Sinau Nusantara KH Ahmad Dahlan, Al-Fatihah dari Rumah Maiyah

Catatan Diskusi Sewelasan Perpustakaan EAN, 11 November 2018

Pak Yudi, salah satu sesepuh kita yang aktif di MPM Muhammadiyah melengkapi pembabaran Mas Haidar malam itu dengan kiprah pergerakan Muhammadiyah yang faktual cepat saja saya terkoneksi dengan pemaparan Pak Yudi, karena mertua saya juga seorang penggerak Muhammadiyah di desa. Rasa memiliki terhadap pergerakan, perjuangan-perjuangan pemberdayaan ekonomi dari hal paling kecil hingga bagaimana peta pangan nasional dibabarkan oleh Pak Yudi.

Hingga saat ini Muhammadiyah mungkin yang paling terselamatkan dari fenomena organisas jatuh pada kesadaran simbolik. Tentu dasar-dasar pijak dari kuda-kuda yang diwariskan KH Ahmad Dahlan sangat berpengaruh. Semua organisasi, kumpulan atau pergerakan bisa jatuh pada kesadaran simbol belaka, apabila dia telah kehilangan keberfungsian sosialnya. Di situlah “anfa’uhum linnas” sangat urgen adanya. Karena bila keberfungsian itu tidak jalan, maka orang cenderung membikin-bikin, minimal dalam pikirannya sendiri. Persoalan yang dapat dia tangani dan persoalan paling mudah ditangani–karena tidak membutuhkan penalaran yang mendalam–adalah persolan simbol. Bermulalah perang ideologi yang sama sekali tidak ideologis secara sikap batin. Begitulah kita lihat makin ramai perdebatan, puja simbol mapun bakar simbol.

Tampaknya bagi Pak Yudi, Muhammadiyah bertahan di jalan sunyi yang tenteram ketimbang jalan ramai mencekam. Jalan sunyi keberfungsian, itulah yang masih dijalani oleh Pak Yudi dan rekan-rekan di Muhammadiyah. Seperti Kiai Ahmad Dahlan, nama beliau juga tidak menjadi satu rezim dan dinasti. Bukankah Muhammad Saw juga tidak menjadikan nama beliau sebagai rezim keturunan, dan bahkan tidak membaiat murid walau beliau adalah manusia yang paling pantas untuk mengangkat murid? Muhammadiyah berhasil mencontoh Muhammad Saw dari sifat-sifat yang seperti ini; egaliter, ijtihad dan rasional. Pak Yudi walau seorang Muhammadiyah tulen ini seorang perokok juga dan itu sah-sah saja.

Begitu itu sebenarnya manusia desa, Jawa, Nusantara. Masyarakat yang mengedepankan istilahnya emergence, peran dalam komunalitas. Masyarakat yang minim residu, karena hampir tidak punya kesadaran buang, tapi mengolah kembali atau menyedekahkan sisa produksi ke laut dan sungai. Ini jadi buruk ketika modernitas melanda, karena misalnya, masyarakat yang dulunya tidak mengenal sampah plastik bisa dengan leluasa ‘menyedekahkan’ sisa produksi pada sungai dan laut. Justru kebiasaan itu terbawa menjadi buang sembarangan sampah ke kali. Dulu itu tidak menjadi soal karena limbahnya bersifat organik.

Persoalannya, zaman sudah berganti dan masih akan terus berganti. Maka ijtihad perlu dilakukan, bukan sekadar penempelan pada budaya dan tradisi karena kadang tradisi bisa saja hilang kalau tidak punya keberfungsian di masyarakat apalagi kalau mulai merugikan. Manusia desa sangat siap pada perubahan seradikal apapun, siap negaranya ada atau tidak ada, menjadi sistem kerajaan, komunis atau khilafah tidak pernah masalah karena yang paling penting bagi mereka adalah alam dan sosial komunal. Masyarakat yang dinamis pada zaman tapi punya memori yang kuat pada masa lalu.

Kiai Ahmad Dahlan bisa kita katakan adalah jenius Nusantara. Nusantara yang bukan dijadikan kubu ideologi sendiri, tapi pada sikap, kelincahan, ijtihadi, kemampuan membuka ruang-ruang komunikasi baik ke Boedi Oetomo, ke Jam’iyatul Khaer di Batavia, menganjurkan Ki Hadjar membuka lembaga pendidikan, jadi bagian Sarekat Dagang Islam, bahkan mengundang Sundari sebagai orator perempuan dari SI Merah.

Saya ingin tambahkan, walau tidak dibahas pada malam ini bahwa KH Ahmad Dahlan juga berangkat pada mu’tamar kekhalifahan Islam yang versi Mesir, ketika pasca runtuhnya Utsmani, beberapa (yang merasa) pusat Islam berlomba-lomba menegakkan legitimasi khilafahnya sendiri-sendiri. Mekkah mengadakan kongres ulama, mengundang Tjokroaminoto sebagai perwakilan SI, sementara kubu ulama tua mengirim delegasi sukarela.

Kemampuan menakjubkan manusia Nusantara adalah membuka ruang-ruang silaturrohim, tanpa mendramatisisr kesetujuan maupun ketidaksetujuan. Itu yang saya tangkap dari berbagai pemaparan Mas Haidar, Pak Yudi dan tentu juga dari Bu Roh pada malam hari itu.

Bahwa kita bisa belajar bagaimana menghadapi modernitas dengan jiwa Nusantara dari sosok KH Ahmad Dahlan, dan begitu itu yang saya dapati di berbagai majelis, lingkar mapun simpul-simpul Maiyah. Malam ini kita belajar menjadi manusia Nusantara kembali pada sosok KH Ahmad Dahlan dan saya yakin dari Rumah Maiyah malam itu melantun samuder al-fatihah untuk beliau.

Lainnya

Buku dan Merchandise