The Fastabiqur Riya`

Mukadimah SabaMaiya April 2018

Sebuah ungkapan yang jamak terlontar dalam kehidupan masyarakat apapun untuk mencari “The Winner” tentunya akan melalui proses kompetisi entah apapun bentuk dan jenisnya. Terlepas fragmen baik-buruk, benar-salah, ataupun hal-hal lain. Sehingga karakter petarung adalah karakter bawaan sejak proses penciptaannya menjadi modal utama bagi seseorang untuk mencapai kata menang dan layak disebut sebagai pemenang.

Sebagaimana layaknya perjalanan hidup seseorang, kata “menang” seolah-olah telah tertanam pada “chip” pribadi pada awal proses penciptaan yang satu paket by product “Yang Maha”, hanya saja pada perjalanan selanjutnya masing-masing pribadi akan menggores tebal ulang, menggarisbawahi, atau bahkan melingkari dengan tinta “warna merah”, karena dianggapnya sebagai sesuatu prestasi yang juga punya kemungkinan untuk menjadikan frustasi.

Namun tak jarang ketika kata “menang” sudah menjadi konsep diri, dan menjadikan kata “kalah” sebagai acuan untuk mencapai kemenangan pada proses perjalanannya, maka dapat dipastikan “jika aku ingin menang, aku harus mengalahkan”. Terlepas cara atau etika baik dan buruk maupun benar dan salah, akan menjadi sebuah slogan yang tak tampak namun dapat terbaca.

Tentunya masing-masing personal mempunyai kebebasan untuk menentukan pilihan pijakan awal guna mencapai kemenangan dengan frame “unggul” sebagai sebuah gambaran kualitas diri. Atau frame yang lain karena kekurangpahaman diri dan keterbatasan belajarnya dalam mencari makna kosakata “menang” yang sesungguhnya. Maka tak salah jika jamak manusia langsung menyandingkan kata menang dengan kalah sebagai sebuah gambaran kualitas manusianya. Dan sangat wajar dan mendasar jika dari perilaku tersebut secara tidak langsung menjadi peradaban baru.

Mencoba melihat jauh ke belakang, leluhur kita yang menunjukkan keunggulan dan kualitas pribadi yang bersandar pada ungkapan rumit, sederhana namun indah “sopo salah seleh” atau ungkapan lain yang beda redaksi tapi esensinya sama “sopo sing salah kudu seleh” sebagai bentuk kesadaran individu bahwasannya semua aspek hidupnya tunduk pada “kebenaran” sesuai tahapan pencapaian masing-masing personal, dari “benere dewe, benere wong akeh, dan bener sejati” melalui proses aktualisasi pada kehidupan.

Dari ungkapan bijak leluhur tersebut, mungkin dalam terjemahan bebas “barang siapa bersalah akan mendapat balasan” atau “kesalahan sekecil apapun akan tampak”, “kesalahan akan berdampak kekalahan” di mana para winasis merangkai ungkapan SALAH menuju KALAH dan berpuncak NGALLAH. Dimana ungkapan SALAH secara verbal adalah gambaran dari perbuatan yang menurut paugeran keluar dari relnya sebagai manifestasi peran ALLAH untuk menunjukkan kehambaannya agar belajar dari berbagai peristiwa. KALAH adalah ungkapan peristiwa bagi seseorang yang masih membawa “benere dewe” sehingga melakukan kesalahan dan berujung pada kekalahan, pada puncak kesadaran dari proses SALAH-KALAH dan disikapi dengan laku batin maka NGALLAH sebagai sebuah keharusan sikap yang diambil.

Dan pembahasaan SALAH oleh winasis adalah singkatan dari SAngka ALLAH, dan KALAH adalah KArsane ALLAH, dan sikap yang harus ditempuh adalah NGALLAH yaitu menuju ke ALLAH. Sebagaimana pemahaman laku spiritual yang diungkapkan lewat kata sebagai kontrol tatanan sosial yang tak sedikit pun dari semua peristiwa buruk yang tidak dispiritualkan oleh leluhur kita, sehingga yang muncul adalah kesadaran akan “kebenaran yang sejati” sebagai puncak “kemenangan yang sejati” pula. Sebagai warisan nilai yang tanpa “dipamerkan” namun cukup merasuk pada tataran aplikatif dan menelanjangi “ambisi” kita untuk memamerkan yang belum tentu baik buruknya maupun benar dan salahnya.

Pameran yang identik sebagai ajang penampilan unjuk keunggulan dan kualitas semakin lama lebih bergeser pada kontestasi jualan eksistensi sebagai gambaran riil derajat generasi jaman now atau bahkan sudah trade center sebagai keprihatinan bersama bahwasannya orientasi jati diri tersisihkan oleh kesibukan harga diri. 

Dalam pemahaman orang umum, dalam agama yang disebut RIYA` akan selalu diidentikkan dengan konotasi negatif. Padahal tak selamanya pamer itu buruk, karena butuh perangkat yang lengkap dan utuh pada tataran aplikatif, sehingga akan muncul kearifan untuk bersikap serta ketepatan, kepekaan, dan kecepatan bertindak.

Di saat yang buruk maupun nuansa negatif semakin mendominasi, maka nuansa positif dan kebaikan harus tampak dan dimunculkan, jika tidak, virus negatif akan liar tidak terkontrol. Jadi bukan bentuk dan sikap riya’ yang perlu disikapi ataupun dikritisi, tapi perlu menyelami ke kedalaman diri dengan “Angon roso, dan angon suasono” sebagai bekal sekaligus benteng kokoh untuk memahami lebih dalam akan firman Tuhan “Fastabiqul Khoirot” agar menjadi “Fastabiqur Riya`“.

Fastabiqur riya` bisa jadi sebagai orientasi menang dan kalah dalam menaikkan standar seseorang atau apapun, dan mempunyai kemungkinan baik dan buruk. Tak salah jika Mahatma Gandhi dalam wasiatnya “tak akan pernah kalah selama tak ingin menang”. Dan tulisan ini tersaji jangan-jangan masih terselip dalam tumpukan kategori riya’. (Abi Jaahir)

Sebuah ungkapan yang jamak terlontar dalam kehidupan masyarakat apapun untuk mencari “The Winner” tentunya akan melalui proses kompetisi entah apapun bentuk dan jenisnya. Terlepas fragmen baik-buruk, benar-salah, ataupun hal-hal lain. Sehingga karakter petarung adalah karakter bawaan sejak proses…