Tak Cuma Bondo Nekat, Tapi Juga Bondo Bismillah

Liputan 12 Tahun Bangbang Wetan, 28 September 2018

Sebuah replika peci maiyah terpasang di pintu gerbang Balai Pemuda, Surabaya. Layaknya sebuah ikon, replika peci Maiyah yang berukuran besar itu memang dibuat khusus oleh penggiat Bangbang Wetan dan digunakan sebagai salah satu properti Maiyahan spesial malam ini.

Sementara di panggung utama, tampak properti lain seperti logo 12 tahun BBW dan tipografi “Bangbang Wetan” yang dibuat dengan bahan baku kayu lapis terpasang sebagai latar panggung. Semua properti itu dibuat oleh para penggiat Bangbang Wetan yang dalam 3 minggu terakhir hampir setiap malam berkumpul untuk mempersiapkan gelaran akbar tasyakuran 12 tahun Bangbang Wetan malam ini.

Tidak hanya itu, sejak kemarin bahkan beberapa Jamaah Maiyah berdatangan dari luar kota untuk turut mensyukuri 12 tahun Bangbang Wetan. Tanpa ada komando, mereka semua tersambung satu sama lain, setiap yang datang disambut dengan hangat oleh penggiat Bangbang Wetan. Sedari pagi, ada yang diajak berkeliling kota Surabaya, ada yang bersilaturahmi di kediaman salah satu penggiat Bangbang Wetan. Nuansa paseduluran yang sangat erat tampak sangat nyata. Paseduluran yang terjalin erat bukan atas dasar hubungan darah.

Ulang tahun, momen yang selalu istimewa. Malam ini, Bangbang Wetan sedang bergembira mensyukuri 12 tahun perjalanan berproses. Sebuah majelis ilmu yang menjadi meeting point Jamaah Maiyah di Surabaya dan sekitarnya. Perayaan 12 tahun Bangbang Wetan kali ini semakin istimewa karena Cak Nun dan KiaiKanjeng hadir dalam kegembiraan bersama mensyukuri perjalanan 12 tahun ini.

Di salah satu sudut halaman Balai Pemuda ini terpampang sebuah poster “Bonek Maiyah”, seolah menandaskan karakter khas jamaah maiyah di Surabaya ini. Namun, “Bondo Nekat” arek-arek maiyah Surabaya ini bukan sembarang nekat. Ketika Bangbang Wetan dicetuskan tahun 2006 silam, Cak Nun menyemangati generasi awal penggiat Bangbang Wetan dengan kata kunci “Bondo Bismillah”.

Dan kita menyaksikan, dengan bekal Bismillah itu, Bangbang Wetan telah menapaki usia yang ke 12 malam ini. Di Maiyah, kita semua melatih kesadaran bahwa segala sesuatu tidak hanya diukur dengan ukuran materi. Begitu juga dengan tapak 12 tahun Bangbang Wetan malam ini. Esensi perjalanan Bangbang Wetan bukan terletak pada angka yang menandakan perjalanannya, namun esensi dari pencapaian itu adalah bagaimana para penggiatnya mampu menjaga kesetiaan dan keistiqomahan, bukan hanya dalam konsistensi penyelenggaraan forum majelis ilmu saja, tetapi juga kesetiaan terhadap nilai-nilai Maiyah itu sendiri.

Bangbang Wetan telah membuktikan diri bahwa setiap orang yang datang ke Maiyah adalah dalam rangka bersepakat atas nilai-nilai Maiyah yang disampaikan oleh Marja’ Maiyah; Cak Nun, Cak Fuad dan Syeikh Nursamad Kamba. Hal ini perlu digarisbawahi, bahwa kesepakatan kita sebagai Jamaah Maiyah untuk berkumpul bersama di setiap majelis ilmu Maiyah bukanlah hanya sekadar adanya sosok seorang tokoh, namun lebih dari itu, kita semua berkumpul di Maiyah adalah dalam rangka bersepakat bersama atas kebaikan, kebenaran, dan keindahan nilai-nilai Maiyah itu sendiri.

Seperti tampak di Bangbang Wetan malam ini, halaman Balai Pemuda sudah dipenuhi jamaah yang datang sejak sore tadi. Kondisi Balai Pemuda yang sedang melakukan tahap renovasi ini menjadikan lokasi Maiyahan malam ini nyatanya tidak mengurangi kegembiraan jamaah yang terus berdatangan. Konsep manusia ruang bukan hanya menjadi teori semata, namun malam ini Jamaah Maiyah yang datang di Balai Pemuda mengaplikasikan konsep manusia ruang itu dengan baik.

Jika kita mengukur penyelenggaraan ulang tahun Bangbang Wetan malam ini secara materi, maka dana yang dihabiskan tidaklah sedikit jumlahnya. Panggung yang megah, lengkap dengan tata lampu yang mewah. Belum lagi sound system yang tertata dengan baik, juga beberapa layar lebar terpasang. Belum lagi jika kita hitung juga pelaksanaanya yang tepat di tengah kota Surabaya, terbayang sudah berapa besar biaya yang dibutuhkan.

Namun, bagi para penggiat Bangbang Wetan bukan itu yang mereka jadikan pijakan utama. Bagi mereka, yang terpenting adalah bagaimana semua bergembira dan bersyukur telah mampu menjalani 12 tahun berproses menjadi sebuah majelis ilmu, sebagai laboratorium olah pikir bersama di Surabaya ini.

Maka, sekali lagi bukan pencapaian 12 tahun yang menjadi fokus utama Bangbang Wetan ini, karena tahun depan angka itu akan berubah mejadi 13, 14, 15 dan seterusnya. Namun, yang paling penting adalah bagaimana kita semua mampu menjaga kesetiaan bersama dan mengimplementasikan nilai-nilai Maiyah yang sudah diajarkan oleh marja’ Maiyah. (Fahmi Agustian)

Lainnya