Tidak, Tradisi Tidak Pensiun dan Jibril Masih Mengibar-Kabarkan Tauhid

Reportase Sinau Bareng CNKK dalam Rangka 70 Tahun Desa Sariharjo, 1 November 2018

Kita mungkin perlu bertanya kembali apa itu tradisi? Bagaimana dan kenapa sesuatu menjadi tradisi? Dan terakhir, kenapa semakin modern justru semakin jarang tercipta satu tradisi yang panjang napas peradabannya? Kalau hari libur yang ditetapkan oleh pemerintah itu bukan tradisi, orang hanya merasa senang karena tanggal merahnya yang berarti libur, rehat sejenak dari rutinitas tapi belum tentu merasa memiliki perayaan tersebut. Tradisi kita spesifikkan dululah pada seni tradisi, walau nanti akan ke tradisi lainnya juga.

Kemungkinan, mestinya ada masa-masa di mana tradisi dikanonkan, dibakukan oleh konsep tertentu, hingga dia membeku. Hasilnya adalah generasi setelahnya hanya mampu merepetisi tradisi itu tanpa bisa mengkreasi tradisi-tradisi baru, pembakuan ini juga bisa saja awalnya niatnya baik. Kita tahu, banyak niat baik yang jangkauannya terlalu singkat sehingga begitu ganti generasi sudah kadaluwarsa kebaikannya.

Beberapa pertanyaan yang agak menggelayut di kepala saya belakangan ini tampaknya diperjodohkan dengan beberapa fenomena yang saya temui dalam gelaran Sinau Bareng pada malam hari tanggal 1 November 2018 M. Jawaban yang saya temui, di antaranya adalah: Pertama, tradisi masih bisa tercipta pada manusia yang mesra pada alam terutama tanah dan air. Kedua, masyarakat yang komunal, jamaah bukan massa. Ini kesimpulan sementara, sebentar akan saya coba tuliskan kenapa Sinau Bareng bisa membuat saya berkesimpulan semacam ini.

Borobudur pada masa ditemukannya sedang sangat mengenaskan, pejabat-pejabat kolonial yang merasa butuh memugarnya. Apakah mereka peduli pada budaya Nusantara? Atau kontestasi di antara pejabat kolonial memang sedang sengit ketika Angkor Wat jadi primadonanya Asia? Entah. Terlepas dari terbengkalainya candi itu adalah hasil dari letusan Merapi, tapi bagi saya itu artinya orang Nusantara punya kedaulatan untuk tidak begitu dramatis amat sama peninggalan fisik. Sejak masa koloniallah kita mulai mengglorifikasi hal semacam ini.

Kenapa manusia nusantara tidak begitu dramatis sama benda-benda fisik? Bangunan besar megah? Rasanya karena begini, orang Nusantara ini cukup bandel untuk pede bahwa nanti juga bisa bikin lagi. Sepede itu kita memang. Yang tidak diperhitungkan oleh kepedan Nusantara ini adalah penjajahan dengan cara meresapnya sudut pandang, cita rasa dan tolok ukur. Sehingga kita manut pada konsep Eropa mengenai apa itu budaya, apa itu tinggalan sejarah dan apa itu tradisi. Di situlah penyakit 3C (ciut, cekak, cetek) menjadi sangat berbahaya. Pemugaran Borobudur yang diinisiasi Raffless baru kemudian hari menjadi sangat populer di mata pribumi jauh hari ketika dia menjadi primadona barunya Asia di antara negara-negara kolonial. Ini pengantar singkat saja, tidak perlu kita perpanjang, kapan-kapan di tulisan lain mungkin akan saya sempilkan, toh belum tentu benar juga.

Antara Pelestari Tradisi vs Anti Tradisi

Sekian masa berlalu akhirnya kita sampai pada masa di mana perseteruan dua kubu makin memanas antara kubu pro tradisi vs anti tradisi. Akhirnya kita lupa pada pertanyaan mendasar, kenapa tradisi tercipta? Kenapa kita tidak mengkreasi tradisi lagi? Dan dalam kesadaran “anfa’uhum linnas”, gunanya tradisi itu bagi persoalan riil itu apa? Kalau sekadar perputaran ekonomi di tempat-tempat keramat itu juga boleh, tapi masa segitunya saja? Itu prinsip ekonomi paling sederhana; banyak orang berkumpul, jualan.

Di lapangan Palagan Rejodani, Sariharjo, Ngaglik, Sleman malam itu saya menyaksikan dan bisa mencercapi bagaimana sesuatu yang akan nantinya menjadi tradisi tercipta. Itu kuncinya: hubungan dengan alam dan komunalitas. Dirangkum menjadi: kemesraan.

Mbah Nun sejak awal Sinau Bareng memang mengupayakan agar semua yang terjadi dan dialami dalam Sinau Bareng ini adalah hasil dari elaborasi warga dan hadirin sehingga produknya juga berasal dari mereka sendiri. Setelah tadinya seperti yang saya tuliskan dalam reportase singkat, dibentuk kelompok yang bertugas mendiskusikan berbagai hal kemasyarakatan. Mbah Nun juga meminta dua pemuda, laki-laki dan perempuan yang berminat dengan tulis-menulis. Mereka berembug menyusun bait-bait berisi kalimat dengan jumlah tertentu yang dirasa menggambarkan harapan akan desa Sariharjo ini.