Sumput Beling

Mukadimah LD Malaya September 2018

Berbicara tentang sumput beling, teringat di masa kecil saat masih bisa merasakan permainan anak anak masa dulu yang kaya akan makna. Sesepuh kita dulu dalam menanamkan kesadaran kepada anak apalagi dalam hal tauhid penghidupan, dituangkan lewat media permainan, dongeng dongeng dan tembang tembang.

Sumput beling adalah salah satu permainan dahulu ( kaulinan sunda), yang mana permainannya adalah menyembunyikan pecahan kaca ( Nyumputkeun beling) di tempat yang susah ditemukan. Permainan ini tidak dibatasi jumlah pemainnya, tidak dibatas waktu dalam mencari beling itu, akan tetapi dibatasi tempatnya agar tidak terlalu sulit dan jauh. Karena dalam permainan ini semakin kecil beling tersebut semakin susah dalam menemukannya. Dalam menyembunyikan beling tersebut bisa dalam tanah, belakang batu, juga dalam dedaunan, tergantung pemain yang kebagian untuk menyembunyikannya.

Pada kalimat tersebut secara eksplisit dapat dipahami ada dua unsur kalimat, yaitu predikat dan objek. Namun, subjek dari kalimat tersebut belum kita temukan. Sedang menurut kaidah, kalimat sempurna harus ada unsur kalimat yaitu subjek dan predikat. Tetapi secara implisit kita pahami bahwa pada kalimat tersebut ada subjeknya walaupun masih samar. Ada beberapa alasan mengapa subjek tidak disebutkan secara eksplisit, Bisa karena takut, canggung, sudah lumrah diketahui atau berbagai alasan lain. Konsekuensi saat kalimat tidak sempurna-terdiri dari subjek dan predikat-maka kalimat tersebut melahirkan multitafsir dan mengundang pertanyaan. Misalnya siapa yang menyembunyikan?, kenapa disembunyikan? Dimana disembunyikan? Disembunyikan dari siapa?, kemudian kenapa harus beling? Ada makna apa para sepuh dahulu memperkenalkan permainan itu dengan medianya pecahan kaca?

Jika ternyata itu adalah serpihan beling (kaca) dari mutiara. Tentu para pencarinya harus mempersiapkan segala hal yang mumpuni, terutama keapikan dan keluasan jiwa kesabaran, sebab Mutiara ibarat martabat manusia, Layaknya perempuan, perempuan itu berharga bahkan di muliakan oleh Islam, namun bagaimana seseorang memuliakan jiwa perempuan tersebut?   Menjaga Muruah-nya? Menjaga martabatnya. Seperti halnya ‘beling’, perempuan bisa juga jadi sosok yang menyakitkan, membahayakan, bahkan merusak. Tergantung yang mempunyai jiwa perempuan itu. Maka menjadi pemilik jiwa hingga jenis kelamin ‘perempuan’ harus pintar ‘sumput beling’, agar menjadi pemilik rumah cinta (perempuan) yang dirindukan Surga.

Mana emas mana tinja, mana mutiara mana kaca, mana cahaya mana pantulannya?

Apa yang harus disembunyikan? Apa yang harus diperlihatkan? Mana nilai mana nominal, pun mana Islam mana institusi Islam? Mana yang Primer, mana yang sekunder? Mana prasangka mana bimbingan Tuhan? Mana jalan mana Tujuan ?

Sumput Beling, dengan segala makna yang tersimpan didalamnya, banyak kemungkinan kemungkinan keterhubungan yang bisa tersaksikan dan disaksikan di segala aspek kehidupan. Diluar itu semua, dalam keterbatasan daya guna manusia mengungkap tabir rahasia Tuhan, mari kita sama sama melingkar, menemukan yang tersembunyi dalam diri kita, menundukan ke-aku-an kita, menyambungkan kerinduan!

September 2018, Muharam 1440 H

Buku Cak Nun