Tombo Ati Bapak Kos

Waktu Album Kado Muhammad rilis kali pertama pada 1996, itu adalah tahun kedua saya tinggal di Jogja. Saat itu saya ngekos di sebuah kampung di Yogyakarta utara. Tinggal bersama beberapa teman yang kemudian berevolusi menjadi senasib seperkosan. Kamar-kamar kami terletak di sebelah rumah pemilik kos.

Di depan kamar-kamar kos kami terdapat sebuah mushalla kecil diperuntukkan bagi anak-anak kos supaya bisa shalat berjamaah dan mengaji. Bapak kos kami orang Muhammadiyah. Dan terasa bahwa sebenarnya beliyau pingin menjadikan semua anak kosnya itu sebagai satu keluarga yang Islami atau santri.

Saban hari, beliyau yang telah menginjak usia lansia tapi tetap energik senantiasa ngimami shalat berjamaah di mushalla kecil ini. Usai shalat, terutama maghrib dan subuh, beliyau suka menyampaikan ceramah. Semacam kultum. Saya sebut semacam karena lebih dari tujuh menit. Anak-anak kos itu yang menjadi mustami’innya. Ini juga bagus maksudnya, yaitu memberikan pendidikan plus buat anak-anak kos yang masih labil-labil.

Tapi anak-anak kos ini memang sedang dalam masa pencarian jati diri yang menggairahkan sehingga tak jarang mereka bosan mendengarkan ceramah Bapak Kosnya. Apalagi yang menggemaskan dan bikin gelik adalah beliyau suka cerita “kejayaannya” di masa lalu, dan itu sering diulang-ulang. Asli ini nyebelin, kan?

Kalau lagi capek dan sebel kek gitu, mushalla pun jadi sepi. Pasalnya, sebelum waktu shalat tiba, anak-anak yang tak kunjung paham arti belajar dari sejarah orang tua atau generasi terdahulu itu sudah  migrasi duluan ke masjid yang tak jauh dari kos. Milih shalat jamaah di situ. Karena bisa terbebas dari ceramahnya.

Kasihan juga sebenarnya. Saking sepinya, beliyau sendiri yang adzan di mushalla kos kami, sambil ngedumel tentunya. Yang ikut jamaah akhirnya ya cuma anak-anak kos putri. Maafken, ya Pak! Anak-anak kosmu memang ndablek. Bukan anak kos teladan nan ideal.

Sesuatu agak berubah ketika suatu hari beliyau mempromosikan kepada kami sebuah kaset, kaset baru, yang ternyata tak lain adalah Kaset Album Kado Muhammad. Dengan bersemangat dia endorse kaset ini kepada segenap penghuni kos. Setiap hari dia setel album ini berulang-ulang. Sehingga seluruh penghuni pun mau tak mau harus mendengarkannya dari kamar masing-masing. Lha karena nyetelnya di mushalla tepat di depan kamar kami.

Kemudian, hampir bisa dipastikan, dalam setiap ceramahnya, beliyau selalu bahas kaset ini. Terutama pada nomor Tombo Ati yang membuatnya jatuh hati pada suara Cak Nun. Lambat laun ceramahnya mulai menjadikan album ini sebagai rujukan, dan itu berlangsung cukup lama ke depannya. Lumayan sebenarnya karena bisa menggeser tema kisah sukses di masa lalu.

Kadang sila-sila dalam Tombo Ati itu beliyau pakai buat nyindir kami-kami yang kurang belajar mensholehkan diri. Asyem tenan kok hehe. Terutama sila ketiga: Wong kang sholeh kumpulono. Kami digiring buat punya asosiasi siapa wong kang sholeh dalam konteks kos kami. Jelas tho! Haha. Aslinya saja kami senang melihat hal ini, karena dengan Tombo Ati ini beliyau punya amunisi baru buat menghajar anak-anak kosnya yang bengal dan sulit taat ini.

Tetapi, satu hal yang menurut saya penting, selain dia suka banget kepada Tombo Ati di Album Kado Muhammad ini, diam-diam terdapat pertarungan di dalam hatinya menyangkut sosok Cak Nun yang suaranya disukanya itu. Suatu kesempatan dia bilang kepada kami dengan penuh diyakin-yakinkan, “Cak Nun itu Muhammadiyah kok!”.

Barangkali dalam pemahamannya sebagai orang Muhammadiyah, pepujian semacam Tombo Ati itu lebih dekat sebagai tradisi kaum muslim tradisional, yang dalam hal ini dinisbatkan kepada NU. Sehingga mungkin kurang baik seseorang yang sedemikian rupa mengantarkan keindahan yang masuk ke dalam hatinya kok tidak Muhammadiyah. Cak Nun harus Muhammadiyah lah. Maka beliyau bikin statement di depan kami, “Cak Nun itu Muhammadiyah.” Ia ingin Cak Nun adalah bagian dari dirinya. Ia perlu meng-in groupkan Cak Nun.

Dua puluh tahun kemudian saya baru ngeh akan pengalaman kecil di kos kami itu, bahwa peristiwa itu menyodorkan contoh bagaimana album Kado Muhammad masuk ke dalam hati orang, terutama orang-orang biasa, dan itu menimbulkan suatu proses yang sehat pada diri mereka, yaitu terjadinya peng-counter-an terhadap wacana yang baku atau sudah dominan. Dengan menyatakan bahwa Cak Nun itu Muhammadiyah sebenarnya dia sedang mengkontestasi atau menawar pemahaman baku yang tertanam pada dirinya sendiri mengenai klasifikasi sosial Islam di Indonesia yang sederhananya diwakili tipologinya oleh NU dan Muhammadiyah.

Tumbuh di dalam dirinya suatu agency yaitu kesadaran individu yang mulai bicara di ruang-ruang keseharian atau juga ruang publik untuk menyatakan apa yang dirasakannya di hadapan wacana yang dominan. Bahwa orang tidak selamanya terseret secara otomotis dan bawah sadar akan suatu pemahaman mainstream yang selama bertahun-tahun merasuk dalam cara berpikir.

Tidak perlu dia meninggalkan kotak di mana dia berada selama ini, tetapi yang terpenting adalah berlangsungnya pengalaman agency tersebut pada masyarakat grass root atau ordinary people. Di titik itu mungkin saja kelanjutannya adalah terbukanya suatu keluasan pada dirinya bahwa seseorang bisa tidak NU dan tidak Muhammadiyah dan tetap bisa diterima sesuatu yang baik darinya. Pengalaman me-lintas, me-luas, keluar sejenak dari “struktur”.

Ndilalahnya, memang sudah lama sosok seperti Cak Nun (seperti halnya genre KiaiKanjeng) ini, oleh banyak orang dikenal sebagai, sosok yang out of box. Logis saja kiranya bahwa kaset yang memiliki impact memperkontestasi seperti pada kisah Bapak kos kami tadi ya lahir dari sosok dan komunitas musik yang out of box.

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana respons anak-anak kos tadi ketika bapak kosnya meng-endorse album Kado Muhammad ini. Ketahuilah, karena hubungan yang complicated, anak-anak itu suka jaim di depan bapak kosnya, jadi ya responsnya datar-datar saja. Padahal aslinya mereka semua juga senang dengan kaset ini, dan senang lagi bahwa sudah digratisin bisa mendengarkan Tombo Ati tiap hari tanpa beli kasetnya. Duitnya bisa dihemat sementara buat makan di warung sebelah. Dasar anak kos rembol zaman old.

Yogyakarta, 10 Februari 2018

Waktu Album Kado Muhammad rilis kali pertama pada 1996, itu adalah tahun kedua saya tinggal di Jogja. Saat itu saya ngekos di sebuah kampung di Yogyakarta…