Tuhan Maha Lucu

Pengantar Diskusi Sewelasan Perpustakaan EAN 11 Agustus 2018

Saya mewakili Penerbit Narasi–dalam undangan juga tertulis sebagai Narasumber–memberi catatan alasan penerbitan buku ini dan sedikit komentar terhadap isinya. 

Sudah lama saya berteman dengan Mas Indra Ismawan (owner Penerbit Narasi), juga kerap berbincang santai dan serius, salah satunya tentang niat baik untuk berperan aktif melestarikan Kearifan Lokal dengan menerbitkan karya-karya klasik Jawa seperti Babad Tanah Jawi, Serat Centhini, Babad Diponegoro, The History of Java, dan sebagainya. Namun karya klasik tersebut belum lengkap rasanya jika tidak dipadu dengan Kearifan Jawa dalam konteks kekinian. Cak Nun adalah jembatan antara masa lalu dengan masa sekarang, menjadi simbol Kearifan Jawa (bahkan Kearifan Nusantara), ini yang menjadi salah satu alasan utama menerbitkan karya Cak Nun ini. 

Lantas apa yang membuat Cak Nun istimewa (setidaknya bagi kami, Penerbit Narasi)? Jawabnya adalah karena Cak Nun itu MANUSIA.

Lha apa yang lain, termasuk kita ini bukan MANUSIA? 

Makhluk seperti kita ini memang berstatus manusia. Tapi kalau dicermati, kebanyakan baru setengah MANUSIA, bahkan ada yang baru seperempat atau sepersepuluh MANUSIA. Masih didominasi unsur robotnya.

Apa buktinya?

Banyak. Misalnya saja, ada orang yang hidupnya diatur oleh sistem dan birokrasi yang rumit, apa-apa harus sesuai prosedur. Bahkan hal yang remeh pun harus sesuai aturan hukum. Hidupnya tidak luwes, kaku kayak robot. Kata Cak Nun, “Mosok ono bocah, wis kenal apik ro aku, bola-bali mrene, pas njalanke tugas merikso aku neng bandara, deweke kok yo kaku banget. Koyo ra kenal wae. Nganti aku nggowo gunting cilik wae dijaluk, jarene demi keamanan sesuai prosedur. Opo yo aku arep mateni wong nganggo gunting cilik iki, po piye? Koyo durung kenal aku wae” (saya ambil dari Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di Kasihan-Bantul, redaksinya saya sesuaikan dengan bahasa saya sendiri). Banyak kasus seperti ini, nilai-nilai keluwesan sebagai manusia luntur. 

Cak Nun punya cara tersendiri untuk masalah kayak begini, seperti dalam kisah Dilarang Mengeluarkan Anggota Badan dan Pesawat Tujuan Surabaya. 

Sama halnya dengan Hadis Nabi Muhammad Saw, “Berbicaralah kepada manusia sesuai bahasa kaumnya,” makanya seharusnya orang itu luwes dan bisa menyesuaikan diri dengan orang yang dia hadapi. Tapi kebanyakan malah sebaliknya, memperlakukan orang lain sesuai keadaan dirinya, lalu memaksakan kehendak (entah dalihnya tugas atau apa pun, sama saja). 

Dalam beragama pun banyak yang demikian. Fikih atau hukum syariat menjadi patokan utama, bahkan hal-hal yang kecil pun harus disesuaikan dengan hukum Fikih. Masalahnya bukan patuh pada hukum Fikih, itu bagus. Yang jadi persoalan adalah ketika seseorang menjadi kaku – bahkan ada yang sangat kaku–sehingga nilai-nilai manusiawinya menjadi lamur. Ini bisa dilihat dalam kisah Cak Nun yang Rewel, NU atau Muhammadiyah, dan Menolong Tak Mengenal Identitas.

Manusia itu ada 3 tingkatan: basyar, syakhsun, dan insan.

Manusia yang kaku seperti robot itu masih sebatas basyar (manusia jasmaniah). Yang sudah memiliki kepekaan terhadap orang lain sudah menjadi syakhsun (manusia berkepribadian). Dan jika sudah peka, luwes, tepo seliro, bisa menempatkan diri dengan keadaan di mana ia berada, ia layak disebut INSAN (MANUSIA yang mampu menyeimbangkan dua dimensi: lahir dan batin, raga dan jiwa, dunia dan akhirat, kemanusiaan dan ketuhanan).

Melalui buku ini Cak Nun mengajak kita untuk menjadi INSAN, yang bisa seimbang pada dua dimensi hidupnya sehingga bisa menikmati hidup dengan santai, tertawa, dan tidak terlalu spaneng. Sebagaimana ungkapan urip mung mampir ngombe, melalui kisah-kisah ini Cak Nun hendak mengatakan urip mung mampir ngguyu, mampir dolanan, guyonan, ethok-ethokan. Seperti halnya firman Allah Swt, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu sekedar permainan dan guyonan… dan kehidupan dunia itu tiada lain hanyalah perhiasan yang tidak nyata.” (Q.S. al-Hadid: 20). 

Bahkan untuk urusan akhirat dan makhluk gaib pun oleh Cak Nun bisa juga dibuat bercanda, misalnya dalam kisah Orang Madura Membius Malaikat dan Cak Nun Bikin Jin Ketawa. Ini adalah humor khas pesantren.

Dan terakhir–ini paling berkesan bagi saya–bahwa dengan Tuhan pun tak ada salahnya bercanda. Bahkan saking akrabnya, boleh saja njangkar (berbahasa ngoko dan gaul) karena saking akrab layaknya berbincang dengan pacar. Ini ada dalam kisah Ya Allah, Urusan Laut Jangan Dibawa ke Darat dan Ya Allah, Sampeyan Maha Kaya. Saat menghadapi musibah, harusnya kita jangan menyalahkan ini dan itu. Kalau mengeluh malah boleh, tapi langsung kepada Tuhan, dengan cara dialog untuk menumpahkan keluh-kesah. Sambil bercanda juga nggak apa-apa.

Sebagaimana kata Ki Ageng Suryomentaram, “Di kolong jagad ini, tak ada yang perlu dikejar setengah mati, tidak ada pula yang harus disingkiri mati-matian.” Melalui buku ini Cak Nun seakan hendak berkata, “Nikmati saja hidup ini, rileks, santai, kalau perlu disikapi dengan tertawa.” Maka tertawalah karena tertawa itu menyehatkan. Hidup ini sebenarnya lucu karena Tuhan Maha Lucu.”

Saya mewakili Penerbit Narasi–dalam undangan juga tertulis sebagai Narasumber–memberi catatan alasan penerbitan buku ini dan sedikit komentar terhadap isinya.  Sudah lama saya berteman dengan Mas Indra Ismawan (owner Penerbit Narasi), juga kerap berbincang santai dan serius, salah satunya tentang…

Topik

Bangbang Wetan23Cammanallah14Cermin59Esai1418Gambang Syafaat24Hari Santri10Informasi22Jepretan55Juguran Syafaat22Kenduri Cinta68KiaiKanjeng12Letto3Mocopat Syafaat41Musik13Novia Kolopaking5Padhangmbulan46Puisi163Relegi6Reportase660Teater13Wedang Uwuh73