Tak Menjelma Jadi Radikal Bebas yang Merusak

Menggali Radikalisme Diri di Maiyah, bagian 3 dari 3

Dramatisasi soal perbedaan versi tafsir membawa juga pada persoalan siapa yang punya legitimasi soal tafsir kitab suci. Ujungnya, mana yang disebut ulama yang kompeten dan mana yang tidak. Maka tak jarang kita lihat, perdebatan pun mengarah pada polarisasi “Kiaiku lebih baik dari ustadzmu”. Sehingga orang hanya diarahkan supaya meninggalkan kumpulan atau kubunya yang lama dan pindah ke kubu sini. Tapi dengan mental yang masih sama taqlid pada tokoh agamawan. Cuma pindah kiai dan ganti kitab. Begitulah sebutan vulgarnya.

Bagaimana kalau kita katakan, bahwa sesungguhnya semua orang sama berhak punya versi soal tafsiran dan tadabbur terhadap Qur`an dan Sunnah? Wah, bahaya. Nanti orang mengartikan dalil seenak udelnya. Lha iya kudu enak untuk dirinya dong. Karena pengalaman bercinta adalah masing-masing. 

Wali nikah, apa wali kutub apa cukup pas ijab saja, kalau pas resepsi boleh juga ada lagunya Wali Band. Tapi kalau yang intim memang wajib berduaan tanpa perantara. Maaf, saya agak melantur. Tapi maksudnya, relakah kita memerdekakan manusia dari segala legitimasi relasi kuasa kebenaran? Maka akhlaqlah pagarnya. Agar jangan sampai yang di dalam bilik kemesraan sang pencinta dibocorkan ke mana-mana. Rasulullah Saw melarang hal itu, bukan?

Tepat di sini, dekonstruksi makna “ulama” yang sering dibahas di Maiyah menjadi sangat kontekstual. Dan juga tentunya, pemerdekaan bagi siapa saja untuk merdeka berdaulat bermesraan dengan Al-Qur`an. Yang saya temukan di Maiyah, konsep “ulama” berbeda dengan agamawan sebagai otoritas kebenaran.

Kaum agamawan mungkin diakui pada agama-agama sebelum Islam. Tapi dalam Islam, agama adalah percintaan yang intim dengan kehidupan. Jadi, bila dalam Islam ini ada yang didaulat menjadi agamawan, maka itu berarti kita cukup kejam untuk menyuruh orang itu ahli dalam segala bidang dan aspek kehidupan. Maka itu, saya kok ndak tega mengangkat manusia selain Rasulullah Saw sebagai agamawan. Kan berat. Biar kuat tetap saja berat.

Tidak juga lantas kita tidak ngobrol dan mengkomparasi versi persapan kita. Hanya segala versi tafsr dari orang lain, mau dari kiai NU, kiai Wahabi, kiai Muhammadiyah, habaib, sopir taksi online, komrad anarcho, tetangga, petani, buruh pabrik, presiden, TKI, guru TK, barista, pilot, dokter hewan, aktor ketoprak, pelaut, penduduk planet Namec atau apapun siapapun posisinya adalah penambah data. Pelengkap variabel perhitungan. Bukan kepastian kebenaran yang wajib dipatuhi. Bagi saya agak aneh sebenarnya, kalau jadi orang Islam tapi kurang bandel lan radikal secara pikiran.

Nah, kita berhadapan dengan radikalis-radikalis kurang jangkep wal kurang bandel begini sebenarnya sekarang ini. Maka musuh kita memang ketidakjangkepan pikiran. Kedangkalan. Nafsu untuk saling membinasakan. Serta gairah untuk menyeragamkan yang lain agar serupa diri kita.

Karena kita tahu, molekul yang kurang jangkep jenis elektronnya akan menjadi radikal bebas. Yang berpotensi merusak genetika tubuh. Efeknya bisa bertahun-tahun. Pelan perlahan melemahkan, melumpuhkan, membodohkan. Kemudian turun ke generasi selanjutnya, bertahun-tahun, berabad-abad. Jangan buru-buru menunjuk pihak sana sebagai zat radikal bebas. Di dalam diri kita juga ada ketidakjangkepan semacam itu. 

Kita berada pada titik paling krusial dalam degradasi pemahaman terhadap Islam. Yang terjadi sejak peradaban Islam menyerap cita rasa pembangunan dan politik infrastruktur Romawi. Plus cita rasa kebudayaan sufistik, sastra, spiritual Persia. Justru ketika dua peradaban itu telah hancur berkeping-keping.

Last but not least, cara-cara kita menghadapi zat radikal bebas masih dengan cara lama yang padat dan baku. Penanggulangan terorisme kita masih mengandaikan para teroris punya jaringan khusus. Atau merasa membubarkan HTI sebagai cara yang tepat mencegah penyebaran tafsir garis keras. Padahal, urusannya bukan sekadar doktrin khilafah. Tapi mulai mencairnya konsep-konsep baku yang selama ini diyakini manusia modern. Dalam hal ini konsep negara.

Generasi baru sedang lahir dan mencari bentuk yang cocok dengan zaman mereka. Bentuk organisasi dan pergerakan yang ala gerakan mahasiswa 80-an pun banyak yang sudah ditinggalkan. Pergerakan sendiri-sendiri tanpa jaringan, tanpa pengorganisasian dan dengan memanfaatkan kemampuan (fisik maupun finansial) individu masing-masing mulai digarap. Aksi-aksi dilakukan tanpa membawa penanda identitas ideologi.

Polanya mungkin sangat sederhana: sebar pesan ideologi. Yang tidak setuju, tinggalkan. Yang setuju silakan lakukan apa yang anda bisa dengan target sasaran, misi dan capaian masing-masing. Tak perlu ledakan besar, cukup letup kecil tak terdengar, asal tepat sasaran melumpuhkan sistem.

Saya tidak melihat ada program deradikalisasi yang update untuk menanggulangi pola pergerakan baru semacam ini. Mungkin karena kita sibuk mempermasalahkan tafsir agama. Menjunjung tokoh pujaan. Dan menarsis-narsiskan drama spiritual kita. Hal-hal yang tidak substantif dan tidak radikal sama sekali.

Maka kita melatih diri untuk lebih radikal di Maiyah. Agar sempurna dan jangkep menjadi diri sendiri. Tidak kurang satu elektron yang membuat kita menjelma menjadi radikal bebas yang merusak. Tapi justru menyajikan akhlaq terbaik pada dunia.[]