Tegakkan Logika Agar Toleransi Tak Sekadar Dogma

Liputan Sinau Bareng di Desa Sidoluhur, Godean, 19 Oktober 2018

“Apa sebabnya, sembahyang diwajibkan tapi makan, minum, nguyuh dan sejenisnya itu tidak diwajibkan?”

Mbah Nun mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang melatih logika dan pemahaman pada sejumlah pemuda karang taruna yang terlibat di atas panggung.

Pemuda dan pemudi karang taruna Desa Sidoluhur Godean yang berseragam biru ini ada yang beragama Kristen dan kebanyakan non-Kristen, mayoritas beragama Islam. Tadi saya pakai kata “non-Kristen” cuma supaya adil aja, soalnya seringnya koq pakai kata “non-Islam” tapi jarang sebaliknya.

Sinau Bareng malam ini memang diselenggarakan oleh generasi muda karang taruna Luhur Wiratama desa Sidoluhur bertempat di Lapangan Sidoluhur. Sebuah tema terpampang jelas di backdrop: “Bebrayan Anggayuh Kaluhuran.”Dialog-dialog terjadi di atas panggung, tanya-jawab dengan sedikit canda-canda dan celetukan-celetukan dari hadirin dan hadirot, bulan setengah bersinar pada malam 19 Oktober 2018 M. Bocah-bocah bermain bebas.

Di luar sana, baru saja ada riset yang cukup menggelisahkan kalangan akademisi kita yakni sebuah riset yang hasilnya konon berkata bahwa wacana intoleransi telah merebak pada kalangan pendidik dan kelas menengah. Kenapa bisa intoleran? Apa indikasi intoleran? Nah nanti-nanti saja kita bahas. Pada keseharian yang wajar, tampaknya tidak terlalu ada gangguan. Dan pada Sinau Bareng, kita wajar-wajar dan lumrah-lumrah saja.

Orang bisa jadi intoleran, mungkin karena kurang kokohnya logika pikir yang berlaku dalam akal manusia sehingga mudah menerima dogma dari luar. Celakanya, kemudian lebih banyak penanggulangannya justru adalah dengan menyodorkan dogma lain untuk memerangi apa yang dianggap intoleransi. Akhirnya wacana toleransi menjadi bahan baru, doktrin baru untuk menghantam. Jadi hanya ganti dogma dan doktrin.

Maka dalam Sinau Bareng, dialog selalu terjadi. Mbah Nun sangat lincah mengajukan pertanyaan, mengejar terus, tanya kembali, sehingga otak terus terpacu berpikir. Berpikir, bukan menerima dogma dan doktrin. Bukankah begitu itu adalah perjuangan menuju toleransi yang sesungguhnya? Bukan toleransi yang dogmatis sehingga jadinya malah sama sadisnya pada kaum yang dicap intoleran.

“Ojo podo nelongso” lagu karya Koes Plus dilantunkan oleh KiaiKanjeng, seorang gadis Karang Taruna, Dik Bella namanya, dengan sigap ikut bernyanyi dan suaranya ternyata sangat merdu.

Buku Cak Nun