Terus Meneliti Diri Sendiri

Catatan Majelis Ilmu Juguran Syafaat ke-59, 11 Februari 2018

Saya tertohok oleh kesediaan Mbah Nun untuk mengagendakan waktu hadir di Majelis Juguran Syafaat. Kalau saya hendak datang Maiyahan, masih menimbang-nimbang ada Mbah Nun atau tidak di Majelis yang akan saya datangi. Kalau tak ada Beliau, berat hati untuk melangkah, kalau ada Beliau berat hati untuk mengurungkan langkah.

Namun, tidak dengan Mbah Nun. Beliau dengan sregep menghadiri Maiyahan yang di sana tidak ada Mbah Nun-nya. Begitulah, syukur Alhamdulillah Juguran Syafaat putaran ke-59 pada bulan Februari ini Mbah Nun berkenan rawuh.

Bahagia yang tidak terkira disambut dengan gupuh-nya penggiat mempersiapkan perhelatan rutinan bulan ini. Sebagian menyiapkan ubarampe teknis, sebagian menggodok rundown acara dengan lebih matang dari biasanya, sementara sebagian lainnya men-set frekuensi ‘maya’ melalui ritus-ritus yang sunyi.

Pendopo Soepardjo Roestam di kompleks Kecamatan Sokaraja diguyur hujan deras sedari sore. Hujan lumayan memfilter jumlah kehadiran, begitu pikir saya. Namun ternyata, meski hujan deras mengguyur, jumlah jamaah yang hadir tetap berkali-kali lipat dari rutinan biasanya. Terpaksa semua harus umpel-umpelan di dalam pendopo. Tidak hanya jamaah yang rutin, jamaah dari luar kota juga banyak yang menyengaja hadir pula.

Sebagai pra-acara, Grup Musik KAJ menghibur dengan rally musik pilihan selama kurang lebih satu jam, suguhan Akad (Payung Teduh) dibawakan oleh Fadel pada vokalis secara apik. Hingga jeda beberapa saat, ritual Tilawah Tartil Terpimpin dimulai.

Sesi ke-1 digulirkan dengan melibatkan perwakilan simpul yang hadir, ada Mas Djoko Pitoyo dari Pekalongan, Mas Rifky dari Pemalang dan Mas Amin Subhan dari Jakarta. Saya berposisis menjadi co-elaborator bagi Mas Kusworo. Sesi satu berlangsung dengan berbagai perspektif mengenai definisi Maiyah. Perbedaan di Maiyah dan di luar Maiyah digali secara alamiah dari narasumber di depan dan dari Jamaah, terkumpullah beberapa pointer di antaranya adalah di luar Maiyah cenderung doktriner, sementara itu di Maiyah kita sinau bareng.

Dengan diselingi persembahan musik dan puisi, sesi bergulir pada workshop Piagam Maiyah seri lanjutan. Saya kebagian memberi pengantar isian form. Pada workshop kali ini satu orang mendapat satu form, berbeda dengan guliran workshop Piagam Maiyah pada edisi bulan lalu dimana form diberikan secara group. Tujuannya adalah memenuhi apa yang dianjurkan Simbah untuk masing-masing kita lebih bisa meneliti diri sendiri.

Pada workshop bulan lalu terkumpul 46 butir usulan Piagam Maiyah yang berangkat dari problematika sosial yang ditemui. Sedangkan pada workshop kali ini ada kurang lebih 100 isian form terkumpul yang berisi mengenai identifikasi masalah yang memang dihadapi masing-masing.

Ketika saya membawakan panduan, yang saya tekankan untuk ditulis sebagai identifikasi masalah adalah tema yang berhubungan langsung dengan profesi yang dijalani. Sebab, kalau di luar profesi yang kita miliki, jangan-jangan kita ke-ge-er-an mengatasi masalah, tiwas ternyata hal itu adalah bukan masalah kita, hal itu adalah masalah orang lain.

Untuk meluaskan definisi, bab profesi ini didekonstruksi terlebih dahulu, bahwa profesi tidak dalam arti sempit sebagaimana pemahaman mainstream yakni cara mencari uang. Profesi di sini adalah profetik mission, atau misi mulia yang memang kita emban selama ini. Menarik, ada yang berprofesi sebagai pelestari shalawat, sebagai pembelajar bahkan ada sebagai perawat tanaman di pekarangan rumah. Jadi sebetulnya, dengan dekonstruksi profesi semacam itu, tidak ada itu jamaah Maiyah kok nganggur. Semua pasti punya sacre mission, yang entah disadari atau tidak.

Dari identifikasi masalah, dengan ditemani oleh beberapa lantunan musik KAJ, masing-masing diberi kesempatan merenung untuk menemukan gambaran ideal terhadap penyelesaian masalah yang dihadapi. Pada kolom ‘harapan’ tersebutlah mereka mengisikan hasil perenungannya. Kemudian pada kolom terakhir pada form jamaah diminta menuangkannya dalam butir kalimat suggestion. Begitulah proses pengusulan Piagam Maiyah berlangsung di Juguran Syafaat bulan ini.

Setelah form dikumpulkan, kemudian beberapa orang diminta sharing. Menarik, bahwa di balik masalah kerukunan intern umat Islam yang paling mencuat di edisi bulan lalu, ternyata masih banyak masalah-masalah di lapis-lapis kedalaman. Misalnya, bagaimana seorang yang berprofesi sebagai debt-collector menghadapi masalah berupa dilema, di satu sisi menjalankan misi dari perusahaannya, di sisi lain ia menghadapi ketidakberdayaan secara kemanusiaan yang dihadapi oleh nasabahnya.

Hal menarik lainnya dari proses sharing bersama jamaah, ada seorang anak kelas satu SMA yang sudah mendapati permenungan bahwa menghidupkan akal sehat itu tidak bertentangan dengan akhlak, sebuah anti-mainstream dari kajian-kajian di mana akal sehat adalah sesuatu yang berbeda kutub dengan akhlak yang agamis.

Melalui digulirkannya kegiatan pengusulan Piagam Maiyah, Mbah Nun benar-benar menstimulasi jamaah untuk meneliti diri sendiri, meneliti masalah secara lebih cermat. Pada kesempatan tengah malam ketika Mbah Nun sudah bersama-sama jamaah, Beliau menyampaikan bahwa kita semua harus mewaspadai agar jangan sampai kita mendapat masalah yang ditimbulkan oleh diri kita sendiri. Saya memaknainya salah satu jenis masalah tersebut adalah ketika kita mengurusi masalah orang lain, masalah yang sebetulnya di luar profetik mission kita.

Sejak digulirkannya Tajuk Piagam Maiyah pada bulan lalu, di lingkungan penggiat Juguran Syafaat sendiri berlangsung banyak dinamika. Di antara dinamikanya adalah bagaimana masing-masing kita menyadari betapa pentingnya membuat kesepakatan-kesepakatan yang bisa diobjektivisasi dan bahkan bisa diverbalkan. Hal demikian adalah dalam rangka kita menyelesaikan setiap persoalan tidak secara boros, melainkan secara efisien. Kalau diteliti, ada begitu banyak masalah yang timbul sebab perbedaan sudut pandang saja, maksudnya sama tetapi caranya yang beda. Maunya sama, tetapi bahasanya yang beda, dan seterusnya. Pada cekungan-cekungan semacam itulah kita sangat butuh akan kesepakatan-kesepakatan yang menyengaja dibuat.

Usai sharing tentang Piagam Maiyah, tibalah saat bagi jamaah untuk melepas rindu kepada Mbah Nun. Jam 23 menjelang tengah malam, Mbah Nun bergabung di tengah-tengah jamaah, membentuk lingkaran majelis yang begitu rapat. Sungguh sebuah kenampakan dan suasana forum yang tidak biasa. Saya kira kita semua amat mensyukurinya. [] (Rizky Dwi Rahmawan)