Teologi, Anak Muda Masa Kini, dan Sinau Bareng

Pada saat mengakhiri ulasannya setelah membahas pokok pandangan dan perdebatan di antara aliran-aliran teologis Islam dalam bukunya (yang tidak terlalu tebal tapi sarat lampiran dan catatan) yang berjudul Islamic Theology: Traditionalism and Rationalism yang terbit pada 1998 (telah diindonesiakan oleh Penerbit Serambi dengan judul Ilmu Kalam: Tradisionalisme dan Rasionalisme dalam Teologi Islam (2002), Binyamin Abrahamov menarik kesimpulan bahwa tidak ada rasionalisme murni dalam teologi Islam.

Yang di situ dinisbat sebagai (paling) rasional(isme) dalam teologi Islam adalah pemikiran kalam Mu’tazilah. Seperti dikatakan, pemikiran ini mengedepankan rasio dalam menggayuh dan memahami makna ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat Tuhan. Konon tak jarang ditengara aliran ini “terlampau jauh” rasional sehingga seakan keluar dari teks. Wallahu a’lam bishshawab. Yang perlu dicatat dalam hal ini adalah seberapa jauh pun rasio didayagunakan dalam memahami teks atau naql untuk menghasilkan apa yang Abrahamov menyebutnya tesis-tesis teologis, ia tidak bisa melepaskan diri pada teks tersebut.

Karena itu, yang ada selanjutnya adalah gradasi rasionalisme, dan menurut Abrahamov, Mu’tazilah menempati posisi tertinggi. Urutan kedua ditempati oleh Asy’ariyah dan Maturidiyah, walaupun dalam pembahasan dalam buku itu, kedua aliran terakhir ini dimasukkan ke dalam aliran tradisionalisme.

Ada satu pendapat lagi dari Abrahamov mengenai tradisionalisme, tetapi bisa kita lewati dulu, sebab saya ingin masuk lebih segera pada dua hal berikut ini. Pertama, sejumlah tema dalam perdebatan ilmu Kalam itu untuk era saat ini sudah tidak lagi menjadi fokus. Semisal di manakah posisi anak yang meninggal dunia sementara dia belum punya amal kebajikan tetapi juga belum punya dosa. Atau, orang juga tidak lagi berdebat tentang apakah al-Qur`an itu kalam atau makhluk.

Topik-topik teologi keislaman kontemporer kini sudah mengalami perkembangan sedemikian rupa yang coraknya tidak teologis murni lagi sebagaimana dalam perdebatan klasik. Dengan perkembangan zaman dan keilmuannya, orang kontemporer barangkali juga sudah tidak merasa perlu masuk ke dalam kotak klasik perdebatan itu. Tema-tema telah mengalami pergeseran. Semangat-semangat yang berasal dari falsafah atau nilai-nilai kemanusiaan pun turut mengambil tempat di situ.

Kedua, baik tradisionalisme maupun rasionalisme sebagai disiplin doktrin teologis masuk ke dalam diri kita dalam formulasi yang rasional, yang kemudian dilembagakan melalui literatur-literatur keislaman yang dibaca dari generasi ke generasi. Pertanyaan menggelitiknya adalah seberapa kadar pengaruhnya terhadap terhadirkannya “nuansa ketuhanan” dalam diri atau perjalanan kehidupan (keberagamaan) seseorang? Seperti apakah relasi antara formulasi teologis dari beberapa aliran itu dengan pemenuhan jiwa batiniah seseorang dalam menapak perjalanan spiritual? (Duh pertanyaanmu, Bro! To the point mawon).

Baiklah, seperti ini. Saya melihat bahwa seperti apapun konseptualisasi teologis yang mungkin kita punya (tradisionalis atau rasionalis, atau kategorisasi lain), tampaknya masih diperlukan satu ketersentuhan lagi pada komponen utama diri kita sebagai manusia, yaitu hati. Maka, pada tulisan sebelumnya saya menyinggung soal rasa. Maka pula orang rasa-rasanya memerlukan, disadari atau tidak, koneksitas-koneksitas yang membawa kepada situasi yang dekat kepada-Nya. Sejumlah ekspresi (baik “ritual” maupun kultural) mereka butuhkan agar hatinya sampai pada kondisi nyambung (betapapun subjektif, dan lha mosok ndak subjektif!) kepada Allah Yang Maha Agung.

Ketika anak-anak muda itu, yang sebagiannya datang dari kalangan pesantren salaf maupun modern, hadir ke dalam acara-acara Sinau Bareng, saya menemukan fenomena yang saya bicarakan di atas. Sedikit penguraiannya menurut saya adalah seperti di bawah ini.

Anak-anak muda santri itu kiranya sudah well educated dalam ilmu Kalam. Tetapi mereka masih mengkhususkan waktu, meninggalkam rumah atau kos mereka untuk duduk lesehan di Sinai Bareng. Buat menikmati musik yang menyentuh jiwa mereka. Menyimak formulasi-formulasi lain soal-soal ketuhanan dalam bahasa yang baru, segar, menyentuh hati, mungkin pula sederhana, atau mengandung campuran racikan kebijaksanaan dan ketulusan spiritual. Mendengarkan dan mengamini dari kedalaman hati mereka atas doa-doa yang dipanjatkan bersama. Memasukkan diri ke dalam dzikir dan shalawat-shalawat yang khusyuk. Merasakan duduk bersama sebagai sesama hamba Tuhan. Bahkan mereka antre kepada Mbah Nun untuk minta didoakan hajat-hajatnya.

Dalam pandangan mata saya yang serba terbatas ini, kehadiran mereka di Sinau Bareng tak lain adalah dalam rangka memperlengkapi formula teologis yang telah dimilikinya dengan guyuran-guyuran yang membasahi hati mereka. Mereka sedang menempuh laku menyeimbangkan diri. Di Sinau Bareng, guyuran-guyuran itu mereka peroleh.

Jika mereka adalah generasi milenial atau generasi Z, yang terdapat pendapat mengatakan bahwa salah satu ciri mereka adalah kuatnya orientasi dirinya pada kesalehan (sosial), maka dalam konteks teologis, mereka bukanlah anak-anak yang dilahirkan dari rahim perdebatan teologis klasik. Mereka lahir dari rahim zamannya sendiri, dan karena itu mereka mencari racikan baru teologis yang lebih memenuhi dorongan dalam dirinya. Di situ teman-temanku semua bisa mengkaji posisi dan tempat Sinau Bareng di hati mereka.

Yogyakarta, 7 Juli 2018