The Customized Thoriqoh

Perhatikanlah bangunan-bangunan di sekeliling kita. Satu sama lain di antara bangunan yang berdiri itu berbeda. Each building is unique. Lebih dari bangunan, pun begitu dengan manusia, tiap-tiapnya adalah unik.

Ilmu personality memetakan manusia ke dalam begitu berkeragamannya varietas manusia itu. Ada yang berkarakter melankolis, sanguinis, plegmatis, coleris serta asertif. Dengan sejumlah perpaduan sifat serta turunannya. Keunikan kemudian mencuat menjadi kesadaran massal seiring dengan hadirnya era milenial. Tak pelak, gejala uniformisasi, termasuk yang selama ini terjadi di sekolah-sekolah kemudian menjadi ‘musuh bersama’ di kalangan Generasi Milenial. Muaranya kemudian, pencarian atas minat dan bakat menjadi aksi yang merebak di mana-mana. Kata ‘Passion’ kemudian diuntungkan menjadi popular karenanya.

Apakah passion itu?

Follow your passion! Kerjakan yang kamu senangi, yang kamu antusias di dalamnya, yang kamu tidak merasa bosan bahkan waktu tak terasa berlalu menggelutinya. Pasion menurut Merriam-Webster Dictionary: a strong feeling of enthusiasm or excitement for something or about doing something.

Sederhananya, dengan mengerjakan sesuatu yang merupakan passion kita, maka kita mengerjakan hal itu dengan senang dan antusias, sehingga bisa bertahan lama dan hasilnya pun optimal.

Tidak ada yang salah bagi seseorang untuk mengejar passion. Yang mesti diwaspadai adalah, kalau kesibukan mencari passion justru dijadikan pembenaran untuk enggan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang peluangnya ada di depan mata.

Lantas dengan mudah kita bersembunyi dibalik kalimat “Ah, sepertinya itu bukan passion-ku!” Alih-alih kemajuan diri yang didapat, sikap aleman justru yang diidap.

Di dalam kita Sinau Bareng di Maiyahan, ada pemahaman yang menurut saya lebih komprehensif untuk dijadikan konstruksi dalam menempuh pilihan-pilihan pekerjaan dan hidup, yakni fadlilah.

Kalau passion dominan pertimbangannya adalah like and dislike, perasaan suka dan tidak suka. Sedangkan fadlilah dalam konteks pencarian minat dan bakat harus ditempuh dengan apa yang Mbah Nun sampaikan sebagai niteni apa-apa yang Allah nasibkan kepada kita.

Mendaftar kuliah kok ndilalah diterimanya di pilihan alternatif. Mendaftar kerja kok ndilalah berbeda dengan disiplin ilmu kuliahan yang dulu diambil. Dan seterusnya, resultan dari ndilalah-ndilalah itu kita huznudon-i sebagai fadlilah yang Allah clue-kan untuk memudahkan kita menemukan diri kita, menemukan minat dan bakat kita, menentukan jalan hidup, karier dan ketekunan kita.

Dari sini kita bisa Sinau Bareng langkah demi langkah di dalam menumbuhkan diri. Pertama adalah menyadari bahwa setiap kita adalah unik. Berikutnya adalah menemukan keunikan diri kita dengan akurat bermodal hitungan resultan dari apa yang Allah nasibkan kepada kita. Langkah berikutnya lagi, kita bisa mulai menekuni pada bidang mana kita harus mengasah sisi tajam atas diri kita, menghimpun jam terbang di situ.

Masing-masing tentu berbeda satu sama lain. Ada orang yang Allah takdirkan kuat di sisi creator-nya, maka wajib mengasah dirinya dengan mengerjakan kreativitas-kreativitas penciptaan karya. Ada yang passionate dan digiring nasibnya menjadi communicator maka ia menekuni profesi mengubung-hubungkan orang, menjalinkan kerjasama-kerjasama. Yang kuat di analyst, memilih mensetiai riset demi riset. Dan seterusnya.

Setiap sisi kuat diri selalulah berpasangan dengan sisi lemahnya. Ini adalah langkah berikutnya yang mesti kita tempuh. Adalah agar jangan sampai kelemahan yang kita miliki justru menelan kekuatan diri.

Misalnya seseorang memiliki kekuatan menganalisis, tetapi memiliki kelemahan dalam mengkomunikasikan. Jangan sampai hasil analisis yang brilian kemudian mandek terkubur hanya sebab gagal dikomunikasikan. Itu sebuah contoh di mana kelemahan menelan kelebihan diri kita.

Kelemahan-kelemahan diri inilah yang harus terus menerus dikelola dengan thoriqoh hidup. Thoriqoh yang dirancang dan dilaksanakan secara customized. Kalau kelemahan kita adalah komuikasi, maka thoriqoh-mu adalah membaur dengan banyak orang, menjalin relasi yang lebih luas. Kalau kelemahan kita di bidang administrasi, maka thoriqoh-mu adalah merapikan catatan-catatan dan jadwal. Dan seterusnya.

Sebab setiap kita adalah unik, maka thoriqoh hidup kita tidak bisa hanya memfotokopi thoriqoh orang lain, kita mesti meng-customize itu sendiri.

Buku Cak Nun