Titis Menyikapi Realitas

Liputan Sinau Bareng CNKK dalam Ruwat Desa Kebonagung, 5 Agustus 2018

Bahasa khas logat Jawa Timuran mewarnai sambutan ketua panitia acara Sinau Bareng Meruwat Desa Meneguhkan Nusantara desa Kebonagung Kec. Sukodono Sidoarjo. “Alhamdulillah, malam ini kita bisa menghadirkan Cak Nun. Beliau ini kelasnya internasional,” ujarnya.

Ungkapan rasa cinta yang tulus. Dari sambutan ketua panitia ketika jamaah terus berdatangan, kemesraan sudah terjalin.

Sebagaimana kebiasaan baik yang selama ini berlaku di desa: kirim doa untuk ahli kubur, mendoakan para sesepuh, menjadi pembuka acara. Doa mohon keselamatan dunia akhirat.

Ketika saya menulis laporan ini, grup di WA juga ramai mengirimkan doa. Beredar berita Lombok Utara diguncang gempa 7.0 SR dan berpotensi tsunami.

Doa istighotsah yang dibaca oleh salah satu sesepuh desa Kebonagung sebelum Sinau Bareng dimulai, semoga beresonansi hingga ke Lombok, menjaga keselamatan kita semua.

Suasana malam ini benar-benar berlimpah kemesraan. Anak-anak kecil bermain di sisi lapangan. Ibu bapak mereka duduk di tikar plastik. KiaiKanjeng memulai Sinau Bareng. Shalawat dan lirik lagu yang diakrabi masyarakat melantun dari para vokalis.

Pukul 20.45 Mbah Nun naik ke atas panggung. Mengenakan peci Maiyah, busana hitam. Jamaah menyambut gembira.

Kepala Desa Sukodono menyapa jamaah. Berterima kasih kepada Mbah Nun, jamaah Maiyah dan masyarakat yang hadir pada Sinau Bareng. “Terharu saya menyaksikan banyaknya jamaah Maiyah dan warga yang memadati lapangan desa Sukodono,” kata Kepala Desa.

Tidak berselang lama, Mbah Nun menyapa jamaah. Saling menjamin keselamatan, hal itu yang ditekankan Beliau. “Assalamu’alaikum itu janji, komitmen, doa atau untuk apa?” tanya Mbah Nun.

Kalau sudah assalamulaikum kita mengikat komitmen terhadap orang lain untuk saling menyelamatkan.

Itu poin pertama. Yang kedua, seremeh apapun kata perlu dilacak, dicari, ditemukan akurasi maknanya. Mengapa hal ini disampaikan pada sesi awal Sinau Bareng? Distorsi kata yang merambah nyaris ke semua bidang dan level cara berpikir menghasilkan kemiringan-kemiringan.

Untuk itu diperlukan ilmu tentang batas. Kesadaran dan kewaspadaan terhadap takaran. Simulasinya, sesenang-senangnya kita dengan gula, kalau bikin kopi tetap memerlukan takaran gula yang pas. Tidak karena senang dengan gula lantas secangkir kopi diisi satu kilo gula.

Kita mencintai istri kita disebabkan oleh karena dia istri kita ataukah karena dia seorang perempuan? demikian pertanyaan Mbah Nun.

Jawabnya, karena dia istri kita. Soal dia perempuan itu pasti. Maksudnya apa? Titis menemukan alasan yang pas, tidak melanggar batas, serta akurat bersikap disimulasikan Mbah Nun secara gamblang.

Kita perlu “titis”, akurat dan presisi saat memandang dan menyikapi realitas. (Ahmad Saifullah Syahid)

Bahasa khas logat Jawa Timuran mewarnai sambutan ketua panitia acara Sinau Bareng Meruwat Desa Meneguhkan Nusantara desa Kebonagung Kec. Sukodono Sidoarjo. “Alhamdulillah, malam ini kita bisa menghadirkan Cak Nun. Beliau ini kelasnya internasional,” ujarnya. Ungkapan rasa cinta yang tulus. Dari…