Sudahkah Kita Benar-Benar Kenal Manusia Muhammad Saw?

Reportase "Kuliah Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw", 20 Mei 2018

Maiyah Menggelorakan Intuisi Beragama Menjawab Tantangan Zaman

“Saya sangat kagum dengan cara Cak Nun menjelaskan Kebenaran, Kebaikan dan Keindahan. Ini adalah tafsir paling tepat, dan tidak terdapat di kitab mana-mana”. Kalau kalimat semacam itu diucapkan oleh kita-kita ini yang baru mengaji satu-dua kitab, atau kayak saya yang ngaji Bulughul Maram aja suka bolos di pondok, ya itu kalimat biasa. Tapi ini diucapkan oleh Syekh Nursamad Kamba yang telah mengkaji entah berapa banyak kitab dari beragam bidang.

Maiyah memang sangat radikal membangun kemesraan langsung tanpa tedeng aling-aling. Dan tanpa perantara antara manusia (paling awam sekalipun kalau mau ada istilah awam) dengan tuhannya. Tapi kalau tidak melalui perantara ulama yang paham, bagaimana kita bisa paham makna kata per kata dari Al-Qur`an?

Padahal sederhana. Gusti Allah tidak menuntut manusia untuk paham betul-betul. Maka yang dibutuhkan adalah sehatnya akal, tajamnya nurani, dan hidupnya intuisi beragama. Intuisi, bukan institusi.

Dalam pemerdekaan manusia, Maiyah jauh lebih liberal dari sekedar JIL-JIL-an dalam hal pemurnian “kembali pada Qur`an dan Sunnah”. Maiyah jauh lebih purifikatif daripada Wahabi paling puritan. Kuliah Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw pada malam itu pun begitu. Menurut Syekh Kamba, bila tidak di tengah Jamaah Maiyah, banyak hal yang tidak bisa diutarakannya. Namun di Maiyah, resonansi gelombanya cocok untuk membahas hal-hal yang mungkin cukup radikal menggugat pola pikir mainstream.

Peristiwa Sufistik

Tepat pukul 24.00 WIB acara berakhir. Namun para peserta tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bermuwajjahah dengan Sang Syekh. Adegan itu awalnya saya perhatikan dari jauh. Namun lama-lama saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menceburkan diri pada samudera kebijaksanaan yang mengalir deras.

Adegannya, mungkin tampak seperti lukisan-lukisan Persia. Dengan lekuk-lekuk indah yang melantun dari warna-warna lembut. Malam itu saya seperti masuk dalam lukisan sufi. Di mana Sang Guru duduk dengan tatapan teduh, menyapu seluruh muridnya. Seperti lukisan sufi yang di sudut-sudut piguranya selalu ada garis menggelombang ghiroh para murid menimba dan terus menggali. Dan sang mursyid tetap sejuk dan sabar membimbing pemahaman tiap kedirian. Menemukan titik imbang dari setiap pemahaman.

Sedangkan Sang Mursyid dalam lukisan Persia imajiner kreasi otak saya ini, berulangkali terdiam. Diam yang penuh kebijaksanaan yang jauh melampaui ribuan kata-kata. Mengajak menyelam pada lapis-lapis pemaknaan.

Tak jarang Syekh Nursamad mengungkapkan, betapa bersyukurnya zaman ini, negeri ini, dianugerahi Maiyah dan sosok Mbah Nun. “Semua yang disampaikan Cak Nun itu adalah intisari seluruh ajaran tasawuf”, ungkap beliau.

Pertemuan sufistik ala lukisan Persia itu kemudian dengan berat hati disudahi oleh para murid. Ketika waktu telah menunjukkan pukul 01.30 WIB. Kita juga perlu berpuasa pada gairah ilmu itu sendiri bukan? Karena kalau dituruti, kenikmatan mereguk ilmu malam itu mungkin tidak akan selesai hingga jangka waktu entah kapan.