangi untuk melengkapi kata ‘tumpeng’ itu sendiri. Mengapa demikian? Seperti kita ketahui bersama bahwa ‘nasi tumpeng’ adalah kuliner khas yang identik berada di pulau Djawadwipa dan Bali. Dengan bentuknya yang estetik, sebenarnya terdapat filosofi sendiri di setiap bagian-bagian sudut tumpeng. Sepertinya nasi tumpeng telah ada jauh-jauh hari sebelum Islam masuk dan menyebar di Pulau Jawa. Bisa dikatakan bahwa nasi tumpeng merupakan buah karya dari peradaban Nusantara sejak zaman dahulu.

“Tumpeng” bisa digambarkan sebagai nasi yang dihidangkan dalam bentuk seperti ‘kerucut’. Sajian khas ini dapat kita jumpai dalam berbagai acara perayaan atau selamatan, baik di desa-desa maupun di kota-kota besar dalam lingkup Pulau Jawadwipa saat ini. Dalam tradisi budaya Sunda, Jawa dan Bali, tumpeng biasanya merupakan hidangan dalam tradisi atau upacara tertentu. Maka dapat dikatakan bahwa tumpeng merupakan sajian yang sakral dan memiliki makna filosofis-simbolis. Kehadiran tumpeng dalam tradisi atau upacara tertentu memiliki makna yang “dalam”, begitu pula dalam materi tambahan tumpeng itu sendiri.

Nasi Tumpeng yang berbentuk kerucut, ditempatkan di tengah-tengah dengan bermacam-macam lauk-pauk, yang disusun di sekeliling kerucut tersebut. Penempatan nasi dan lauk-pauk seperti ini, bias disimbolkan sebagai Gunung dan Tanah yang Subur di sekelilingnya. Tanah di sekeliling gunung dipenuhi dengan berbagai tanaman dan lauk-pauk. Hal itu semua sebagai simbol atau tanda yang berasal dari alam. Tumpeng merupakan symbol ekosistem kehidupan. Kerucut nasi yang menjulang tinggi melambangkan ke-Agung-an Tuhan Yang Maha Pencipta. Sedangkan aneka lauk-pauk dan sayuran merupakan simbol dari kandungan isi alam ini.

Nasi tumpeng yang berbentuk seperti gunung itu sarat nilai filosofis dan simbolis. Gunung dalam tradisi Sunda, diidentikkan sebagai tempat Yang Maha Tinggi, dalam konteks makrokosmis diri dengan alamnya. Dalam tradisi upacara masyarakat Sunda, pada puncaknya melakukan pemotongan bagian atas dari ‘nasi tumpeng’ (Puncak Manik dalam Istilah Sunda). Pemotongan ini dilakukan oleh orang yang di’tua’kan atau dihormati (Tokoh Masyarakat atau Pemangku Adat). Peristiwa ini adalah sebuah ungkapan, bahwa masyarakat Sunda memegang teguh nilai luhur kekeluargaan dan memandang orang tua sebagai figur yang sangat dihormati (Pupuhu atau Kasepuhan). Setelah itu, Nasi Tumpeng disantap bersama-sama atau berjamaah.

Namun ada juga beberapa pandangan bahwa puncak tumpeng sebenarnya jangan dipotong: ia harus di