Tuan Rumah Diri Sendiri

Mukadimah Kenduri Cinta Maret 2018

Dalam rukun Iman terdapat pasal Iman kepada Qadla dan Qadar. Dalam menjalani kehidupan, apa yang dialami oleh manusia adalah nasib atas dirinya. Dalam mekanisme Qadla dan Qadar ini, Allah memberikan sedikit keleluasaan kepada manusia untuk berjuang, sehingga manusia juga memiliki sensitivitas dalam dirinya untuk mengidentifikasi manakah nasib yang merupakan Qadla dan Qadar dari Allah yang ditentukan atas dirinya, dan mana yang merupakan hasil jerih payah usaha dan perjuangan dirinya.

Pilihan hidup manusia terhadap pekerjaan, keahlian dalam dirinya untuk menguasai sebuah kemampuan agar dapat bertahan hidup merupakan salah satu kedaulatan yang dimiliki oleh manusia. Atas hak kedaulatan ini kemudian manusia memiliki kesempatan untuk bertahan hidup dan berjuang untuk mengubah nasibnya di dunia.

Atas kehendak Allah Swt kita diberi sedikit hak prerogatif untuk menentukan langkah kita sendiri. Meskipun pada hakikatnya, kita sebagai manusia tetap berlaku dalam kehidupan ini dalam sebuah bingkai skenario besar yang telah disusun oleh Allah.

Jika Malaikat dan Iblis adalah makhluk kepastian, maka Manusia dan Jin adalah makhluk kemungkinan. Atas dasar makhluk kemungkinan tersebut, manusia seharusnya memiliki kemandirian serta kedaulatan atas dirinya sendiri. Kedaulatan dan kemandirian dalam diri manusia harus diperkuat dengan kerja keras dan disiplin yang harus terus-menerus diasah, sehingga fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi akan menemukan titik kesempurnaannya.

Yang mungkin belum kita temukan adalah presisi dan koordinat yang tepat tentang kompatibilitas usaha yang kita lakukan sebagai ijtihad manusia dalam berjuang di dunia dan takdir Allah atas apa yang kita usahakan di dunia. Apakah kita melakukan sesuatu di dunia ini karena memang Allah memerintahkan kita untuk melakukan hal tersebut, atau karena memang Allah mengizinkan kita untuk melakukannya. Bisa juga karena memang Allah membiarkan kita untuk melakukan apapun saja atau pada titik yang lebih tragis lagi; Allah menyesatkan kita dalam sebuah perjalanan hidup yang semestinya tidak kita jalani, sehingga Allah sudah acuh kepada kita.

Malaikat sudah pasti baik, karena ia ya’malu maa yu`maruun, melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah. Sementara Iblis, memang sejak awal di-casting menjadi tokoh antagonis yang selalu diposisikan sebagai pihak yang buruk. Pun demikian, sejatinya Iblis sama sekali tidak berani untuk membangkang kepada Allah. Maka pada sudut pandang yang lebih detail lagi, Iblis pun sebenarnya ya’malu maa yu`maruun.

Bagaimana dengan manusia? Allah sendiri berfirman; innii jaa’ilun fi-l-ardhli kholifah. Sesungguhnya manusia diciptakan di muka bumi ini untuk menjadi Khalifah. Malaikat memiliki kemampuan untuk melihat ke depan, dengan pandangan yang visioner Malaikat telah mengingatkan bahwa pekerjaan manusia hanyalah merusak bumi dan menumpahkan darah. Allah pun berfirman; Innii a’lamu maa la ta’lamuun.

Dengan disematkan “khalifah” dalam diri manusia, seharusnya manusia berdaulat atas dirinya sendiri untuk menentukan ke mana langkah yang akan dilalui, keputusan apa yang akan ia pilih. Faktanya, manusia hari ini tidak benar-benar memiliki kedaulatan akan dirinya sendiri. Manusia lebih sering menjadi pengikut dari manusia yang lainnya dalam menentukan pilihan yang ada dalam hidupnya.

Mulai dari pilihan ekonomi, politik, budaya, tradisi, hingga kehidupan beragama manusia hari ini sama sekali tidak memiliki kedaulatan atas dirinya sendiri. Manusia hari ini hanya mengikuti trend setter, apa yang menjadi panutan dan teladan bagi manusia hari ini adalah apa yang mereka lihat di media massa, media sosial, media cetak, media elektronik dan sebagainya. Manusia tidak benar-benar menemukan orisinalitas dirinya sendiri, yang ia alami adalah duplikasi-duplikasi atas orang lain yang ia terapkan dalam dirinya sendiri.

Manusia hari ini semakin mempersempit cara pandang dalam hidupnya. Bagi mereka agar dapat menikmati kehidupan adalah mereka harus menjadi orang kaya, memiliki uang yang banyak, memiliki mobil, perhiasan, gadget terbaru, rumah mewah dan lain sebagainya sehingga mereka merasa terpandang di hadapan orang lain. Siapa sebenarnya yang telah menentukan standar hidup manusia hari ini?

Allah sendiri menyatakan; wabtaghiy fiima ataakallah daaro-l-aakhirota walaa tansa nashibaka mina-d-dunyaa. Bahwa yang seharusnya kita perjuangkan di dunia ini adalah kehidupan di akhirat. Kita hidup sementara di dunia ini untuk memperjuangkan kehidupan kita yang abadi kelak di akhirat. Allah hanya menitipkan sebuah pesan; walaa tansa nashiibaka mina-d-dunyaa. Jangan lupakan bahwa ada bagian sedikit yang menjadi hak kita sebagai manusia di dunia. Hanya sedikit saja, bukan fokus utama kehidupan kita di dunia.

Sayangnya, manusia hari ini tidak meyakini bahwa ia akan hidup abadi di akhirat kelak. Manusia hari ini banyak yang meyakini bahwa hidup ini hanya di dunia saja, setelah mati maka sudah tidak ada kehidupan lagi. Banyak manusia yang merasa bahwa mereka harus mati-matian berjuang untuk merasakan kebahagiaan di dunia, seolah-olah bahwa kehidupan di dunia ini adalah kehidupan terakhir yang akan mereka alami.

Kembali kepada diri kita sendiri, menemukan jati diri kita sendiri. Itulah sebenarnya pekerjaan berat kita hari ini. Kita sudah terlampau jauh meninggalkan diri kita sendiri, sehingga kita hari ini tidak benar-benar menjadi diri kita sendiri yang sebelumnya sudah kita sepakati dengan Allah. Bukankah setiap manusia sebelum dilahirkan ke dunia sudah menyepakati perjanjian dirinya dengan Allah Swt? Kemudian kita dibuat lupa dengan perjanjian itu, sehingga salah satu tugas kita di dunia ini sebenarnya adalah mengingat dan menemukan kembali apa isi perjanjian kita saat itu.

Fakta hari ini bahwa manusia sama sekali tidak takut mati. Yang ditakutkan oleh manusia hari ini adalah bahwa ia tidak hidup. Sementara pemaknaan hidup bagi manusia hari ini bukan hanya sebatas ia bernafas dan bergerak serta tumbuh dan berkembang saja. Bagi manusia hari ini hidup adalah ia merasakan kehidupan yang layak, memiliki banyak uang, hidup bergelimang harta, ia dikenal luas oleh masyarakat, itulah makna hidup bagi manusia hari ini. Maka banyak sekali manusia berlomba-lomba dan berjuang habis-habisan agar mereka mampu untuk hidup, berdasarkan pemaknaan mereka sendiri. Hingga pada akhirnya mereka lupa bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara.

Waktu akan terus bergulir, dan manusia sesuai dengan fitrahnya menjadi makhluk yang lalai dan abai. Hingga pada saatnya tiba, ia harus berpindah dari dunia menuju akhirat tak ada kemampuan dalam dirinya untuk menunda momentum kematian di dunia. Dan ketika ajal itu tiba, ia sudah terlambat, dan mau tidak mau ia akan mempertanggungjawabkan apa yang teah ia lakukan di dunia. Manusia mati-matian memperjuangkan sebuah ketidakpastian dalam hidup mereka, sementara dalam hidup mereka itu sendiri kematian adalah sesuatu yang sudah pasti terjadi.

Adanya Maiyah, kita manfaatkan untuk belajar bersama, menemukan jati diri kita masing-masing, untuk menemukan siapa dan bagaimana seharusnya kita berlaku dalam hidup ini. Adanya Maiyah, untuk terus mengasah keseimbangan berpikir dalam diri kita, sehingga kita mampu menemukan kedaulatan dalam diri sendiri, kita dapat memilih dan menentukan langkah yang akan kita pilih dengan ikhtiar dan harapan bahwa langkah yang kita pilih juga merupakan langkah yang telah digariskan oleh Allah Swt untuk kita.