Takdir Cinta Maiyah

Sewaktu masih SMP dulu, saya pernah membaca buku tentang Syech Abdul Qadir Jailani yang sekarang saya tidak tahu di mana buku tersebut, mungkin sudah rusak pada saat gempa 2006 dulu. Di dalam buku tersebut diceritakan bahwa ketika Syech Abdul Qadir Jailani memberikan ceramah (entah modelnya bagaimana, apakah seperti pengajian di dusun-dusun atau bagaimana kurang tahu), orang dari berbagai wilayah datang. Banyak orang  merindukan ceramah yang disampaikan beliau.

Setelah beberapa tahun membaca buku tersebut, sampai bukunya lenyap, dan kemudian saya mengenal Maiyah, rasa-rasanya yang diceritakan pada buku tersebut sama dengan Maiyah. Maiyah dirindukan di mana-mana. Sehingga muncul di mana-mana. Semakin bertambah waktu yang datang Maiyahan semakin banyak.

Bedanya adalah, kalau di buku tersebut tergantung pada satu sosok, yaitu Syech Abdul Qadir Jailani. Kalau Maiyah, katakanlah ada Cak Nun atau tidak, tetap jalan. Dan untuk simpul-simpul yang sepuh, Mocopat Syafaat, Kenduri Cinta, Gambang Syafaat, Bangbang Wetan–itu bukan urutan umurnya, saya tidak hafal urutan umurnya seperti apa, untuk Padhangmbulan tidak saya sebut, karena menurut saya Padhangmbulan bukan simpul tapi induk–pasti dihadiri oleh banyak sekali orang, entah itu ratusan atau ribuan.

Saya kira ini adalah fenomena yang luar biasa. Yang sayang kalau Indonesia tidak mencatatnya.

Saya membayangkan ribuan tahun kemudian akan ada buku semacam buku tentang Syech Abdul Qadir Jailani yang pernah saya baca yang menceritakan tentang Maiyah. Saya juga membayangkan, entah kapan itu, ketika Indonesia sudah sadar dan menjadi dirinya sendiri, mencatat Maiyah sebagai embrio kebangkitannya.

Itu semua memang tergantung kehendak Allah, Sang Pemilik Kehidupan. Apakah umur kehidupan dengan sistem sunnatullahnya seperti yang sekarang ini akan dipertahankan sampai ribuan tahun lagi atau akan bagaimana, terserah-serah Dia.

Dan kalau Tuhan menghendaki, misalnya saja Indonesia mentas dari keadaannya sekarang yang sedang tenggelam dan basah kuyup oleh air comberan tetapi dianggapnya basah kuyup karena sedang mandi. Bila tidak mencatat Maiyah sebagai bagian dari sejarah pentingnya, berarti ia sedang mengalami pseudo-perubahan. Merasa sudah berubah tetapi ternyata belum (seperti sekarang).

Orang yang jernih pikirannya ketika bersalah mau mengakui bahwa dirinya salah. Orang yang jernih pikirannya akan berterima kasih kepada seseorang yang menegur kesalahannya, walaupun ketika ditegur timbul sedikit-sedikit rasa agak marah. Kalau Indonesia sudah jernih pikirannya dan mau mengakui kalau pernah salah pasti akan berterima kasih kepada yang selalu mengingatkannya. Maiyah, walaupun rasa-rasanya sudah gembedek hatinya kepada Indonesia, diam-diam sangat sayang kepada Indonesia. Makanya, Indonesia selalu diingatkan terus. Waktunya istirahat malah digunakan untuk berpikir. Ketika hujan deras di mana umumnya orang berdiam diri di rumah, selimutan tidur nyenyak, Maiyah tetap bertahan untuk mengingatkan Indonesia. Tetap berdiskusi dan memikirkan bagaimana Indonesia semestinya.

Dan kenyataan yang terjadi, memang Indonesia juga cuek-cuek saja kepada Maiyah. Kata Sudjiwo Tedjo, “Pernikahan adalah nasib, cinta adalah takdir. Kita bisa merencanakan untuk menikah dengan siapa, tetapi tidak bisa merencanakan untuk mencintai siapa”. Saya kira takdir cinta Maiyah adalah kepada Indonesia. Walaupun secara nasib, tanah airnya sudah dipaksa oleh suaminya untuk menikah lagi karena si suami tidak bisa menafkahinya. Atau mungkin bukan dipaksa untuk menikah lagi, tetapi dijual kemolekannya untuk keuntungan si suami.

Sewaktu masih SMP dulu, saya pernah membaca buku tentang Syech Abdul Qadir Jailani yang sekarang saya tidak tahu di mana buku tersebut, mungkin sudah rusak…