Tali-tali Otoritas, Sesat Logika dan (Harus) Bersikap Diam

Eksperimen sederhana ini mungkin perlu kita coba. Pergilah ke pertigaan jalan yang ramai dilewati orang. Di pertigaan jalan itu kita berdiri sambil mengamati langit selama satu menit. Besar kemungkinan orang akan berhenti dan mencari tahu apa yang sedang kita lihat. Pada menit berikutnya–sesudah ada perjanjian dengan beberapa teman yang lain agar bergabung dengan kita melihat langit–akan semakin banyak orang berhenti dan melakukan hal yang sama dengan kita.

“Eksperimen ujung jalan” itu pernah dilakukan oleh psikolog sosial AS, Stanley Milgram, pada 1961. Menurut hasil eksperimen itu, ketika kita masih sendiri berdiri mengamati langit, orang lewat yang bergabung sekitar 4 persen. Ketika kelompok membesar hingga 15 orang, sekitar 40 persen orang yang lewat akan berhenti dan mendongakkan kepala ke langit.

Eksperimen Milgram tersebut dapat dipakai untuk menjelaskan melimpahnya Jamaah Maiyah di setiap Sinau Bareng. Fenomena ini tidak semata-mata karena sikap latah atau penasaran atau dorongan hati ingin berjumpa dengan Mbah Nun. Eksperimen Milgram sah-sah saja. Namun, “langit” Maiyah, sungguh, adalah langit yang berbeda sehingga motif dan tujuan setiap jamaah akan sama banyak dan beragamnya dengan jumlah kepala yang hadir.

Langit Maiyah

Mengapa “langit” Maiyah adalah langit yang berbeda? Masih mengacu pada hasil penelitian Milgram–ia lebih dikenal karena penelitiannya tentang kepatuhan pada tokoh-tokoh otoritas–Maiyah justru cukup intens melakukan de-otorisasi. Tak terhitung lagi Mbah Nun melakukan dialektika paradoks untuk meruntuhkan otoritas pribadi.

“Saya bukan siapa-siapa. Saya bukan Ulama, Kyai, Tokoh Agama. Bahkan Indonesia tidak mengenal saya,” adalah lontaran-lontaran bernas yang harus disikapi secara cerdas. Pernyataan tersebut hendaknya tidak ditelan mentah-mentah.

Sudut pandang ini kapan-kapan semoga bisa saya tulis: bagaimana efek dialektika paradoks itu harus disikapi. Bagaimana mengedepankan akhlak, buah dari proses panjang ta`dib, sebagai sikap tata krama kepada orang yang lebih tua dan dituakan.

Milgram menyimpulkan hasil eksperimennya: “Orang-orang biasa cenderung mengikuti perintah yang diberikan oleh figur otoritas, bahkan sampai-sampai membunuh manusia yang tidak berdosa. Ketaatan pada otoritas sudah tertanam dalam diri kita semua dari cara kita dibesarkan.

Orang cenderung mematuhi perintah dari orang lain jika mereka mengakui otoritas mereka secara moral benar dan/atau berbasis hukum. Respons terhadap otoritas yang sah ini dipelajari dalam berbagai situasi, misalnya di keluarga, sekolah, dan tempat kerja.”

Tidak heran, sekolah, majelis ta’lim, partai politik, ormas, paguyuban atau apapun nama wadah orang-orang berkumpul pada akhirnya terjerat tali-tali kepentingan otoritas. Tali-tali tidak kasat mata itu sengaja dibelitkan di leher anggota atau jamaah atau rakyat agar patuh pada otoritas figur.

Seseorang yang ditokohkan keilmuannya bahkan sengaja memanfaatkan otoritasnya supaya jamaah nurut, patuh, sendhiko dawuh, misalnya dengan menyampaikan, kalau ilmu seorang murid ingin manfaat dan barokah, mereka perlu menyumbang uang atau seperangkat komputer untuk lembaga pendidikan yang dikelolanya.

Terbalik bukan? Mengapa kesanggupan berkorban itu tidak terbit dari kesadaran murid berkat ketulusan sedekah dan kesungguhan guru melayani mereka? Otoritas perlu dikelola secara bijaksana, tidak terutama untuk membangun tahta, melainkan demi kemaslahatan bebrayan hidup bersama.

Mengapa Mbah Nun “Diam”?

Detail tali-tali otoritas yang diselewengkan ini bisa cukup panjang untuk ditulis. Mitos dan teori konspirasi adalah salah satu upaya untuk mengaburkan fakta yang sebenarnya. Semakin banyak orang percaya pada mitos yang berlaku, semakin besar kemungkinan kita untuk menerimanya sebagai benar. Pendek kata, orang akan bergelimang dengan sesat logika untuk memuasi takhayul keuntungan mereka masing-masing.

Lihatlah adegan perdebatan dan eyel-eyelan di media sosial. Itu semua, dan sangat sering, diberangkatkan dari sesat logika. Hasilnya adalah parade bias konfirmasi–kecenderungan bagi orang-orang untuk mencari bukti-bukti yang mendukung pendapat atau kepercayaannya, serta mengabaikan bukti-bukti yang menyatakan sebaliknya. Orang mencari dan meyakini data yang mendukung pandangan-pandangan mereka seraya mengesampingkan yang tidak.

Pada akhirnya bisa dipahami mengapa Mbah Nun “diam” di tengah atmosfer yang disesaki oleh bias konfirmasi. Selain untuk memutus tali-tali otoritas yang gampang menjerat penokohan, figuritas dan kultus pribadi, ternyata setiap orang memilki gawan-bayi untuk mengidap bias ini. Parahnya, apapun rasionalitas yang ditawarkan kedua belah pihak, kita akan menyingkirkan argumen-argumen lawan dan menyepakati argumen yang sejalan dengan kita.

Maka, yang dilakukan Maiyah adalah istiqomah mengerjakan Sinau Bareng, belajar bersama, seraya mengedepankan kemandirian berpikir yang otentik. Teks-teks inti dibongkar lagi tafsirnya. Setiap jamaah merdeka dan berdaulat dengan dirinya. Mbah Nun sering mengatakan: “Jangan percaya dengan apa yang saya katakan! Anda harus meneliti dan niteni…” merupakan dekonstruksi sistem keyakinan yang membebaskan kita dari sesat logika.

Mitos, kultus pribadi, tali-tali otoritas akan menyorong seseorang pada posisi “titik”. Sedangkan di Maiyah modifikasi keyakinan, pengetahuan, keilmuan terus bergetar dan mengalir.