Tidak Pensiun di Telkom

Liputan Sinau Bareng CNKK dan Sabrang, Yogyakarta, 28 Juli 2018

“Telkom ini urusan yang sangat akhirat sebab urusannya adalah menyambung tali silaturrahim,” ungkap Mbah Nun pada sekitar 200-an bapak-bapak dan ibu-ibu staf PT Telkom yang akan menjelang pensiun. Malam, pada Sabtu 28 Juli 2018 M.

Bertempat di Boogey’s Cafe, dalam lingkungan Hotel Hyatt yang wingit, berdampingan dengan keluasan lapangan golf. Acara diberi tajuk “Modal Kolor Jadi Mandor” sangat terdengar membangun rasa optimis. Pilihan kata dan susunan kalimat ini mungkin berdasar pengalaman bersama para senior yang satu angkatan dalam pelatihan tiga puluh tahun lalu.

Tiga puluh tahun sudah berlalu, pelatihan, penempatan tugas, bekerja, berpasangan, beranak-pinak dan… Hari pensiun menanti, selesaikah hidup? Kelak, ketika bapak-bapak dan ibu-ibu ini telah purnatugas, alam dan cakrawala baru telah menanti. Butuh bekal sendiri menghadapainya, maka pada puncak acara hari ini yang banyak dihiasi dengan hiburan, sosok sesepuh seperti Mbah Nun dan pelayanan musikal KiaiKanjeng sangat besar artinya bagi mereka.

Di Maiyah, kita akrab dengan wacana pembelaan terhadap “wong cilik”. Tapi juga terminologi “pembelaan” dan “wong cilik” di Maiyah rasanya memiliki perbedaan mendasar dengan cara dan pemaknaan di banyak wilayah lain. Wong cilik di Maiyah bukan sekadar lemah atas dasar ekonomi maupun politik.

Kaum fakir tentu juga iya, tapi akan hanya itu kalau pandangan kita sangat materialis. Orang yang terpaksa jadi presiden walau tidak pantas, pengusaha yang mau tidak mau berlaku lalim karena tuntutan keadaan di tengah atmosfer bisnis yang tidak sehat, kiai yang terpaksa mulang karena tidak ada suasana keluasan untuk Sinau Bareng, politisi yang taunya rebutan kekuasaan itu ya memang seperti yang sehari-hari dia saksikan, aktivis yang spaneng karena masyarakat tidak berubah-berubah.

Ekstremnya, kalau ada kasus penggusuran atau perampasan hak masyarakat di satu tempat, Maiyah memilih sudut pandang tauhid-holistik, di mana baik pihak perampas maupun yang terampas haknya adalah “wong cilik” juga. Bahwa kadang “pembelaan” dilakukan dengan menghukum dan melawan, itu juga pilihan. Tapi pola pikir kita atur dulu. Bisa dikatakan, pada situasi macam ini setiap lapis dan golongan kelas masyarakat masuk pada klasifikasi “wong cilik” ini dan setiap lapis ini perlu treatment pembelaannya sendiri-sendiri.

Itulah mungkin yang membuat Mbah Nun dan KiaiKanjeng tidak ragu melangkah ke manapun, entah ke dataran berlumpur di pedalaman pun, tidak pula sungkan ke hotel wah seperti Hyatt semalam.

Maka kegembiraan dibangun, KiaiKanjeng optimal mempetualangi nada, bersama poin-poin ilmu, optimisme, kepercayaan diri, jangan pernah putus silaturrahim dengan manusia, online terus dengan Tuhan, presisikan langkah menuju hari depan. Semalam bapak-bapak dan ibu-ibu itu diajak menegaskan, bahwa kita hidup abadi. Bahwa tidak ada pensiun yang sejati.

“Mati saja itu bukan pensiun, itu hanya transformasi,” begitu Mbah Nun memberi semangat. Terus semangat! Berani hidup! Dan abadi. (MZ Fadil)