Tagline Padhangmbulan dan Kewaspadaan Terhadap Penyakit Hati

Liputan Singkat Majelis Ilmu Maiyah Padhangmbulan, 28 Juni 2018

Menata Hati Menjernihkan Pikiran. Tagline Padhangmbulan yang menyimpan getar-getar ilmu dan kesadaran. Usai video Padhangmbulan ditayangkan dan dialog dengan beberapa jamaah dijalin, semalam Cak Fuad menyampaikan peneguhan terkait tagline tersebut.

Nyambung juga dengan tema video Padhangmbulan semalam. Adalah tiga belas penyakit hati diuraikan Cak Fuad, karena menata hati dan menjernihkan pikiran akan menemui kendala berupa hati yang sakit.

Hati yang sakit adalah hati yang tidak berfungsi untuk mengenal Allah, tidak mencintai Allah dan tidak merindukan-Nya. Cak Fuad memberi fondasi kesadaran: man lam ya’rif rabbahu lam ya’rif syaian. Siapa tidak mengenal Tuhannya, ia tidak mengerti apapun.

Dari tiga belas penyakit hati, Cak Fuad menguraikan lima, yaitu: an-nifaq. Pelakunya disebut munafiq. Tiga tanda munafiq adalah kalau bicara, bohong. Kalau janji, ingkar. Kalau diberi amanah, khianat.

Cak Fuad menyitir hadits yang menyatakan, selain tiga tanda munafiq, terdapat satu tanda yang kerap tidak disadari, yakni kalau bermusuhan, perilakunya dholim kepada pihak yang dimusuhi.

Apabila kita mengidap salah satu tanda tesebut, itu menunjukkan hati kita tengah terjangkiti penyakit munafiq. Apabila keempat tanda itu ada pada diri kita, maka kita telah menjadi munafiq kholis alias munafiq tulen.

Penyakit hati yang kedua adalah riya’. Pamer. Riya’ lebih berbahaya dari fitnah dajjal. Riya’ menyerang kita kapan saja di mana saja.

Selanjutnya adalah ragu-ragu sebagai penyakit hati yang patut diwaspadai. Ragu terhadap apa? Yang berbahaya adalah ragu dalam keimanan kepada Allah. Ragu Allah sebagai pemberi rezeki, ragu Allah sebagai penolong, ragu Allah sebagai pemegang utama segala kekuasaan.

Penyakit yang keempat adalah buruk sangka atau su`udhdhon. Buruk sangka diawali oleh kebiasaan berprasangka terhadap sesama dan realita di sekitar kita. Lalu berlanjut pada tajassasu, bisik-bisik mencari kesalahan orang lain, dan puncaknya adalah memakan daging saudaranya sendiri. Ngrasani orang lain.

Yang kelima adalah hasad. Iri dengki terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain. Hasad menjangkiti orang alim dan awam–siapa saja yang tidak waspada terhadap gerak batinnya sendiri.

Diperlukan perjuangan sungguh-sungguh (mujahadah) untuk mengatasi penyakit hati.

Untuk meneguhkan perjuangan itu, Cak Fuad menuturkan cerita dari guru Beliau. “Aku memiliki ribuan murid yang aku didik setiap hari. Seandainya muridku tinggal satu orang, kesungguhanku mendidiknya tidak akan berubah. Bahkan seandainya satu orang itu pergi, aku akan tetap menjadi pendidik dengan penaku.”

Semalam pengajian Padhangmbulan mengajak aku, engkau dan kita semua untuk tidak hanya pintar melihat kesalahan orang lain, melainkan waspada terhadap penyakit hati diri kita sendiri. (Ahmad Saifullah Syahid)