Terus Menjaga Semangat Berlari Maraton

Setiap bulan, ada lebih dari 50 titik Simpul Maiyah yang rutin menyelenggarakan Maiyahan hampir setiap malam. Dalam sepekan terakhir saja, sejak hari Rabu hingga besok malam tidak ada jeda. Dimulai dari Gambang Syafaat (25/7), kemudian berlanjut Padhangmbulan (26/7), lalu semalam bersamaan dengan Bangbang Wetan di Surabaya, Maiyahan juga berlangsung di Jamparing Asih (Bandung), Suluk Surakartan (Solo), Manunggal Syafaat (Kulon Progo) dan Pamengkeut Asih (Pamanukan).

Malam ini, ada 7 titik Simpul Maiyah yang akan melangsungkan Maiyahan rutin mereka; Majlis Gugur Gunung (Ungaran), Maiyah Balitar (Blitar), Paseban Majapahit (Mojokerto), Sulthon Penanggungan (Pasuruan), Maiyah Cirrebes (Cirebon-Brebes) dan Tong Il Qoryah (Korea Selatan).

Seperti yang dibahas oleh Mbah Nun di Padhangmbulan 2 hari lalu, semangat yang dibangun di Maiyahan adalah semangat maraton, bukan sprint. Jangankan Lalu Mohmammad Zohri, seorang Usain Bolt saja jika diminta untuk berlari maraton belum tentu sanggup, karena konstruksi stamina, fisik dan psikis seorang pelari maraton sangat berbeda dengan seorang sprinter. Maiyahan selama yang sudah terselenggara lebih dari 20 tahun adalah sebuah forum majelis ilmu yang mengandalkan semangat maraton.

Jika kita mengukur durasi berlangsungnya Maiyahan di satu titik pada setiap malam, orang-orang berkumpul dalam waktu 5-8 jam tentu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Sekilas mungkin orang yang belum mengenal Maiyah melihat bahwa Maiyahan hanya seperti forum pengajian biasa, orang datang, duduk, berkumpul menyimak narasumber yang berbicara. Sebagian lagi akan menilai bahwa Maiyahan itu orang datang, duduk, rokokan, diskusi, tertawa dan sebagainya.

Padahal yang dibangun oleh Generasi Maiyah adalah sebuah forum yang berlandaskan semangat Sinau Bareng. Belajar bersama, semangatnya adalah belajar bukan mengajar. Jika mengajar, maka konsep yang tertanam dalam akal pikiran adalah ada pihak yang dianggap masih belum tahu, kemudian ada pihak yang merasa lebih tahu lantas mengajari kepada yang belum tahu.

Tetapi, di Maiyahan yang dibangun adalah konsep belajar bersama, bahwa setiap yang datang ke Maiyahan sangat memungkinkan sudah membawa bekal pengetahuan masing-masing. Dan ketika berkumpul di Maiyahan yang muncul bukanlah mempertentangkan masing-masing pengetahuan yang dimiliki, justru saling melengkapi dan saling memperkaya pengetahuan yang ada.

Ada yang menarik dari satu titik Simpul Maiyah yang menyelenggarakan Maiyahan malam nanti. Teman-teman penggiat Sulthon Penanggungan akan mendaki gunung Penanggungan mulai sore ini, dan ketika nanti malam sampai di puncak gunung, mereka akan Maiyahan di sana.

Dengan mengangkat tema “Sambang Penanggungan”, teman-teman Maiyah di Pasuruan hendak menyapa Gunung Penanggungan. Seperti dahulu Rasulullah Saw juga pernah menyampaikan; Jabalun uhud nuhibbuhu wayuhibbunaa. Maka, teman-teman Maiyah di Pasuruan juga hendak membangun persambungan cinta dengan Gunung Penanggungan, bahwa mereka juga mencintai Gunung Penanggungan seperti Gunung Penanggungan mencintai mereka.

Lain lagi dengan teman-teman di Majlis Gugur Gunung (Ungaran), malam nanti di Maiyahan rutin akan digelar terapi Zamatera. Sebuah terapi pengobatan alternatif yang titik pusat terapinya adalah tulang belakang. Master Zain yang akan langsung melakukan terapi. Dan teman-teman Majlis Gugur Gunung mengundang perwakilan dari beberapa Simpul Maiyah untuk turut hadir dalam Maiyahan malam ini.

Di 5 titik lainnya, Sinau Bareng malam nanti juga akan diselenggarakan. Sejauh ini, teman-teman penggiat Simpul Maiyah, juga Jamaah Maiyah yang setia duduk melingkar bersama di titik-titik Simpul Maiyah menyadari bahwa Maiyahan yang bersama-sama diselenggarakan selama ini adalah salah satu bentuk tirakat, setor kebaikan kepada Allah.

Ada banyak ilmu yang didiskusikan di setiap titik Simpul Maiyah. Masing-masing titik mengangkat tema yang berbeda satu dengan yang lainnya. Bersama-sama menggali hikmah dari setiap pendaran ilmu yang diturunkan oleh Allah melalui hidayah-Nya.

Bukan pula dalam rangka untuk menampilkan rasa sombong sebagai pihak yang paling mampu memperbaiki keadaan. Namun setidak-tidaknya, Jamaah Maiyah berikhtiar dan berijtihad untuk tidak menambah kerusakan yang sudah ada.

Di tengah kondisi bangsa yang semakin tidak menentu ke mana arah yang akan dituju, sementara semangat yang dibangun hari ini di masyarakat kita adalah semangat yang tidak bertujuan kepada persatuan. Karena pada kenyataannya yang paling tampak kasat mata bagi kita adalah sebuah perpecahan. Maka, Jamaah Maiyah melalui titik-titik Simpul Maiyah ini, hampir setiap malam, ada yang satu bulan sekali, ada yang dua hingga tiga kali dalam sebulan, dengan skala yang berbeda-beda, meskipun hanya 5, 10, 20 maupun hingga ratusan, bahkan ribuan orang yang berkumpul. Namun satu niatan baik yang selalu ditanam adalah bahwa Maiyahan yang diselenggarakan dalam rangka menikmati kebaikan. Karena Allah sendiri yang menjanjikan bahwa dalam niat kebaikan sudah tercatat satu pahala kebaikan.

Kegembiraan menikmati kebaikan itu yang terus kita jaga, di lebih dari 50 titik Simpul Maiyah, hingga hari ini, dan seterusnya. Insya Allah. (FA)