Tasawuf Pembongkar Relasi Kuasa, Menyelami “Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai”

Catatan Dikusi Sewelasan Perpustakaan EAN, 11 Maret 2018

Diskusi Sewelasan kali ini sedikit berbeda. Dari segi tempat misalnya, kalau biasanya diadakan di pendopo Rumah Maiyah yang penuh keluasan dan kelapangan–walau juga punya dimensi kedalaman–kali ini acara diadakan di ruang Perpus EAN. Benar-benar di dalam perpus.

Diskusi Sewelasan memang adalah program istiqamah yang digawangi oleh lingkar Perpus EAN. Dengan diadakannya acara kali ini di dalam ruang perpus, tampak kondisi psikologis para peserta lebih siap untuk ‘menyelam’ pada kedalaman, ketimbang ‘berenang’ pada keluasan. Tapi sudahlah, tidak perlu memaknai berlebihan soal ini, bagaimanapun orang yang mau menyelam kan harus lebih dahulu berenang juga.

Lagipula toh mungkin alasan sesungguhnya acara diadakan di dalam Perpus juga karena teknis; pendopo Rumah Maiyah sedang dipakai latihan teater malam itu. Maka acara diskusi pada minggu malam 11 Maret 201 itu selalu diselingi dengan sayup-sayup suara para aktor membacakan dialognya. Sementara di dalam perpus, para pegiat, penggali dan pencari, aktor pada dimensi yang berbeda, sedang mengkhusyukkan diri dengan bahasan-bahasan yang dibabar oleh Mas Helmi Mustofa selaku redaktur Maiyah dan Pak Toto Rahardjo. Dengan dimoderatori oleh Mas Dedik Y Mulyawan dari perpus EAN, dua pembicara kali ini didaulat untuk mengemukakan pandangan mengenai buku “Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai” sebuah kumpulan esai karya Mbah Nun yang pertama kali terbit tahun 1994 dan hingga sekarang masih mengalami terbit dan cetak ulang.

“Saya tadi sempat ngobrol dengan Pak Toto, beliau akan mengemukakan pandangan beliau tentang tasawuf”, kata Mas Helmi. Untuk sesaat saya terkejut, dan sempat mengira diri saya sedang terhempas di salah satu altiverse; istilah dalam film-film sci-fi mengenai alam semesta alternatif di mana segalanya berlaku terbalik dari dunia yang kita kenal. Tapi karena saya datang bersama istri saya, dan istri saya masih yang itu (bukannya Pevita Pierce atau Chelsea Islan) jadi saya yakin saya masih berada di semesta yang ini juga. Pasangan hidup memang gunanya sebagai jangkar kenyataan, bukan? Tapi Pak Toto akan bicara tasawuf, itu benar-benar kejutan buat saya. Bukan karena saya menanggapi tasawuf sangat berlebihan seolah dia puncak segala-galanya, bukan. Hanya ini benar-benar kejadian langka. Tapi kalau dipikir, seorang Pak Toto pada satu masa dulu membidani lahirnya KiaiKanjeng, apa bukan peristiwa tasawuf juga? Mungkin saya saja yang kurang begitu kenal dengan Pak Toto Raharjo.

Bagaimana membahas buku dan tulisan Mbah Nun? Sedang tiap satu tulisan beliau saja memiliki dimensi keluasan dan kedalaman, rambahan materi ke berbagai penjuru walau akar dan pucuknya akan kembali kepada tauhid, tapi kelihaian mengolah tauhid menjadi kualitas-kualitas baru pada tulisan-tulisan Mbah Nun memang tak mudah untuk dirumuskan. Bu Roh, sesepuh kita semua juga sempat menyampaikan sedang memprakarsai dibentuknya “Cak Nun Corner” di beberapa tempat. Itu juga mungkin karena sulitnya toko-toko buku mengklasifikasi jenis dan bidang cakupan tulisan-tulisan Mbah Nun.

Apalagi menurut Mas Helmi, dalam buku yang sedang dibahas ini esai yang ada dikumpulkan sejak tahun 80an. Apa-apa yang ditulis Mbah Nun di tahun-tahun itu masih faktual sampai sekarang. Setiap diingatkan tentang hal semacam ini, saya merasa ngeri sendiri dan rasanya dihadapkan pada pertanyaan yang selalu berulang: apakah Mbah Nun yang terlalu lesat melaju jalannya walau sunyi? Atau kita yang sebenaranya belum ke mana-mana? Merasa berjalan tapi mandek, seperti berlari di treadmill kalori terbakar tapi pemandangannya pada kahanan masih begitu-begitu saja. Perasaan seperti ini selalu membuat saya was-was bahkan tak jarang cemas sendiri. Untungnya, Maiyah selain punya efek penggelisah juga ada efek penenang. Bila tidak di Maiyah, saya tipe orang yang mungkin sudah frustasi pada kahanan dan pada diri sendiri sejak dulu.

Maka keputusan lingkar perpus EAN untuk menduetkan Pak Toto dan Mas Helmi dalam acara ini rasanya sangat tepat. Dua sosok mengagumkan ini memang selalu memiliki sudut-sisi-jarak-dimensi pandang yang otentik baik itu terhadap Maiyah, karya-karya Mbah Nun maupun terhadap kondisi bahkan terhadap diri mereka sendiri. Dari dua pembicara kita malam itu, kita bisa belajar semangat yang tak berhenti terhadap penggalian dan pencarian. Karena yang paling berbahaya sesungguhnya adalah merasa sudah menemukan.

Banyak pertanyaan yang muncul dari peserta diskusi namun akan sulit untuk dituliskan satu persatu tanpa membuat reportase ini kepanjangan. Selain saya juga mau bilang bahwa, rugi sendiri kalau tidak datang ke acara diskusi sewelasan. Iya saya reporter yang agak jahat memang. Yang saya sebut di awal tulisan bahwa peserta tampak lebih siap “menyelam” sesungguhnya tampak dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul itu, hampir semua pertanyaan berkenaan dengan pengalaman pribadi serta ekspertasi bidang masing-masing.

Nah soal ekspertasi ilmu ini memang berbeda dengan otoritas ilmu. Belakangan pada banyak hal, kita terpeleset maunya mencari pihak-pihak yang expert pada bidangynya tapi malah tak sengaja memberikan otoritas kebenaran pada pihak tertentu. Ketika tiba saatnya dua pembicara memeras intisari buku yang sedang dibahas, Mas Helmi menekankan bahwa buku ini mengajak pembaca untuk terus menggali dan belajar, semangat riset, eksperimen, observasi dan ragam jenis pembelajaran pada hidup, pada ilmu dan diri sendiri musti terus digelorakan.

Pak Toto menyarikan buku ini dengan satu kata yakni “KUASA”. Di sini kemudian bersambung pula pada bahasan tasawuf ala Pak Toto. Bahwa menurut Pak Toto tasawuf aslinya adalah usaha manusia untuk mengerti, memahami dan berpuasa sebisa mungkin (karena kalau sepenuhnya hampir pasti tidak bisa) dari relasi kuasa baik yang berlaku di luar diri dan di dalam dirinya.

Berkatalah Syekh Ibn Athoillah dalam Kitab Matnul Hikam:

Al ilmu naafi’u huwalladzii yanbasithu fi shodri syu’aa’uhu wa yankasyifu bihi ‘anil qolbi qonaa’ uhu

“Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang memancarkan cahaya dari dalam dada dan menyingkapkan tutup dari hati”

Pak Toto tidak perlu mengutip Syekh Ibn Atoilah atau tokoh-tokoh sufi ngehits pada masanya. Pak Toto punya jalannya sendiri dan rasanya begitu lebih asik dan menarik. Bisakah kita sebut kemudian bahwa salah satu tutup dalam hati itu juga adalah jejaring relasi kuasa?

Menurut Mas Helmi, salah satu yang paling bisa dicontoh dari Mbah Nun adalah bagaimana hubungan baik beliau dengan ayat-ayat Al-Qur`an. Ayat-ayat selalu terasa hidup dan diajak berdialog langsung. Kita sebaiknya juga seperti itu, agar ayat-ayat tidak mengambang di antara langit dan bumi, tapi menemukan konteks dan keberfungsiannya pada diri kita masing-masing. Maka untuk kemesraan dengan Al-Qur`an memang sebaiknya jangan ada otoritas terhadap ayat. Kalaupun kita belajar pada ulama-ulama atau istilahnya agamawan maka kesadarannya adalah konsultasi pada expert bukan mohon dawuh pada otoritas.

Konsep berhadapan pada expert dan berhadapan dengan otoritas jelas menghasilkan kesadaran yang berbeda. Ini perlu dijabarkan lebih sepertinya. Expert atau ahli pun bukan benar-benar expert pada Qur`annya tapi pada ilmu yang mencoba menggapai Al-Qur`an itu sendiri. Karena kalau ada manusia yang merasa sudah sangat expert soal Al-Qur`an, maka kita berkewajiban husnudhzon bahwa orang ini mungkin ponakannya Gusti Allah.

Menurut Pak Toto hal-hal yang berkaitan dengan nilai-substansi, akan rusak kalau sudah ada yang mengklaim (atau diklaim) sebagai pemangku otoritas. “Wong podo-podo gak ngerti koq”, ujar Pak Toto.

Esai memang adalah simbolisasi terhadap esensi, maka dia tidak untuk dipetik mentah-mentah. Begitupun buku ini, membacanya perlu punya kesadaran esensial dan substantif. Tidak dengan kesadaran minta kepastian hukum seperti penganut peradaban resep yang sayangnya sudah bercokol ratusan tahun pada mental kita. Itu yang saya simpulkan dari Pak Toto.

Sementara Mas Helmi menekankan, bahwa ketika sebuah zaman sedang menghadapi lipatan persoalan yang makin rumit, konsep-konsep cair jadi beku dan baku serta terlanjur lahir kelas-kelas otoritas beragam legitimasi, maka zaman itu kerap butuh lahir pembaharu-pembaharu. Dalam dunia fiqih Islam kita tahu ada empat imam madzhab dengan pembaharuannya masing-masing (tapi terus tidak ada lanjutannya jadi cuma empat padahal bisa lebih).

Sementara dalam pemikiran Islam kontemporer ada Jamaluddin Al-Afghani, ada Muhammad Abduh sang Perisalah Tauhid (meminjam istilah dari judul buku Risalah Tauhid), ada Said Nursi sang badi’uz-zaman dan banyak lagi. Maka bila kita melihat dari sudut pandang yang di zoom-out seperti itu, buku “Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai” ini juga bisa dimasukkan sebagai salah satu pembaharu. Dan pula, tidak seperti pembaharu yang sudah-sudah.

Tantangan kita sekarang adalah membongkar kemapanan dan kenyamanan. Tak usah menunjuk-nunjuk NU atau Muhammadiyah, atau HTI atau NKRI dan atau segala hal lain sebagainya di luar kita yang sama fana dan tak dibawa mati. Kemapanan relasi kuasa yang bercokol dalam diri kita sendiri saja dulu yang kita waspadai.

Sebab relasi kuasa ini bisa menyamar dalam bentuk apa saja, relasi gender, kepemilikan sumber daya, warna kulit, faktor produksi, legitimasi darah dan keturunan, muridnya kiai nganu, gengsi akreditasi tarekat, legitimasi ilmu eksklusif, koneksi dan kedekatan pada tokoh, keindahan bahasa, jumlah followers di medsos, keningratan aktivisme, ketokohan, mitologisasi kewalian, kepemilikan ilmu, dramatisasi pengalaman, spiritualitas yang disakral-sakralkan dan lain sebagainya.

Islam bukan agama pastoral, setiap manusia punya potensi yang sama untuk menjadi corong suara kebenaran tuhan atau justru jadi pemblawuran cahaya illahi. Buku ini menjadi pengeling yang pas untuk zaman kita ini dan diskusi sewelasan kali itu mengupasnya dari ragam sudut-sisi-jarak-dimensi pandang dengan otentisitas masing-masing pembicara, moderator maupun para peserta.

Kalau saya sebagai orang yang menuliskan reportase kegiatan tersebut mengatakan “Anda merugi kalau tidak datang”, itu bisa saja adalah ajakan untuk bebarengan menyelami keindahan, dan atau bisa saja saya sedang meneguhkan relasi kuasa saya berdasarkan posisi sebagai penulis dan melalui legitimasi pengalaman sebagai orang yang datang. Padahal, tiap penyaksi tentu punya pembacaan masing-masing.

Jadi kita ada di mana? Kesadaran kita sudah sampai mana? Kita tidak boleh berhenti bertanya. Hidup adalah kumpulan pertanyaan yang terselip di reruntuhan kenyataan, temukan tanya itu. Jawabannya nanti saja kalau kapan-kapan kita sudah di pangkuan Yang Maha Jawaban. (MZ Fadil)