Tanjakan Kearifan

Mukadimah Bangbang Wetan Oktober 2018

Bumi, terlepas dari teori bulat atau datarnya, sungguh satu planet yang berisikan atau setidaknya didominasi oleh penguasaan para binatang. An animal planet yang semakin menunjukkan kebenaran namanya itu secara harfiah kata perkata. Tanpa bermaksud menafikan keberadaan dan kehadiran flora, tanah, air, api, batu, dan udara, sesi ini kita pusatkan bahasan kepada binatang penguasa jagat raya.

Alur dari prolog ini akan berupa sedikit pembahasan mengenai alasan mengapa bumi sebagai satu planet disebut sebagai planetnya margasatwa. Diskursus ini  kemudian beringsut ke tawaran akan keharusan bagi kita untuk tidak tertahan di kubangan yang sama. Meski jalan pengentasan itu tak ringan namun tidak ada yang tidak mungkin bagi satu keutuhan komitmen bersama.

Sedikit menoleh ke belakang, cermatilah figur yang mengisi Gunungan di pewayangan. Meski terdapat satu pohon (kalpataru), selebihnya serbaneka fauna memenuhi ruangnya. Para empu penganggit jagat pakeliran nampaknya adalah mereka yang bisa menerka masa nanti kehidupan dunia atau setidaknya mereka adalah peramu metafora dengan akurasi yang prima.

Dari budaya impor, kita mendengar istilah homo homini lupus. Satu pernyataan yang memberi justifikasi bahwa bagi sesamanya, manusia adalah serigala. Di sini, kita diharuskan meyakini bahwa serigala memiliki satu stereotype sebagai hewan yang licik, tentu saja ganas, dan raja tega.

Kembali ke sumber lokal yang validitasnya sungguh global, Mbah Nun sampai merasa perlu merilis sembilan Tetes terkait serigala. Apa yang diteteskan beliau benar adanya karena serigala tak lah bersifat jahat. Mereka setia pada kawanannya dan salah satu makhluk paling menderita saat kemarau menuntut mangsa menjauh dan rumput kering sama sekali bukan santapannya.

Beranjak ke hewan lain, sebut saja ular, harimau, buaya, bulus, kampret, beruang, dan singa. Kesemuanya adalah binatang buas yang makanannya adalah makhluk lain serta cara menyantapnya tak mengenal table manner selayaknya kita.

Tapi ayo berpikir sedikit jauh lagi. Lebih rakus mana hewan yang masuk kategori herbivora, karnivora atau mereka yang tergolong omnivora, pemakan segala? Lebih biadab siapa, mereka yang makan hanya berdasar naluri dasarnya dengan spesies yang karena tingkat kepandaiannya punya berpuluh siasat untuk bisa memenuhi rasa laparnya?

Dan spesies itu bernama manusia. Satu golongan makhluk yang sejak awal penciptaannya menimbulkan kontradiksi berkelanjutan hingga iblis pun bersedia menerima peran paling hina. Sekumpulan koloni yang Ia ciptakan hanya untuk mengabdi namun sejak generasi kedua lebih mengedepankan angkara untuk disembah, diabdi atas dasar kuasa.

Tidaklah aku diutus Tuhanku melainkan bagi membaiknya akhlakmu“. Demikianlah satu sabda Rasul terkasih yang secara asertif tandas menggariskan bahwa akhlak adalah ruang tamu, rona wajah yang mestinya menghiasi dunia.

Fakta yang terbaca sekarang ini, pembelajaran ilmu dan pengetahuan justru menyempitkan keluasan pandang manusia. Muaranya adalah dua hal yang seperti menyokong keabsahannya sebagai tak ubahnya binatang melata. Dua hal itu yakni penebalan orientasi diri dan sikap permisif senyampang mendatangkan laba. Keduanya melahirkan sifat hewaniah yang jauh panggang dari api bila mengingat manusia dilengkapi akal budi.

Konsep pendidikan Maiyah, menawarkan peningkatan berjenjang yang memungkinkan serapan ilmu pengetahuan tidak stagnan sekadar khasanah diri. Ia–seperti seharusnya–harus bisa menjadikan manusia seorang yang bukan hanya arif namun juga bijaksana. Tahu, bisa, mau, dan mampu mengaplikasikan segala khasanah diri bagi kemaslahatan. Bukankah khoirun naas anfa’uhum lin naas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.

Kelima tahapan itu adalah Ta’lim, Tafhim, Ta’ruf, Ta’mil, dan Takhlis. Kelimanya merujuk pada (sekadar) tahu, dilanjutkan dengan pemahaman, meningkat ke jenjang internalisasi pada kondisi arif. Proses ini diteruskan ke arah pengamalannya dalam laku keseharian dan dipuncaki dengan keikhalasan mendalam bahwa itu semua tak lain sebagai keniscayaan.

Lebih detail, rinci dan mendalam kita bahas kesemuanya di BangbangWetan Oktober ini. Forum bulanan kita bersama yang insyaallah berlangsung di Balai Pemuda pada malam yang musim panasnya seolah masih enggan berganti.

Buku Cak Nun