Suasana Urip Sesemutan

Liputan Sinau Bareng di Perum Griya Wiharta Asri, Gresik, 22 Oktober 2018

Pada hari H menjelang berlangsungnya Sinau bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng di Perumahan Wiharta Desa Sekarkurung Kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik, terlihat beberapa panitia dibantu warga setempat bahu-membahu menyiapkan berbagai hal guna terselenggaranya acara ini secara apik. Saya pun ikut merasakan atmosfer yang menunjukkan konsep Urip Sesemutan ini.

Sinau Bareng kali ini dilatarbelakangi oleh inisiatif (Alm.) Bapak Arman Kurnianto yang ingin menggelar suatu kegiatan yang dapat menyatukan warga Desa Sekarkurung. Hajat tersebut sebenarnya sudah lama, sejak beliau masih sugeng. Lantas, hajat beliau dilanjutkan oleh istrinya, yaitu Ibu Erni Indriyani. Hajat tersebut dapat terlaksana sekarang, malam ini.

Sinau Bareng kali ini, sebagaimana dicita-citakan almarhum, disengkuyung segenap warga, terutama para pemuda setempat. Panggung sudah berdiri megah sejak dini hari tadi. Sejak siang mulai dilakukan pemasangan banner di panggung, menata posisi alat-alat musik KiaiKanjeng, menyempurnakan ikatan banner agar tidak tersapu oleh angin, dan lain sebagainya.

Memasuki sore hari, situasi dan kondisi semakin ramai. Persiapan semakin diintensifkan. Warga Desa Sekarkurung di luar kompleks Perumahan Wiharta “kebagian tugas” menyiapkan lahan parkir. Lagi-lagi, mayoritas mereka adalah pemuda. Di depan panggung tertata dua layar proyektor besar berukuran 3×4 meter, dengan jarak berkisar 100 meter. Karpet-karpet berjejeran di depan panggung, terhampar pula terpal warna-warni digelar sebagai tempat duduk para jamaah yang hadir malam ini. Guna antisipasi meledaknya kuantitas jamaah yang hadir, dipasang pula satu layar proyektor di belakang panggung yang berjarak kurang lebih 10 meter. Sinau Bareng ini disambut antusias oleh warga sekitar, beberapa ibu-ibu berkostum seragam juga sudah menyiapkan diri duduk di depan panggung. Rombongan KiaiKanjeng terlihat hadir bakda Maghrib. Setelah istirahat sejenak, dilanjut dengan persiapan cek sound di atas panggung.

Sebagai catatan tambahan, dalam setahun terakhir, tak kurang dari sepuluh kali KiaiKanjeng hadir di Kota Gresik ini. Tak pelak, fenomena ini tentu mengundang rasa ingin tahu lebih dalam, hal apa gerangan yang mendorong masyarakat Gresik begitu merindukan kehadiran Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Satu hal lagi, di manapun acara Sinau Bareng digelar, selalu saja dipanitiai oleh anak-anak muda. Barisan terdepan pun, dipenuh sesaki olah kaum yang belakangan sering disebut generasi milenial. Seperti halnya malam ini, sejak bakda Maghrib arek-arek enom sudah mengkapling tempat duduk di depan panggung. Tampaknya mereka rindu akan Majelis ilmu Maiyah dengan segala suasana yang ada di dalamnya.

Dengan berpayung tema “Dunga Dinunga Sambung Paseduluran Yudharta Bartabur Budaya”, semua yang hadir Sinau Bareng malam ini telah bersiap menikmati kebersamaan bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Saya melihat uncahan kesemarakan dalam mensyukuri keragaman, meniti jembatan budaya, yang berselimut spirit saling mendoakan. (Febrian Kisworo Aji)

Buku Cak Nun