Sufipreneurship Ekasila

Mukadimah Pasemuan Bebrayan Cilacap Agustus 2018

Apa yang disampaikan oleh Mbah Nun bahwa beliau ingin melihat apakah benih–benih Maiyah yang telah disebar selama ini akan menjadi tumbuh berkembang atau malah membusuk dan mati perlu segera disikapi, diinternalisasikan dengan baik oleh masing–masing jamaah. Pernyataan Simbah itu seakan akan memberi clue jawaban atas pertanyaan mendasar pada tema diskusi Pasemuan Bebrayan bulan lalu, yaitu Mosi Tidak Percaya. Bahwa bisa dikatakan kita ini belum terbukti dan layak untuk mendapatkan kepercayaan dari Simbah. Untuk itu, pada tema kali ini Maiyah Pasemuan Bebrayan Cilacap mengangkat tema Sufipreneurship Ekasila sebagai urun kerangka berpikir dan landasan berpijak bagi jamaah dalam rangka mendapatkan kepercayaan, tidak hanya kepercayaan dari Simbah, tetapi syukur–syukur dari Rasulullah Saw dan Allah swt.

Sufi selama ini diidentikKan dengan jalan hidup yang anti terhadap dunia dan fokus pada akhirat. Sedangkan preneurship identik dengan kegiatan usaha dalam rangka mendapatkan dunia, tapi di sini sufi disandingkan dengan preneurship menjadi semacam paradoks yang dipaksakan untuk bersama. Pertanyaannya, apakah seorang sufi itu dilarang berniaga dunia, atau apakah seorang pengusaha itu pasti tidak berpikir akhirat?

Sementara itu apa makna Ekasila ? Menurut Kang Yasin, seorang Penggiat Maiyah Pasemuan Bebrayan Cilacap sebenarnya Pancasila jika diperas dan diambil sarinya maka hanya menjadi Ekasila, yaitu gotong  royong dimana gotong royong sendiri sudah mengakar kuat di dalam sanubari manusia Nusantara.

Lantas apa hubungannya antara Sufipreneurship dengan Gotong Royong sebagai Ekasila ? Apa yang bisa dicapai oleh kedua hal itu sebagai kerangka berpikir dalam menghidupkan benih–benih Maiyah?

Dalam Al-Qur`an, manusia digambarkan sebagai pohon, di mana terdiri dari akar, batang, daun dan buah. Akar dari kerangka ini adalah berpikir Sufipreneurship  di mana seorang sufi adalah orang yang merdeka, berdaulat, tidak terikat, mandiri sehingga dengan kemadiriannya ia bisa menghidupi dirinya sendiri dengan layak sebagai bekal untuk beribadah di dunia sehingga dunia tidak lagi menjadi beban baginya, tetapi justru menjadi kendaraan untuk meringkankan perjalanannya. Kemudian ketika akar berkumpul dan berkembang, akar bergotong royong membentuk batang pohon. Tanpa gotong royong di antara akar yang berjiwa Sufipreneurship maka tak akan tumbuh batang pohon yang kokoh. Hasil dari itu, terbentuklah daun yang rindang. Sekumpulan akar yang mandiri terus bergotong royong sehingga membentuk ke-mandoro-an. Sebuah organisme yang tak hanya soleh secara pribadi, tetapi soleh secara sosial yang puncaknya dihasilkanlah buah, yang bisa dinikmati semua.

Diskusi kali ini diadakan di Warkop Paradesa Kroya, tempat kediaman Pak Onos sebagai salah satu Penggiat Maiyah Pasemuan Bebrayan Cilacap, sekaligus sebagai pre launching dari Warkop tersebut yang nantinya tidak hanya berfokus pada transaksional duniawi tetapi unsur duniawi itu diakhiratkan dengan menjadikan Warkop tersebut sebagai pusat edukasi, ekonomi, budaya dan spiritual bagi warga sekitar di mana hal ini menjadi salah satu langkah kongkrit tumbuhnya benih Maiyah yang telah ditanam di Cilacap.

Apa yang disampaikan oleh Mbah Nun bahwa beliau ingin melihat apakah benih–benih Maiyah yang telah disebar selama ini akan menjadi tumbuh berkembang atau malah membusuk dan mati perlu segera disikapi, diinternalisasikan dengan baik oleh masing–masing jamaah. Pernyataan Simbah itu seakan akan memberi…