Tadabbur Maiyah

Mukadimah Sulthon Penanggungan Oktober 2018

Era hari ini adalah zaman di mana hati dan pikiran tak nampak, yang nampak adalah kakinya, namun langkahnya tak terlihat. Orang hanya tahu tujuannya. Membuat hati orang era ini isinya individualisme. Otaknya adalah materialisme. Tangannya adalah kapitalisme. Kakinya adalah industrialisme. Semua orang mau tidak mau terlibat di situ. Jika diibaratkan, selama ini orang disuguhi mangga yang sudah teriris dan tinggal dimakan melalui berbagai bentuk-bentuk siap makan.

Begitu juga dengan agama yang merupakan pegangan hidup manusia. Kini, agama yang seharusnya menjadi cahaya dalam kehidupan manusia disalahsangkai hanya sebagai pemicu perpecahan antar golongan atau bahkan perang berdarah-darah.

Islam sebagai agama rahmat, semakin salah dikenali, dikotak-kotakkan dengan beragam klasifikasi. Dan sudah begitu jauh dari akar aslinya. Yakni Islam berakar kata dari salam yang berarti kedamaian.

Beragam drama terorisme dengan blow up media internasional cukup berhasil melahirkan Islamophobia di berbagai penjuru dunia. Bahkan bagi orang yang sudah beragama Islam sendiri.

Mereka turut andil dalam proses distorsi tersebut, sikap fanatik, pola pikir dan sikap saklek, kaku dan cenderung membatu. Suka menyalahkan jika ada yang tak sepaham. Hobi membid’ah-bid’ahkan ketika ada ritual atau kegiatan yang menurutnya menyimpang. Mudah sekali memvonis ini benar, itu salah.

Di Indonesia sendiri ormas Islam yang dianggap paling moderat dan paling toleran pun kini mulai terseret pada perseteruan-perseteruan, saling melarang dan membubarkan pengajian satu sama lain.

Untuk menghadapi era seperti saat ini, kemampuan bertadabbur memiliki peran yang sangat penting. Dalam forum Maiyah Padhangmbulan, Cak Nun pernah menjelaskan bahwa Tadabbur adalah jebar-jebur, adus slulup menuju kedalaman ayat-ayat Allah. Jama’ah Maiyah sudah memahami bahwa ayat-ayat Allah bukan hanya apa yang termaktub dalam Al-Qur`an, melainkan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini juga merupakan ayat-ayat Allah. Sehingga, ketika kita bertadabbur maka yang terjadi adalah proses pengembaraan yang lebih dalam ke dalam semua ketetapan Allah. Cak Nun juga pernah berpesan, “Rajin-rajinlah menyebarkan lembutnya Islam, lapang hatinya Islam, indahnya ‘Silmi’ Islam, rasa sayang kemanusiaannya Islam. Adapun komponen, faktor atau dimensi-dimensi lainnya, cukup simpanlah di private room, di imbu njero genthong di kamar khilafah kearifan sosial-Islam.”

Proses Tadabbur merupakan sebuah proses pembelajaran yang tidak hanya menggunakan satu sudut pandang atau satu cara pandang, tetapi menggunakan banyak sudut pandang, banyak cara pandang, bahkan resolusi pandang yang lebih jernih, dengan metode mengosongkan diri dari kebakuan-kebakuan metodologi yang telah termaterikan selama ini.

Inti tadabbur adalah mementingkan apa keluaran kita sesudah memahami ayat, gejala, informasi, atau apapun, terlepas apa dan bagaimana metodologi-nya. Asalkan hasil dari tadabbur itu membuat hidup kita lebih baik, hati kita lebih bersih, pikiran kita lebih jujur, mental kita lebih tangguh, iman kita menjadi lebih kuat dan dalam, kedekatan kita kepada Tuhan dan kekasih-Nya semakin meningkat.

Forum Maiyah sendiri, saat ini terlaksana di beberapa daerah di Indonesia, bahkan rutin setiap bulannya dan dihadiri oleh berbagai macam orang, tidak hanya lintas rentang usia, namun juga lintas suku, agama, ras, hingga profesi. Setiap orang yang datang Maiyahan mempunyai motif dan tujuan yang berbeda-beda. Dan itu tidak masalah. Maiyah mengajarkan apa saja, segala segi dan lini kehidupan dibahas di sana. Di Maiyah kita dapat memperoleh banyak hal. Mau cari ilmu ada, cari solusi banyak, cari hiburan pun gratis.

Lalu, bagaimana mendefinisikan Maiyah itu sendiri? Kira-kira konsep ilmu modern apa yang bisa digunakan untuk menakar Maiyah itu serupa dan sejenis apa. Apakah Maiyah itu benda, barang, lembaga, organisasi, paguyuban, komunitas, fanbase, majelis taklim atau apa? Bagaimana memahami Maiyah yang begitu multi? Multi-arti, multi-fungsi, multi-intepretasi serta multi-multi yang lain.

Sekarang, mulai banyak ditemukan riset berbentuk skripsi, tesis atau disertasi yang membahas tentang Maiyah. Namun, siapakah rata-rata orang yang menulisnya? Dalam lingkar Maiyah atau luar Maiyah? Bagaimana sudut pandangnya? Bagaimana jarak pandangnya? Ada kepentingan apa di belakangnya?

Dalam pengalaman Maiyah sendiri sangat banyak keunikan, keajaiban dan fenomena-fenomena yang bahkan mereka yang berada di dalamnya dan mengalami berbagai keajaiban itu belum tentu mampu merumuskannya. Sebab lingkaran energi Maiyah hanya bisa dilihat sebagiannya belaka, hanya yang padatan, yang kasat mata, yang ukuran-ukuran materiilnya, metodologi ilmu dan pola pandang budayanya bisa dicari. Di luar itu tidak mungkin dicatat oleh ilmu, kata, metode, serta rumusan-rumusan dengan cara bagaimanapun, meskipun sebagai pengalaman sangat nyata, sangat menancap dan mengalir.

Dengan banyak keanehan dan keajaiban itu, kira-kira apa yang akhirnya nanti dicapai oleh Maiyah? Apa yang akan terjadi bersama Maiyah pada masing masing individu pejalan Maiyah, juga di lingkungan masyarakat, ummat dan bangsa?

Wama adroka maal Maiyah?

Mari melingkar bersama, mengupas, meneliti, menyelami, dan menikmati Maiyah dari berbagai dimensi, dari orang yang telah lama mengenal dan berkecimpung di Maiyah, dari orang yang baru mengenal Maiyah, atau juga dari orang yang belum tahu dan ingin tahu tentang Maiyah.

Buku Cak Nun