Sudahkah Kita Benar-Benar Kenal Manusia Muhammad Saw?

Reportase "Kuliah Sejarah Otentik Nabi Muhammad Saw", 20 Mei 2018

Apakah Agama Menurut Manusia Muhammad Saw?

Apakah sesungguhnya agama? Ini pertanyaan dasar. Karena satu pertanyaan ini akan membawa pada pertanyaan turunan. Misal: cara kita memaknai agama. Kemudian akan berpengaruh pada konsep kita mengenai siapa, apa dan bagaimana itu spesies manusia yang disebut ahli agama? Kalau agama adalah ruang pertapaan, maka agamawan adalah yang bertapa paling lama di ruangan itu bukan? Kalau agama adalah sekumpulan hukum, maka agamawan adalah orang yang paling menguasai hukum-hukum.

Bila agama adalah jumlah tumpukan kitab, dan serangkaian alat perangkat ilmu, maka agamawan adalah orang yang paling bisa mengakses pada sumber wacana. Bila agama adalah jumlah bacaan rapalan dzikir, wirid dan ritualan, maka agamawan adalah yang paling banyak menumpuk jumlah ritual tersebut. Ini bisa kita runtut dan perlebar lagi. Intinya, apakah agamawan adalah kaum yang tercerahkan, sementara ummat awam hanyalah sekumpulan daging yang termendungkan? Masa gitu? Gitu juga ndak apa-apa sih.

Tapi dalam Islam, dengan kecintaan kita terhadap sosok baginda Nabi Muhammad Saw, konsep kita mengenai apa itu agama bukanlah hal yang benar-benar penting. Yang utama adalah, apa sih agama menurut Kanjeng Nabi sendiri?

Satu-satunya manusia yang punya otoritas terhadap Islam adalah Kanjeng Nabi sendiri. Namun Islam tidak dinamakan sebagaimana nama Muhammad. Walau Hurgronje berupaya agar kaum muslimin melekatkan nama “Mohammadan” sebagai identitas dirinya, namun proyek eksperimen sosial itu dirasa gagal. Hurgronje kemudian menyadari bahwa kisah-kisah Muhammad Saw yang sangat manusiawi adalah benteng yang tidak disadari oleh ummat muslim sendiri.

Di kemudian hari, Hurgronje menggubah eksperimen sosialnya dengan cara mengangkat sosok “orang-orang keramat”. Mendorong pemerintah untuk menyemarakkan makam-makam suci dalam tradisi masyarakat. Seraya memasukkan Pan-Islamisme (yang juga telah dipotong akses informasinya dengan politik global). Sehingga tercipta konflik dalam lingkup yang sempit. Kita berada pada pucuk zaman yang telah ditabur oleh orientalis sejak seabad lalu. Ini sekadar tambahan dari saya saja.

Namun rupanya penyampaian Syekh Nursamad mengkonfirmasi telaahan saya atas beberapa bahan bacaan. Menurut Syekh Nursamad, pemahaman kita mengenai apa itu agama telah jauh dari pemaknaan agama menurut Kanjeng Nabi sendiri. Agama, rupanya bukan hal yang muluk-muluk bagi Sang Manusia Teragung Muhammad Saw. Agama adalah kemandirian berpikir tiap individu, akal dan nurani dalam mengolah persoalan hidup sehari-hari.

Maka bila begini, bisakah kita katakan juga bahwa sesungguhnya kaum ulama yang sering disalahartikan sebagai spesies agamawan dalam Islam, semestinya adalah orang yang sangat teruji dalam hidup yang wajar? Baik secara individu maupun dalam bersosial. Menurut Syekh, formulasi syariah baru kemudian muncul sekitar 1,5 abad pasca era Rasulullah Saw.

Meloncat Dari Akuarium Raksasa, Mesralah Dengan Allah

Syekh Nursamad menyampaikan bahwa pemahaman kita terhadap agama selama ini dikungkung oleh legitimasi wacana yang dilahirkan pada masa-masa daulah Islam telah menjadi kekuasaan politik yang membatu. Perandaiannya adalah, kita ummat muslim seperti ikan hias yang beragam. Namun terkurung dalam sebuah akuarium raksasa. Berabad-abad, tak ada keberanian untuk melihat apalagi meloncat keluar dari dinding akuarium itu.

“Maiyah adalah cara bagi ikan-ikan hias itu untuk meloncati pagar dan melihat dunia yang lebih luas dari doktrin mainstream selama ini”, ungkap Syekh. Doktrin, yang tidak dirasa sebagai doktrin. Yang dimulai pemadatannya sejak era Abbasiyah. Walau potensinya telah tertanam sejak era Muawwiyah, bahkan sebelumnya.

Pemadatan formalisme syariah ini, yang kemudian mengukuhkan posisi beberapa gelintir orang sebagai pemegang sah legitimasi hukum dalam beragama. Singkatnya, pasca era Manusia Muhammad Saw, kesadaran beragama kita kembali ke era berabad-abad sebelumnya. Era shamanism, di mana shaman adalah perwakilan suara langit yang tidak mungkin salah. Kalau dibantah bakal kualat. Ekstremnya, Syekh Nursamad bahkan berkata bahwa metode Ijma’ adalah selayaknya konsili dalam agama Romawi.

Efeknya? Kaum muslimin jadi berjarak dengan sumber pengetahuannya sendiri, yakni Al-Qur`an. Seolah ada pagar bagi tiap individu untuk mengelaborasi kitab sucinya untuk dikontekstualisasikan dengan pengalaman hidupnya.

Saya ingat Mbah Nun pernah berkata, “Sekarang ini, terlalu banyak pengalaman subjektif yang dipaksa untuk diobjektifkan”. Padahal agama, apalagi Islam adalah pengalaman mesra individu dengan tuhannya. Bercinta itu memang harus intim, tanpa perantara siapa-siapa. Peran wali (nikah) cukup sampai adminiatrasi saja. Meminjam istilah Mbah Nun: “Sama Allah itu yang mesra”.

Tentu dalam kuliah ini terjadi tanya-jawab dan dialog. Pada momen seperti ini, saya biasanya akan menahan diri untuk bertanya. Inginnya sih mengintai diam-diam dari sudut sunyi sambil meresapi nuansa sekitar. Tapi kesempatan untuk menggali langsung pada Syekh Nursamad Kamba, adalah godaan yang tidak bisa saya lawan lagi. Terutama ketika melihat Mas Helmi Redma juga ikut bertanya. Wah, makin blong rem saya. Karenanya, catatan mengenai pertanyaan-pertanyaan agak luput aaya detialkan. Saya hanya sempat mencatat dalam ingatan, ada penanya dari “Rizal Gitu yah”, “Lien bersuara ngebass” (“Maaf suara saya agak ngebass”, katanya). Juga dari “Dwi yang keluar dari buku”. Dan banyak penanya lain.

Kalau kita rangkum, hampir seluruh pertanyaan berkutat pada betapa melesetnya informasi tentang Islam yang kebanyakan diterima selama ini. Baik dari sosok Muhammad Saw yang dikisahkan tidak manusiawi, jadi tampak seperti manusia setengah dewa. Sampai pada pemahaman mengenai syariat. Mas Helmi justru agak nempel pertanyaanya di kepala saya.

Mas Helmi bertanya soal kata otentik itu sendiri. Bagaimana menilai otentisitas itu, padahal otentik hanya bisa ditangkap bila tak ada selubung. Pernah satu kali, Mas Helmi bertanya pada Syekh Nursamad mengenai Islam dan politik. Dari cerita Mas Helmi, saat itu Syekh bilang Muhammad Saw tidak mengharapkan ummat untuk meniru total sikap dan prilakunya. Melainkan menjadikan model tata kelola masyarakat di Madinah sebagai uswah. Ada perbedaan mendasar antar uswah dengan model copy paste.

Buku Cak Nun