Tiga Lapis (dan) Revolusi Maiyah, Blueprint Peradaban Masa Depan Dunia

Kembali lagi tanggal 17 dihadirkan, yang merupakan hari raya kemesraan dan ilmu bagi para perindu. Majelis Mocopat Syafaat bulan Desember 2018 kali ini, di dimensi ini juga tetap digelar di TKIT Alhamdulillah, Kasihan, Tamantirto, Bantul.

Setelah ayat suci Al Qur’an Surah Al A’raf dan sholawat serta sendinya message Alfatihah bagi seluruh kaum muslimin dan untuk seluruh semesta, Mbah Nun langsung naik ke panggung bersama KiaiKanjeng.

Mbah Nun langsung membuka bahasan, bahwa walaupun Maiyah selalu spontanitas, tapi bukan berarti tidak ada persiapan. Selalu ada kuda-kuda awal yang dipancangkan, perihal nanti kebutan jurus ya itu memang menyesuaikan pada kondisi yang datang.

“Kalau bisa anda juga datang dengan persiapan”. Sepertinya maksud Mbah Nun adalah kita yang datang ke majelis-majelis Maiyah dari awal sudah punya lembaran kesadaran, pertanyaan, bahkan Mbah Nun katakan, kalau perlu sudah punya semacam kritikan terhadap Maiyah sendiri.

Dalam berbagai majlis Maiyah kita belajar untuk lebih jangkep, walau rasanya masih ada kesan-kesan pengajian pada beberapa orang. Artinya, masih banyak yang datang dengan pikiran dan perasaan sedikit manja, berharap Mbah Nun memberi buah pikiran yang matang dan bulat. Padahal kondisi yang dibangun sebenarnya lebih kondusif untuk mempertemukan segala temuan.

Ada temuan belakangan, dan ini mungkin nanti akan ada kaitannya dengan penelitian yang sedang dibuat oleh Mas Karim yang sedang menyelesaikan studi di Universitas Amsterdam mengenai peran Maiyah dalam keamanan.

Temuan itu, bahwa orang Maiyah untuk sementara ini,bisa dilihat dalam tiga pola. Yang pertama adalah yang Maiyah berguna untuk dirinya sendiri, menemukan berbagai point-point ilmu dan kebijaksanaan dan dipakai dalam hidup sendiri sendiri. Ada orang Maiyah yang sudah masuk pada perubahan-perubahan sistem, yang berada didalam institusi-institusi dan golongan dan mendorong perubahan dalam keberadaan mereka. Ada juga orang Maiyah yang mulai memasak sendiri, menumbuhkan dan bahkan menata taman-taman ilmu kemesraannya sendiri-sendiri.

Tiga ini, semua memang revolusioner. Serevolusioner kelahiran putra Mas Imam hari ini, juga serevolusioner salah satu anak didik Pak Blotong yang mulai didadar untuk berseruling ria bersama pakde-pakde di KiaiKanjeng. Juga serevolusioner malam ini, puisi Pak Mustofa W. Hasyim digeser ke awal acara. “Biasanyakan (Pak) Mustofa tengah-tengah nek udah goro-goro”, ungkap Mbah Nun.

Pembacaan pola macam ini juga memang tidak bisa dipasti-pastikan karena Maiyah walau berusaha untuk memahami berbagai aliran, pemikiran, ormas, maupun thoriqot tapi Maiyah tidak begitu tertarik untuk menginstitusionalkan dirinya. “Karena kalau institusi, akan ada yang terlanjur mendapat keuntungan dan ada yang tidak nyaman dan itu akan membuat anda tidak sadar terkungkung dalam institusi-institusi”.

Secara umum, masyarakat kita sedang berada pada kondisi demikian. Berbagai golongan telah terlanjur menjadi kemapanan bagi berbagai orang. Kemapanan ini tidak sekedar harta dan jabatan saja, kemapanan berada dalam struktur yang didalamnya didapat pengakuan-pengakuan sosial juga sangat bisa menjebak. Dan itu tidak selalu disadari. Tambahan, sejak hewan primata, makhluk seperti kita memang cenderung berkelompok dan berusaha menjadi pihak yang berada di dekat pucuk pimpinan kelompok.

Maka memang para kera, para primata, akan berusaha mempertahankan kelompoknya. Karena kemapanan sudah terlanjur didapat di dalamnya. Kita sekarang menghadapi hal semacam itu. “Orang-orang semakin mudah tersinggung”, apa saja bisa membuat manusia tersinggung sekarang ini dan apa saja itu bisa membuat potensi perseteruan antar kelompok, antar ormas, antar agama dan sebagainya.

Mbah Nun mengajak, kita perlu mengerti apa itu berbagai mekanisme institusi maupun madzhab entah NU, Muhammadiyah,  LDII dan lain sebagainya. Juga kita pahami apa itu ahlusunnah, syiah, dan lain sebagainya. Namun Maiyah memilih untuk tidak terinstitusikan semacam itu. Kita sudah melihat, berdekade-dekade hal semacam ini tidak menyelesaikan masalah bahkan belakangan cenderung menambah potensi persoalan.

Pendidikan modern selain tidak menjadikan manusia subjek, dia juga melupakan bahwa ada Yang Maha Subjek dari segala sesuatu.

Manusia-manusia Maiyah, berusaha untuk terus selalu lebih lengkap dan jangkep. Mencari dan menuju Sang Maha Subjek. Hal yang tidak dilakukan oleh berbagai jenis manusia modern inilah tampaknya yang membuat mantap “ini adalah blueprint masa depan peradaban manusia”.

Baru saja bermula, Mocopat Syafaat baru saja bermula. Maiyah sedang memulai sesuatu yang baru, yang menghargai apa yang lalu namun membuka cakrawala masa depan. Bismillah.