Slulup Ing Banyu Bening

Mukadimah Suluk Surakartan Februari 2018

Dalam menjalani kehidupan, manusia bisa diumpamakan seperti ikan-ikan yang berenang dalam perairan di alam bebas. Ia mengalami berbagai keadaan dalam perjalanannya, seperti bertemu dengan arus yang deras, menikmati kedung yang tenang, menghiasi air yang bening, maupun berjuang di air yang keruh. Masing-masing keadaan akan memberi pengaruh bagi kehidupan si ikan itu sendiri.

Peradaban modern saat ini dapat diumpamakan seperti air keruh yang berarus deras. Ikan-ikan yang berenang di dalamnya menghadapi keadaan yang sulit, selain tekanan arus yang deras, juga dihadapkan pada kondisi air yang tidak jernih. Air keruh adalah air yang kandungan oksigennya rendah. Hal ini membuat ikan tidak bisa bernafas seleluasa di air yang bening. Bahkan dalam kondisi yang ekstrem ikan-ikan bisa mengalami mabuk dan lemas karena guncangan arus air dan minimnya oksigen yang diserap.

Itulah yang sekarang sedang terjadi di kehidupan manusia. Sebuah peradaban mabuk yang minus nilai-nilai kebijaksanaan hidup. Di mana-mana kita temui 3C, cupet, cekak, dan cethek. Manusia mengalami kesempitan cara berpikir, tidak memiliki jangkauan wawasan yang jauh ke depan, dan tidak memiliki kedalaman dalam menggali sesuatu. Budaya instan telah membuat manusia-manusia zaman now mengalami kerusakan sistem internal mereka. Sehingga peradaban manusia saat ini tidak ubahnya seperti mayat hidup saja, alias zombie.

Melihat kenyataan seperti ini, Jamaah Maiyah perlu melakukan tadabbur atas kehidupan ini secara lebih mendalam. Jika peradaban modern tadi diumpamakan sebagai air keruh yang berair deras, maka Jamaah Maiyah harus berupaya menemukan air jernih, syukur-syukur yang berarus deras. Air jernih yang berarus deras memiliki kadar oksigen yang sangat tinggi. Oksigen ibaratnya adalah nilai-nilai dan hikmah kehidupan yang sangat dibutuhkan agar menghasilkan kehidupan yang berkualitas.

Jika kita tidak bersungguh-sungguh mencari air jernih yang berarus deras itu, maka lama-lama kita akan menjadi ikan yang nyaman dalam air keruh berarus deras. Kenyataan ini akan sangat menyedihkan di mana kita menjadi manusia yang sangat mendewa-dewakan kehidupan modern, kemudian kelak mengalami kerusakan karena kelalaian kita sendiri. Kesungguhan mencari air jernih ini dapat diumpamakan seperti ikan yang slulup.

Slulup adalah upaya mencari lebih dalam dan lebih dalam lagi tentang rahasia dari perairan di alam bebas. Air keruh biasanya terdapat di permukaan karena berbagai faktor dari luar, sebelum akhirnya mengalami pengendapan ketika dalam keadaan tenang. Air yang bening biasanya berada di bagian yang lebih dalam. Maka dari itu, sebagai ikan-ikan di peradaban zaman now, kita harus bergerak aktif untuk slulup sehingga berhasil menemukan banyu bening. Jika kita berhasil slulup ing banyu bening, niscaya kita akan selamat dari jebakan kerusakan yang ditawarkan oleh peradaban modern seperti saat ini.

Dalam menjalani kehidupan, manusia bisa diumpamakan seperti ikan-ikan yang berenang dalam perairan di alam bebas. Ia mengalami berbagai keadaan dalam perjalanannya, seperti bertemu dengan arus yang deras, menikmati kedung yang tenang, menghiasi air yang bening, maupun berjuang di air yang keruh.