Stand Up Comedy di Rumah Maiyah

Liputan "Pitutur Nglantur" Syini Kopi, 23 Oktober 2018

Seorang kawan pernah berseloroh, bahwa Maiyah itu bisa saja adalah pelopor stand-up comedy di dalam negeri. Kawan saya yang tidak mau saya sebutkan namanya itu, seorang yang cukup banyak pengalamannya di bidan event organizer, sesekali dia ke Mocopat Syafaat kalau sempat. Saya ingat itu obrolan beberapa tahun lalu ketika stand-up comedy sedang baru-barunya booming.

Pernyataan kawan saya ini cukup berdasar, pertama menurutnya Maiyah punya kelengkapan instrumen untuk disebut stand-up comedy, misal pengkajian dengan penuh pada satu bahasan sampai holistik hingga memuncak dengan bisa menertawakannya. Kedua, bangunan logika. Humor dalam salah satu teorinya adalah penguasaan logika untuk kemudian dibenturkan sehingga membangkitkan imaji-imaji yang kontras, ironis, keluar dari logika linier. Tapi kita tinggalkan saja dulu elaborasi dari Edo, kawan saya yang tadinya tidak mau saya sebut namanya itu, tapi saya berubah pikiran.

Edo Pradana itu tidak nampak batang hidungnya pada acara Pitutur Ngelantur yang diadakan di Syini Kopi malam itu. Syini Kopi sendiri kita tahu, bertempat di pekarangan Rumah Maiyah, di terasnya Perpustakaan EAN. Rumah Maiyah kita tahu, adalah tetangganya NKRI. Hiruk-pikuk dan karut-marut keributan negara tetangga itu, tidak begitu berpengaruh di Syini… eh di Rumah Maiyah. Ini memang menyelipkan sedikit anarkis tipis-tipis, tapi anarkisme di Maiyah tidak dramatis ingin revolusi atau gugat-gugat sembarang merubuhkan negara juga. Buat apa? Urusan tetangga biarlah orang urus sendiri. Hanya sesekali kita komentar kalau terlalu gaduh, namanya juga tetanggaan.

Nah, Edo tidak tampak padahal via WA dia antusias sekali bilang mau datang waktu lihat poster acara ini saya share. Mungkin karena dia lihat ada nama-nama yang cukup beken di kalangan pergaulan Yogya, seperti misalnyya Alit Jabang Bayi, dan Anang Batas sebagai MC. Edo memang senang memperhatikan fenomena pop-culture Yogya, dinamika gaul-gaul guyubnya mahasiswa serta fenomena kekinian. Mungkin karena seperti juga saya, Edo bukan anak gaul. Gaul bagi kami, rasanya seperti Indonesia kepada kedaulatan, yah artinya hanya angan-angan yang tak ada tanda-tanda akan kesampaian.

Jadilah malam itu, Selasa tanggal 23 Oktober 2018 M, sementara di Jombang Mbah Nun dan KiaiKanjeng sedang membersamai Padhangmbulan yang sedang berulang tahun. Sedangkan New York sedang bersalju (kebenaran jurnalistik adalah kebenaran verifikatif, siapa juga yang mau memverifikasi soal New York lagi bersalju atau tidak, kurang kerjaan aja), maka Rumah Maiyah dipadati oleh kalangan gaulnya Yogyakarta. Rata-rata mahasiswa. Kalau perempuan mahasiswi. Hanya itu ada satu yang kurang jelas juga jenis atmosfer maskulin-femininnya seorang mahasiswa UKDW bernama Dimas yang memberanikan diri–bukan, bukan memberanikan diri–tapi dengan sangat pede naik ke panggung karena ngefans gila-gilaan pada Mas Alit Jabang Bayi. Kisah cinta Dimas dan Alit akan menjadi satu novel roman sendiri yang tak habis dipisuhi sepanjang masa. “Dimas! Woconen kisah bangsa Sodom dan Gomorah!” bentak Alit mesra. Malam itu memang penuh kemesraan, canda tawa.

Walau acara ini diprakarsai oleh Letto sendiri, namun Mas Sabrang rupanya baru belakangan paham bahwa dirinya harus menjadi seorang komika pada malam hari ini. Kesempatan langka sekali menyaksikan Mas Sabrang “Noe Letto” tampil sebagai stand-up comedy-an. Begitu pun semua personel Letto, termasuk juga Mas Darto. Stand up comedy bagaimanapun memang ajang ece-ecenan dan itulah yang terjadi pada malam itu di antara tiga MC. Juga bisa saja “Weee bedo agama weeeee… rasah dijak dolan weee” atau bahkan Letto sendiri sebagai penggagas dijadikan bahan roasting. Ada prinsip yang bekerja dalam umumnya dunia humor dan stand-up comedy, bahwa Anda bisa bicara apa saja asal lucu. Cuma persoalan menjadi agak ribet setelah media sosial menyerang. Tapi di sini kita kembali ke kedaulatan offline dulu.

Panggung berdiri bersebelahan dengan warung Syini Kopi, jarak antara panggung dengan kasir tak jauh. Itu membuat apa-apa suara dari kasir terdengar ke panggung, kadang menjadi distorsi di tengah acara. Syini Kopi menerapkan sistem pesan-panggil malam itu untuk mengakali banyaknya pesanan, hadirin sampai berjubel ke luar pagar. Kalau pembaca yang budiman pernah punya ide untuk ngisengin warung yang menerapkan sistem “pesan-panggil” dengan memberikan nama pemesan yang agak nyeleneh misal “Agama”, biasanya sambil berharap saat dipanggil akan terdengar seruan kasir “Atas nama: Agama!” percayalah itu ide sejuta ummat. Hanya satu dua orang yang berani merealisasikannya.

Tapi malam itu, kadang panggung sedang membahas sesuatu, tiba-tiba… Kring!!! “Atas nama Bambangggg!”  jadilah kadang Alit dan Anang Batas mengamuk “Mas! Gelut wae po piye?!!!”

Buku dan Merchandise